Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 228 Pertemuan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Sarah memapah mama Vita ke tempat tidur. Tubuh sang mama semakin lemas saja karena sudah beberapa hari ini menolak untuk makan.


"Ma, jangan begini dong. Mama seolah-olah lebih menyayangi kak Rama daripada kita semua di sini." ujar Sarah dengan wajah kesal.


Ia mulai tidak sabaran dengan keadaan mamanya yang semakin hari lebih memilih menyiksa dirinya sendiri hanya karena kepergian dua orang yang ada di keluarganya itu.


"Mama tega, hiks." ujar Sarah sambil menangis. Ia sudah lelah membujuk agar mamanya semangat lagi untuk melanjutkan hidup.


"Apakah kalau Sarah atau kak Sovi yang pergi dari rumah, mama juga akan seperti ini?" tanyanya sambil menghapus air matanya.


"Mama tidak adil! Mama berpihak sebelah. Mama lebih menyayangi Kak Rama daripada anak-anak kandung mama sendiri, hiks." teriak Sarah dengan tangis sesenggukan. Ia sengaja berlaku kasar karena mamanya seolah-olah sedang tidak sadarkan diri dengan kejadian yang menimpa keluarganya ini.


Vita tersentak. Ia tertohok dengan ucapan putri bungsunya. Ia menatap Sarah dan memeluk gadis cantik itu.


"Maafkan mama sayang, mama telah mengecewakan kalian semua." ujar Vita sembari mengelus lembut kepala Sarah.


"Mama hanya merasa bersalah pada mama kandung Rama karena belum bisa membahagiakan putranya." ujar Vita sambil menyusut air matanya.


"Ya ampun Ma, Kak Rama sudah besar, sudah dewasa. Sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Mama sudah merawatnya, sudah melimpahkan cinta dan sayang padanya." Sarah terus mengoceh untuk memberi mamanya semangat agar tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Tapi mama tidak bisa Sarah. Mama sangat rindu pada kakakmu. Mama ingin bertemu. Bawakan kakakmu padaku. Atau mama akan mati dengan rasa sedih ini Sarah."


"Ya ampun Mama, istighfar. Ingat Allah. Mama yang selalu mengajarkan kami untuk mengingat Tuhan dalam keadaan apapun."


"Atau bawa mama kepada kakakmu sayang, hiks." Vita kembali menangis.


Sovia yang menyaksikan pemandangan menyedihkan itu hanya bisa menarik nafas berat. Ia tak menyangka kelahiran putranya justru membuat hubungan keluarganya jadi semakin renggang seperti ini.


🍁


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Gala Putra Raditya mengetuk pintu rumah peninggalan mertuanya itu dengan dada berdegup kencang. Firasatnya mengatakan kalau putranya ada di dalam sana.


Perlahan pintu terbuka dengan menampilkan sosok Rama yang sepertinya sedang bersiap untuk berangkat keluar rumah. Ia sedang sangat rapi dengan setelan jasnya yang nampak pas di tubuhnya yang tinggi.


"Papa."


"Rama."


Mereka berdua bersamaan saling menyebut nama masing-masing dengan suara tercekat kaget. Mereka tidak percaya bisa bertemu di rumah itu dalam keadaan seperti itu. ada tatapan rindu diantara keduanya tetapi tak ada yang berani mengungkapkannya.


"Kamu tidak mau membiarkan papamu masuk Ram?" tanya Gala dengan nada canggung.


"Oh iya Pa, silahkan masuk." ujar Rama dengan suara yang tak kalah canggung. Rama bergeser dari depan pintu dan mempersilahkan Papanya masuk.


"Silahkan duduk Pa, aku akan panggil Rara." ujar Rama sembari melangkah ke dalam kamarnya mencari sang istri. Rara keluar dari kamar setelah beberapa menit. Ia langsung bersimpuh di kaki sang papa mertua.


"Maafkan kami Pa," ujar Rara sembari menangis dan memohon maaf. Gala menarik tubuh Rara agar berdiri.


"Ram, maafkan Papa nak, kalau Papa membuatmu kecewa." lanjut Gala sembari menatap wajah Rama yang masih berdiri di sana. Putra pertamanya itu hanya diam menunduk.


"Kalau Kamu belum bisa memaafkan Papamu ini, setidaknya bujuk hatimu untuk menemui mamamu. Ia sangat menderita karena kepergianmu. Mamamu sakit Ram." lanjut Gala dengan ekspresi tak terbaca. Bayangan Vita yang selalu menangisi sang putra dan mengakibatkannya jadi sakit membuat hatinya bagai diremas. Ia merasa menjadi suami yang tidak berguna.


"Rama," panggil sebuah suara yang sedang sangat dirindukan oleh Rama. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka di mana ada Vita Maharani di sana bersama Sarah dan juga Adam.


"Mama." ujar Rama dengan suara tercekat. Ia langsung berlari ke arah pintu dan bersimpuh di bawah kaki mamanya.


"Mama, pukul Rama Ma," ujar Rama sesenggukan. "Rama tak pantas jadi anak mama. Rama bikin mama menderita." lanjutnya sambil mengambil tangan mamanya untuk memukul kepalanya sendiri.


"Rama berdirilah sayang," ujar Vita menarik tubuh Rama yang masih bersimpuh di kakinya. Ia memeluk tubuh putranya itu dengan perasaan yang sangat bahagia. Kerinduannya telah terobati dengan bisa melihat putranya dalam keadaan baik-baik saja.


Gala meraih istrinya dari pelukan Rama. Ia merasa heran kenapa bisa Vita sang istri tiba-tiba ada di kota ini juga. Padahal ia hanya berangkat sendiri dengan penerbangan pertama. Ia hanya ingin memastikan terlebih dahulu kalau kecurigaannya benar.

__ADS_1


"Om Deka yang memberi tahu kami Pa. Makanya kami menyusul kemari." ujar Sarah karena melihat wajah Papanya menatapnya dengan wajah tanya.


"Padahal Papa ingin membuat kejutan sama mamamu." jawab Gala dengan wajah pura-pura kecewa. Vita melepaskan diri dari pelukan suaminya kemudian melangkah ke arah Rara yang sedang berdiri tak jauh darinya.


"Mama, maafkan kami ma, sudah pergi tanpa pamit sama mama." ujar Rara memeluk tubuh mama mertuanya.


"Ra' apa mama akan menjadi granny?" tanya Vita karena merasakan perut Rara yang telah membuncit menyentuh tubuhnya.


"Iya Ma, Alhamdulillah. Mama akan menjadi granny."


"Tuh kan kalian tega, ada kabar bahagia seperti ini terus kalian saja yang mau merasakannya dan tidak mau membaginya pada kami." ujar Vita sembari menghapus air mata bahagia yang kembali mengalir dari pipinya.


"Iya Ma, mas Rama yang suka ngambekan. Gak mau bagi-bagi. Maunya menikmati sendiri." jawab Rara tersenyum bahagia. Hatinya sekarang benar-benar penuh dengan rasa bahagia. Ia tak mampu lagi mengucapkan kata yang lain selain kata syukur Alhamdulillah atas segala kebaikan yang ia rasakan hari ini.


Akhirnya semuanya merasakan kebahagiaan setelah kesedihan yang berkepanjangan. Mereka telah berkumpul di dalam rumah yang penuh kenangan itu. Rumah tempat lahir kedua mama Rama, Gita Prameswari dan Vita Maharani.


"Vit, kamu sudah tidak marahkan sama aku?" tanya Gala sembari menyentuh tangan sang istri. Vita mendengus,


"Aku marah mas." jawab Vita dengan mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia tak mau bertatap muka dengan sang suami.


"Kenapa sayang?" tanya Gala hati-hati.


"Kamu tidak bilang kalau Rama ada di sini." jawab Vita lagi.


"Astagfirullah. Kita hanya beda menit sayang sampai di sini." Gala mengusap wajahnya gemas.


"Iya , tapi kan mas tidak bilang terlebih dahulu sama aku."


"Mama plis, kasihan Papa, jangan dicuekin terus, nanti malah gantian ngambek hehehe." ujar Sarah dengan tawa cekikikan. Ia sudah gerah dengan acara ngambek-ngambekan dari kedua orangtuanya. Mereka seperti pasangan yang baru berpacaran saja. Semuanya ikut tertawa.


Gala langsung meremas tengkuknya malu.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2