Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 164 Rekayasa Elsa Dan Reksadana


__ADS_3

Sovia begitu kaget karena mendapati Elsa, gadis yang pernah sangat dekat dengan Andika ada di hadapannya dengan penampilan yang sangat kacau. Rupanya gadis itu setelah diputuskan oleh Andika malah mendatanginya di Resto D'Sov.


"Mau pesan sesuatu Els?" tanya Sovia sembari tangannya memberi kode pada waiters nya agar segera mendekat ke meja mereka.


"Tidak, aku cuma mau kamu tidak melanjutkan hubunganmu dengan Andika." jawab Elsa to the point langsung ke inti pembicaraan dan tak ada basa-basi. Seketika Sovia langsung melongo kaget. Ia segera mengibaskan tangannya dan meminta waiters tadi untuk pergi lagi dari sana. Ia sudah mencium aroma tidak mengenakkan disini.


"Oh gitu ya? tapi kenapa?" tanya Sovia pura-pura tidak terpancing. Ia berusaha menahan rasa tidak nyaman di hatinya.


"Ya, karena Andika milik aku. Dan ia sudah berjanji akan menikahiku." Elsa dengan percaya dirinya menjawab meskipun hatinya meragukan sendiri semua kata-katanya.


"Oh selamat deh kalau gitu, artinya kamu akan jadi sepupu aku dong." jawab Sovia berusaha tetap tenang. Ia bahkan menyalami tangan Elsa dengan senyum merekah. Elsa melongo tidak percaya kalau Sovia bisa setenang itu. Padahal ia sudah berniat dalam hati kalau ia tak mau sakit hati sendiri. Sovia harus ikut menderita dari keputusan Andika.


"Pesan deh makanan kesukaanmu. Aku kasih gratis." ujar gadis itu lagi dengan semangat. Elsa menggeleng kemudian berdiri dari duduknya.


"Aku pamit. Terima kasih karena sudah mendukung hubungan kami. Semoga kamu dapat jodoh terbaik." ujar Elsa kemudian melangkah keluar dari Restoran itu dengan hati yang bertambah sakit.


"Andika! bahkan perempuan itu mau saja menyerahkanmu padaku tapi kenapa? kamu malah memutuskan aku?" ujarnya dalam kesedihan. Tangannya meremas udara kesal. Ia jadi punya semangat lagi mendapatkan Andika bagaimana pun caranya.


Sementara itu di sebuah ruangan manager Resto D'Sov, gadis muda yang menjadi manager Restoran itu menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya. Ia tak bisa menahan sakit hatinya mendengar pengakuan Elsa. Dengan bahu bergetar menahan tangis ia menghibur dirinya sendiri kalau Andika memang bukan jodohnya.


🍁


Rara mendatangi kantor Polisi tempat papanya ditahan. Ia berniat menebus dana yang telah digelapkan itu tanpa memberi tahu mamanya terlebih dahulu. Dengan menggunakan uang dari Rama Putra ia lantas memasuki kantor itu dengan sebelumnya memarkirkan motor ninjanya di parkiran Polrestabes.


Ia belum membuka helm bungkus dari kepalanya dan malah melihat suatu pemandangan yang membuatnya gemetar takut. Di sana ia melihat Tuan Reksadana dan cucunya itu sedang berbicara enam mata bersama seorang polisi yang selama ini mengurusi kasus papanya. Tiba-tiba sebuah kecurigaan muncul dari dalam hatinya.


Karena takut akan bertemu kedua orang itu ia langsung naik lagi ke motornya dan segera keluar dari lokasi kantor polisi dan berniat membicarakan ini dengan mamanya di rumah.

__ADS_1


"Ma, mama..."Teriaknya ketika baru sampai di rumahnya. Ia sudah lupa memberi salam karena terlalu bersemangat ingin menyampaikan sebuah informasi kepada mamanya.


"Rara, kenapa sampai teriak-teriak begitu?" tanya grannynya yang baru keluar dari kamarnya.


"Granny? kapan datang dan sama siapa?" tanya nya beruntun. Granny menatapnya sendu kemudian berucap.


"Mamamu menelpon kalau papamu sedang tertimpa musibah dan juga Reksadana sudah menghubungi ku beberapa menit yang lalu." Tubuh Rara menegang seketika. Rupanya urusan ini memang ada hubungannya dengan si Reksadana itu.


"Duduklah dulu nak." ujar granny sembari menyentuh lengan cucu perempuannya itu. Rara tidak langsung duduk.


"Maaf granny, aku ke dalam dulu nyimpan tas ini." jawab Rara kemudian masuk ke kamarnya dan menyimpan tas besar berisi uang 2 M milik Rama Putra itu. Ia berpikir akan mengembalikan uang itu secepatnya pada yang punya setelah melihat apa yang terjadi tadi di kantor Polisi. Uang sebanyak ini tidak akan aman ditinggalkan di dalam rumah.


"Apa ada yang ingin granny sampaikan?" tanya Rara setelah mengunci pintu kamarnya. Ia sekarang duduk berhadapan dengan grannynya di ruang keluarga.


"Kamu masih ingat Tuan Reksadana kan?" tanya Nyonya Wardah sembari menggenggam tangan cucu perempuan satu-satunya itu. Rara mengangguk dengan hati menduga-duga akan kelanjutan cerita grannynya akan ada hubungannya dengan kasus yang menimpa papanya.


"Kau tahu? ia melihatmu beberapa hari yang lalu dengan tampilan rambutmu yang asli. Jadi kau pasti tahu kelanjutan cerita ini." Nyonya Wardah memeluk tubuh Rara kemudian mencium pipi cucu perempuannya itu dengan sayang.


"Jadi? kasus papa ini hanya sebuah rekayasa?" tanya Rara dengan suara bergetar. Grannynya mengangguk dan membuat air mata gadis kriwil itu malah semakin tumpah. Entah sedih atau bahagia yang dirasakannya.


"Dan apa katanya pada granny?" Rara menyusut air matanya kemudian menatap mata tua grannynya menunggu jawaban meskipun hatinya sudah menduga ia akan bertemu dengan si brengsek Alif itu lagi.


"Kamu harus menikah dengan cucunya atau papamu tak akan bisa bebas sayang, mereka mencari banyak cara untuk mengikatmu."


"Meskipun aku mendapatkan uang 2 M itu?"


"Iyya meskipun kamu mendapatkan uang tebusan. Mereka akan mencari cara lain untuk memaksamu." Rara menarik nafasnya berat. Ia tak ada jalan lain. Ia seperti sedang berada di sebuah lorong buntu. Kemanapun ia berlari ia tetap tidak akan bisa lolos.

__ADS_1


"Kasihan Papa." ujarnya pelan. "Semoga dengan keputusanku ini bisa mengembalikan nama baiknya."


"Baiklah granny aku akan menerima pernikahan ini." lanjut Rara dengan suara mantap. Ia tak mau jadi gadis lemah. Ia harus bisa membuat semua orang bahagia meskipun hatinya yang akan hancur jika menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai.


"Terima kasih sayang." Nyonya Wardah memeluk kembali cucunya itu dengan deraian air mata.


"Hey ada apa ini?" tanya Dyah yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Mama..." Rara menghambur ke pelukan mamanya sambil menangis sesenggukan. Seberapa kuat ia berusaha untuk menerima tetap saja ia merasa rapuh.


"Ada apa sayang? apa sesuatu terjadi sama papamu?"


"Papa akan bebas ma. Sebentar lagi." jawab Rara dengan suara bergetar.


"Alhamdulillah sayang. Mama juga bilang apa kalau papa itu tidak bersalah." ujar Dyah tersenyum senang lalu melanjutkan.


"Untungnya makelar itu tidak berhasil mendapatkan pembeli rumah ini, Hem."


"Iya ma. Rumah ini tak akan kita jual. Ini rumah hasil kerja halal papa, hiks."


"Betul sayang." Rara tiba-tiba melepaskan pelukan mamanya. Ia pamit ke tempat Rama Putra untuk mengembalikan uang 2 M pembayaran asuransi sakit hati itu. Bagaimana pun juga ia tidak berhak akan uang sebanyak itu. Ia bahkan belum pernah memberikan pelayanan yang diinginkan oleh pria muda itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like, Like, Komen dan Komen...Adakah Vote dan hadiah???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2