
Gisel Singkilaya menggeram kesal melihat keharmonisan keluarga baru itu. Ia tak rela melihat Gala Putra Raditya mantan bosnya itu bahagia. Ia masih sakit hati atas penolakan bosnya itu padahal ia sudah mempersiapkan diri dengan matang yang kemudian malah dipecat tanpa pesangon maupun bonus. Sungguh menyakitkan.
"Sayang kamu kenapa? dari tadi manyun mulu, gak cantik lagi dong," ujar Gilbert sembari mentoel dagu Gisel. Ia heran dengan perubahan suasana hati pacarnya secara tiba-tiba begitu.
"Aku gak suka lihat mereka ada di sini," jawab Gisel merajuk.
"Mereka siapa sayang?"
"Karyawan TGR dan Bosnya itu."
"Lho, kenapa? mereka kan membawa keuntungan besar pada resort ini sayang, Perusahaannya membayar mahal tempat ini," jawab Gilbert santai lalu ia melanjutkan," Semakin banyak pemasukan maka semakin banyak pula uang jajanmu, cantik. Kamu bisa membeli apa saja yang kamu mau,"
Gisel berusaha tersenyum walaupun hatinya masih sangat kesal.
"Gimana?" tanya Gilbert sembari meremas tangan Gisel di atas meja. "Aku menginginkanmu sayang," ujarnya lagi.
"Aku lagi gak mood ini,"
"Dari semalam kamu bilang gak mood terus, apa ada laki-laki lain hah?" suara Gilbert sudah mulai meninggi karena marah keinginannya ditolak. Cepat-cepat Gisel memeluk dan menciumnya dengan semangat. Ia takut kalau Pria ini marah alamat pundi-pundi uangnya tidak akan terisi.
__ADS_1
"Okey, sayang...tapi ada syaratnya." ujar Gisel disela-sela ciumannya. Gilbert mengangguk patuh ia begitu mencintai Gisel hingga rela meninggalkan anak dan istrinya demi perempuan semangka jumbo itu.
"Kamu harus memperkenalkan aku kepada mereka kalau aku adalah calon istrimu," dengan mantap Gilbert mengangguk demi sebuah kenikmatan yang akan ia dapatkan jika bersama Gisel yang sangat jago di ranjang.
"Sekarang ya?" tanya Gilbert dengan pandangan mata penuh hasrat.
"Sekarang perkenalannya, sayang..." bisik Gisel ke telinga Gilbert..Pria itu bagai kerbau dicucuk hidungnya langsung membawa Gisel ke meja tempat Gala dan Vita sedang sarapan.
"Selamat pagi Pak General Manager TGR!" sapa Gilbert dengan sopan. Ia adalah pemilik resort ini jadi ia harus menjaga nama baik dan juga memberikan pelayanan yang memuaskan untuk para tamunya. Disampingnya Gisel bergelayut manja dengan pakaian yang terbuka di bagian dada dan pahanya.
Gala langsung melihat siapa yang menyapanya, ia tahu orang itu adalah pemilik resort ini. Mereka pernah bertemu beberapa kali pada acara pertemuan pengusaha seluruh negeri. Ia cuma tidak percaya kalau perempuan yang ada di sampingnya adalah Gisel Singkilaya ex sekretarisnya.
"Kenalkan Pak, ini calon istri saya, Nona Gisel yang sangat cantik," ujar Gilbert sembari mencium pipi Gisel di depan Gala.
Gisel ingin meraih tangan Gala untuk bersalaman tetapi ia pura-pura terbatuk hingga Gisel menaruh kembali tangannya ke samping. Ada rasa kecewa di wajahnya sedangkan Gala tahu betul sifat Gisel yang dari dulu ingin menyentuhnya dan sampai sekarang itu tak akan ia biarkan.
"Ini istri saya pak, Vita Maharani," Gala menunjukkan istrinya ke depan Gilbert yang langsung membuat mata mesum pria paruh baya itu langsung tak berkedip. Gala tahu pandangan buruk itu tidak seharusnya ia tunjukkan untuk istrinya.
"Maaf, pak istri saya butuh istirahat sekarang, maklum lagi hamil muda" Ujar Gala memberi alasan, agar mereka bisa menghindari percakapan dengan 2 orang ini. Atau ia akan lupa diri dan menghajar Gilbert dengan tangannya sendiri karena ia selalu mendapati mata pria itu selalu menatap istrinya.
__ADS_1
"Oh iya, silahkan. Terima kasih sudah mengunjungi resort kami dan Semoga pelayanan kami memuaskan bapak di sini," ujar Gilbert masih dengan ramah tetapi matanya tak pernah berhenti menatap Vita seolah ingin mengulitinya.
"Sama-sama pak, mari..." Mereka berdua pergi dari tempat itu menuju kamar mereka di lantai 2.
"Ada apa dengan mereka, kenapa kamu sangat ingin aku memperkenalkanmu sebagai istriku,Hem." ujar Gilbert memandang punggung dua orang itu yang semakin menjauh.
"Aku hanya ingin mereka tahu kalau aku bisa mendapatkan pria kaya, sepertimu tua Bangka," jawab Gisel dalam hati. Gilbert menatap Gisel curiga.
"Nanti aku ceritakan, honey, di tempat yang nyaman," jawab Gisel dengan tersenyum menggoda dan itu cepat ditangkap oleh Gilbert. Ia meraih pinggang Gisel lebih rapat dan segera membawanya ke kamar.
"Hamil, hmm...aku ada ide." ujar Gisel dalam hati dengan seringaian jahat.
Ih sereem, semoga Gisel tidak berniat jahat sama mama Vita ya,...othor takut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, tetap dukung karya ini yah dengan cara ketik like, kirim komentar dan hadiah yang super banyak...
Nikmati alurnya and happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1