Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 210 Honeymoon Dua Raditya


__ADS_3

Sehari setelah pesta pernikahan Andika dan Sovia, rombongan bulan madu berjamaah keluarga Raditya bersiap-siap berangkat ke Tokyo Jepang hari ini.


"Baik-baik ya di sana. Nikmati bulan madu kalian." ujar Nyonya Mawar Raditya ketika 2 pasang suami istri berpamitan padanya di dalam kamarnya.


"Iya eyang." jawab Rama sembari memeluk dan mencium pipi perempuan yang telah melahirkan papanya itu.


"Dika, jaga dan cintai Sovia sepenuh hatimu." ujar Nyonya Mawar lagi ketika giliran Andika yang meminta doa restu pada eyangnya.


"Iyya eyang. Cintaku sudah tumpah ruah padanya. Dia saja belum paham." jawab Andika yang langsung mendapat cubitan dari istrinya, Sovia Putri Raditya. Nyonya Mawar tersenyum lembut kemudian berujar,


"Eyang berharap kalian pulang membawa berita baik untuk keluarga kita. Aku masih mau melihat penerus Raditya dari kalian berdua."


"Insyaallah eyang, kali ini kami akan berusaha keras." jawab Rama yang mendapat pelototan tajam dari Rara, istrinya.


"Kak Rama kan emang selalu berusaha sampai gak ingat waktu dan tempat." timpal Andika yang diangguki oleh Sovia. Mereka berdua saling tatap kemudian tersenyum penuh arti.


"Kalian belum tahu aja rasanya. hem." ujar Rama tak mau kalah yang dibalas dengan Sovia yang menunduk malu.


"Udah, kalian cepat bersiap nanti ketinggalan pesawat. Dan ingat baik-baik di negara orang. Ikuti aturan."


"Iyya eyang." jawab mereka berempat kompak. 2 pasang suami istri itu pun keluar dari kamar sang eyang dan bersiap menuju bandara.


"Nanti kalau papamu selesai dengan urusannya di Perusahaan, kami akan nyusul kalian. Mama juga pengen ngerasain bulan madu di Tokyo." ujar Vita dengan senyumnya.


"Gimana dengan aku Ma?" tanya Sarah dengan wajah cemberut. Sejak kemarin ia juga merengek minta ikut dengan kedua pasangan suami istri yang berniat menikmati keromantisan di negara bunga sakura itu.


"Bocah dilarang ikut. Acara ini khusus untuk dua puluh satu plus." jawab Rama kemudian meninggalkan Sarah yang masih manyun.


Dengan hati gembira 2 pasangan bukan madu itu sampai di Tokyo pada pukul 18.40 setelah melalui jarak 5.786 Km dalam jangka terbang selama 2 jam.

__ADS_1


Mereka tiba di Bandara Haneda yang terletak lebih dekat dengan Tokyo. Haneda hanya 11 menit perjalanan dari pusat kota.


"Selamat datang di Tokyo tuan-tuan dan nyonya-nyonya." sapa Akihiko putra dari Mr. Takeshi yang menjemput mereka di bandara.


"Terimakasih Akihiko Kun, sudah menyediakan waktu untuk menjemput kami di sini." ujar Sovia dengan nada gembira. Diantara mereka ber empat Dia lah yang paling akrab dengan putra dari sahabat papanya ini.


"Ini sebuah kehormatan bagi kami sekeluarga karena kalian akhirnya menerima undangan kami ke negara Sakura ini." jawab Akihiko dengan membungkukkan badannya khas orang Jepang ketika berhadapan dengan lawan bicaranya.


"Mari saya antar kalian ke hotel yang akan kalian tempati selama ada di Tokyo." ujar Akihiko kemudian melangkah terlebih dahulu ke dua mobil yang sudah ia siapkan.


Bandara Haneda juga lebih cocok bagi para wisatawan yang ingin mengeksplor Jepang. Dari bandara ini, para pelancong bisa melanjutkan perjalanan menuju 40 destinasi di Jepang. 


Pada siang hari, Tokyo mungkin terlihat seperti kota pada umumnya.


Namun, pemandangan berubah saat hari mulai malam.


Ketika gelap, gedung-gedung di seluruh kota akan menyala dalam berbagai warna, membuat Tokyo terlihat lebih maju.


Gambar-gambar kota di malam hari adalah magis dan sering kali dapat membuat orang-orang khususnya para wisatawan merasa di masa depan.


"Mas, ini indah sekali. Rasanya kita memasuki kota metro robot." ujar Rara dengan wajah kagum. Ia merasa seperti berada dalam dunia fantasi metro digital yang dipenuhi segala aktivitas berkekuatan teknologi yang sangat tinggi.


"Iyya, orang-orang Jepang kan terkenal dengan penemuan-penemuan robot dan teknologinya."


"Nanti kalau pulang kita bawa robot ya mas." ujar Rara sembari bersandar di dada bidang suaminya."


"Heh, untuk apa? di negara kita juga sudah banyak yang menemukan robot bahkan aku dengar banyak tuh sekolah-sekolah SMK yang sudah membuat robot untuk keperluan sehari-hari."


"Aku mau robot yang lain." rajuk Rara dengan suara mendayu seksih.

__ADS_1


"Jangan bilang mau robot yang bisa jadi pemuas hasrat itu ya?" ujar Rama yang langsung memberikan kecupan di bibir istrinya.


"Ya bukanlah. Aku kan ada untukmu mas, 24 jam nonstop ngapain juga pakai robot kalau yang asli lebih hot hihihi." jawab Rara semakin menggoda suaminya.


"Sampai di hotel aku mau lihat buktinya." ujar Rama gemas dengan tingkah istrinya yang sudah berani terang-terangan memancingnya padahal mereka masih dalam perjalanan di atas mobil menuju hotel. Dan andaikan ia tidak malu pada sopir yang sedang membawa mereka. Ia pastikan akan membuat Rara berteriak di dalam mobil itu.


Sementara di mobil yang ditumpangi oleh Andika dan Sovia, sepasang pengantin baru yang belum merasakan nikmatnya berbagi peluh dengan pasangan halal itu sibuk mendengarkan Akihiko menjelaskan beberapa tempat yang mereka lewati. Hingga akhirnya mereka sampai di hotel terlebih dahulu.


Akihiko meninggalkan mereka berempat di sebuah hotel mewah yang sudah dibooking jauh-jauh hari oleh Mr.Takeshi sebagai kado pernikahan untuk Sovia dan Andika. Ia sebenarnya sudah memberikan juga voucher menginap di hotel lain sebagai kado untuk pernikahan Rama sekitar 20 bulan yang lalu tetapi karena pasangan itu tidak datang juga akhirnya ia mengganti dengan hotel yang lebih mahal dan juga berada pas di kota Tokyo.


Sovia memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar kakaknya yang juga baru melakukan bulan madunya yang tertunda. Ia melangkah ke dalam ruangan luas itu dengan perasaan nano-nano. Antara senang, gelisah, dan juga perasaan lain yang ia tidak tahu namanya.


Ia baru menyadari benar-benar kalau ia sudah sah menjadi istri seorang Andika Sebastian. Seorang pria yang sudah lama ia sukai dan kagumi. Pria dingin yang sangat tidak peka pada perasaannya dan juga sangat tampan.


"Sov, kok diam saja sih di situ?" tanya Andika yang sudah duduk di atas sebuah sofa di depan ranjang king size yang nampak sangat menggoda. Putih dan empuk. Istri dari Andika itu tersenyum kemudian melangkah mendekati suaminya.


"Kamar ini bagus ya. Semuanya berkualitas Lux." ujar Sovia berusaha menghindari tatapan tak biasa suaminya. Ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terjadi di dadanya. Ada debaran yang sangat menggangu pernafasannya.


"Sovi, lihat aku dong." ujar Andika sembari meraih dagu istrinya yang sangat cantik itu. Mata Sovia menunduk tak sanggup menatap pandangan mata suaminya yang terasa menembus jantungnya.


"Dika, jangan lihat aku begitu..." ujar Sovia pelan. Sungguh ia bisa merasakan wajahnya sekarang menghangat dan mungkin sudah merah.


Cup


Bibir Andika sudah mendarat lembut di keningnya. Sebuah getaran multi power perlahan-lahan menjalar di sekujur tubuh mereka berdua.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2