Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 197 Sebuah Kejutan Pahit


__ADS_3

Rara segera membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru setelah bertemu dengan Presdir Alif Reksadana beberapa menit yang lalu.


"Ra' kamu mau kemana? ini belum waktunya istirahat lho." tanya Tina teman seruangannya. Gadis itu begitu heran akan tingkah Rara yang berubah aneh setelah dari ruangan pimpinan tertinggi perusahaan Double Insurance tersebut.


"Tidak apa-apa Tin. Aku keluar dari pekerjaan ini." jawab Rara kemudian meraih tasnya. Ia langsung pulang karena merasakan tubuhnya gemetar hebat. Kepalanya pun terasa pusing. Ia merasa mual hanya karena melihat wajah Alif Reksadana.


"Hei, tapi kenapa? bukankah ini hari pertama kamu bekerja?" tanya Tina semakin bingung. Ia bisa melihat wajah semangat dari gadis berambut kriwil itu tadi pagi.


"Aku mundur. Lagi pula aku bukanlah karyawan tetap di Sini. Jadi aku bebas keluar masuk." jawab Rara kemudian memeluk tubuh Tina, sahabat barunya.


"Kita akan saling menghubungi nanti. Bye." Rara melepaskan pelukannya kemudian dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan itu berharap tidak bertemu dengan Alif Reksadana.


"Az-Zahra Aisyah!" panggil seseorang dari arah belakangnya. Seketika ia menoleh dan mendapati seorang teman lamanya sedang berdiri menatapnya dalam.


"Iyan?" tanya Rara dengan wajah gembira. Sudah lama sekali ia tak bertemu dengan pria itu. Terakhir mereka bertemu saat perpisahan di SMA. Rara memperhatikan seragam yang dipakai pria itu dari atas ke bawah.


"Kamu kerja di sini?" tanya Rara lagi. Pria itu hanya tersenyum.


"Iya, bisa dibilang begitu." jawab Iyan santai. Ia menatap Rara tanpa berkedip hingga membuat istri dari Rama Putra Tama Raditya itu merasa tidak nyaman.


"Kamu juga kerja di sini kan? aku melihatmu tadi di aula sewaktu ada acara penyambutan Presiden direktur baru."


"Gak, aku cuma karyawan magang sebenarnya. Dan sekarang aku berhenti." jawab Rara sembari menunduk.


"Tapi kenapa? papamu kan petinggi di perusahaan ini. Kamu pasti bisa jadi karyawan tetap. Aku saja baru 3 bulan ini masuk ke sini."


"Tidak apa-apa. Tiba-tiba aku merasa, aku tidak perlu bekerja. Aku sebaiknya di rumah saja."


"Oh iya, kamu kan sudah menikah dengan orang terkaya di negeri ini. Jadi kamu tidak perlu bekerja. Cukup tinggal di rumah siapkan jari untuk menghitung uang belanja dari suamimu." wajah Iyan berubah menghitam karena ada rasa tak suka dengan pernikahan Rara ini.

__ADS_1


"Oh iya ya. Aku sampai lupa itu. Makasih Iyan kamu sudah ingatkan aku, hehehe." ujar Rara cengengesan.


"Kalau gitu aku pamit ya. Tetap semangat bekerja." lanjut Rara sembari meninggalkan teman lamanya itu yang sedang mengepalkan tangannya karena hatinya tiba-tiba merasa berubah suasana.


Rara pulang tanpa pamit sama papanya, ia berjanji akan menghubungi pria paruh baya cinta pertamanya itu setelah ia sampai di rumah. Langkahnya terhenti karena merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Hingga ia berbalik tetapi ternyata tidak ada seorangpun di sana. Bahkan Iyan yang ia temui tadi di depan halaman perusahaan sudah tidak tampak. Ia segera mempercepat langkahnya menuju mobilnya. kotak besi beroda empat itu adalah kado pernikahan dari kolega TGR. Tengkuknya tiba-tiba merinding. Di depan pintu mobilnya terdapat ceceran darah segar yang membuat kaget dan hampir limbung dari posisinya sekarang. Dengan menutup matanya ia segera membuka pintu mobil dan melajukannya cepat keluar dari Valet Double Insurance. Rasa mual kembali menyerangnya berikut keringat dingin yang serasa berlomba keluar dari pori-pori kulitnya.


Rara tak ingin menghentikan mobilnya. Ia merasa sedang dikejar oleh seseorang di belakangnya. Hingga suara dentuman keras menyadarkannya bahwa ia sudah menabrak pembatas jalan.


"Aaakh!" teriaknya kesakitan, dada hingga perutnya terasa sangat sakit sekali. Untunglah sabuk pengaman menyelamatkannya dari benturan yang cukup keras.


"Tolong!" teriaknya kencang. Berharap ada seseorang yang mau menyelamatkannya yang terjepit dan tidak bisa keluar dari sana. Detik berikutnya ia sudah tak sadarkan diri.


🍁


Entah kenapa Dyah Ilhamsyah merasa sangat tidak nyaman sejak tadi pagi. Ia tetap berusaha berprasangka baik dengan banyak berdoa kepada Tuhan agar segala sesuatunya baik-baik saja.


Untuk membuat hatinya lebih baik, ia sampai berkeliling komplek dan membagikan jajanan dan juga uang kepada siapa saja yang ia temui di jalan. Ia yakin dengan bersedekah bisa memudahkan segala urusan dan juga bisa menghindarkan dirinya dan keluarganya dari marabahaya.


"Iyyakah Ma? aku kok gak dengar ya dari mas Ilham." ujar Dyah dengan wajah kaget. Hatinya tiba-tiba menghubung-hubungkan dengan rasa tidak nyamannya selama beberapa hari ini.


"Iya, dan aku dengar dari kawan yang masih kerja di sana, hari ini akan ada pergantian pimpinan."


Deg


Dyah menarik nafas panjang agar debaran di dadanya tidak membuatnya sesak nafas.


🍁


Rama segera berlari dengan cepat karena baru saja menerima kabar kalau seorang perempuan muda bernama Az-Zahra Aisyah sedang berada ruang Gawat Darurat karena sebuah kebenaran tunggal. Ia mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit yang telah menghubunginya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Rama dengan nafas memburu. Ia merasakan dirinya melayang karena menggunakan kecepatan tinggi menuju tempat dimana istrinya sedang dirawat.


"Apa anda suaminya pasien atas nama Az-Zahra Aisyah?" tanya dokter itu sembari mengingat-ingat wajah Rama yang rasanya tidak asing di matanya.


"Iya, dokter, saya Rama Putra suaminya." jawab Rama tegas. Nafasnya masih terengah-engah karena berlari dari tempat parkir dari ruang UGD.


"Istri anda hanya mengalami cidera ringan di kepalanya. Cuma saja anda harus bersabar karena bayi yang ada di kandungannya tidak bisa kami selamatkan."


"Apa dokter?" tanya Rama masih belum percaya dengan pendengarannya. Kata bayi yang ia dengar benar-benar membuatnya shock. Ia sampai terhuyung kedepan karena tidak bisa menahan bobot tubuhnya dan juga beban yang ada di dalam hatinya.


"Bisa saya temui istri saya dokter?" tanya Rama setelah bisa menata perasaannya. Berita duka ini terlalu tiba-tiba dan ia takut istrinya tak sanggup menerima kenyataan ini.


"Silahkan tuan Raditya." jawab dokter itu setelah berhasil mengingat siapa sosok tampan di depannya ini.


"Ingat tuan, anda tak harus menceritakan berita buruk ini padanya. Karena sepertinya ia juga belum menyadari kalau sedang hamil." ujar dokter itu sembari menyentuh bahu Rama pelan.


"Kira-kira sudah berapa bulan dokter?" tanya Rama dengan rasa sesak di dadanya.


"Masih sangat muda. Mungkin sekitar 8 minggu. Usia kehamilan seperti itu memang masih sangat rentan. Tapi tenang saja kalian masih muda masih berada pada masa produktif." lanjut dokter itu lagi menghibur Rama.


"Ra' gimana? yang mana yang sakit sayang?" tanya Rama lembut berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya karena telah kehilangan bayi yang sangat ia harapkan.


'Kepalaku yang pusing, mas. Mual dan perutku juga sakit." jawab Rara sembari menyentuh perutnya.


"Dokter sudah kasih obat anti nyeri pasti sebentar lagi bereaksi. Kamu istirahat saja." jawab Rama kemudian mencium kening istrinya. Ia akan mencari waktu yang tepat kenapa istrinya bisa kecelakaan seperti itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like dan komentar sangat othor harapkan.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2