
Masih di Kediaman Raditya
Mereka pun makan malam dengan hikmad. Tak ada suara percakapan di sana kecuali suara sendok, garpu dan piring yang sedang beradu serta suara Rama yang minta ini dan itu.
Setelah makan malam. Vita dan Rama diajak oleh Nyonya Mawar ke sebuah ruangan yang cukup luas yang memiliki desain yang berbanding terbalik dengan penampilan di sebagian besar ruangan yang ada di rumah ini yang menampakkan kemewahan.dengan warna goldnya.
Ruangan ini hanya bercat biru dan putih dan berisi begitu banyak mainan anak laki-laki. Hampir semua jenis robot dan mobil-mobilan ada di sini. Rama sampai dibuat takjub. Ia bagaikan baru memasuki dunia lain. Matanya berbinar cerah. dan bibirnya mengembangkan senyum.
Nyonya rumah mohon izin untuk beristirahat sejenak karena ia merasa sedikit sesak. Kemungkinan karena penyakit jantung yang dideritanya.
"Mama... mainannya manyak cekali" teriaknya dengan ekspresi takjub luar biasa. Vita begitu gembira melihat kebahagiaan Rama. Ia selama ini hanya membelikan mainan ala kadarnya. Ia tidak mau terlalu memanjakan anak itu hingga bisa membuatnya jadi anak yang cengeng dan suka merajuk.
Matanya seperti biasa memindai keseluruhan isi ruangan. Selain mainan dalam berbagai bentuk yang memenuhi ruangan terdapat juga banyak lukisan dan foto-foto yang dipajang di dinding.
Ia perlahan melangkah meninggalkan Rama yang sedang asyik dengan dunia barunya karena penasaran akan foto-foto itu. Ia menutup mulutnya karena terkejut melihat anak seumur dan semirip Rama dalam berbagai pose ada dalam foto-foto itu. Ia tahu sekarang kenapa ibu Presdir suka sama Rama. Ternyata karena Rama sangat mirip dengan orang yang ada dalam foto ini.
Apa ini foto Gala sewaktu kecil? atau orang yang lain?
Yang mana sebenarnya bos tampannya itu karena ada dua anak kecil di sini yang sama-sama mirip
"Mama..."
"Mama...cini...liat...mbing mbingnya cidak mau jalan" Rama memanggilnya terus menerus hingga ia meninggalkan foto-foto itu untuk menemani Rama bermain sampai puas hingga ia menguap berkali-kali. Ia sudah mengantuk dan tanpa sadar sudah jatuh tertidur dikelilingi oleh robot-robot asli buatan dari luar negeri itu.
Vita ingin berpamitan tetapi bagaimana dengan Rama yang sudah tertidur dan malampun sudah semakin larut.
Akhirnya ia menidurkan Rama di sebuah sofa yang ada di ruangan itu kemudian melangkah keluar mencari tuan rumah yaitu Nyonya Mawar.
Ia belum menghafal letak-letak ruangan yang ada di rumah besar layaknya istana itu. Kakinya melangkah hanya menggunakan instingnya. Dan telinganya menangkap suara orang bercakap-cakap di ruang makan.
"Rupanya ada yang sedang makan malam" ujar Vita dalam hati. langkahnya semakin mendekat dan sudah berhasil melihat dua orang yang ia kenal sedang makan dengan sesekali saling melempar candaan.
"Maaf, Pak" Vita mulai menginterupsi pembicaraan mereka. Gala yang tersadar seperti mendengar suara yang ia kenal langsung mencari sumber suara. sendok yang dipegangnya langsung terjatuh karena tidak percaya kalau Vita ada di sini di rumahnya malam-malam begini.
prang
Deka sampai kaget dibuatnya. Ia juga mengarahkan matanya kearah pandangan Gala.
"Vit..." ujar Gala pelan. Ia berharap ia tidak sedang bermimpi. Gadis itu cantik sekali malam ini dengan penampilan barunya.
__ADS_1
"Ekhem" Vita melonggarkan tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.
"Aku..aku..." Vita gugup. Gala langsung berdiri menghampiri gadis itu yang sibuk meremas jari-jarinya sendiri.
"Kamu di sini? di rumahku?" ujar Gala meraih tangan Vita karena masih tidak percaya akan penglihatannya. Vita hanya mengangguk tetapi tidak menarik tangannya. Pandangan mereka beradu dengan segala macam pikiran di benak masing-masing. Hingga mereka berdua tidak sadar telah berpegangan cukup lama.
"Hei, Vita itu tamunya mama, lepaskan tanganmu" Nyonya Mawar tiba-tiba ada diantara mereka dan menarik tangan Gala. Vita tersenyum kikuk sedangkan Gala langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Bu, Rama tertidur di ruang bermain padahal kami ingin pamit pulang" ujar Vita sembari menatap Nyonya Mawar.
"Kamu nginap di sini ya, di kamarku" Gala tiba-tiba berucap yang langsung mendapat pelototan tajam disertai tabokan di kepalanya dari mamanya. Ia kembali cengengesan.
"Iya Vit, kasihan Rama nanti tidurnya terganggu" ujar Nyonya Mawar menimpali.
"Kamu menginap yah. Besok kan libur, saya masih rindu sama Rama" lanjutnya lagi.
"Baiklah Bu" Vita hanya bisa mengangguk setuju apalagi melihat tatapan Gala yang kelihatan memohon.
Ish
Apaan itu sampai memohon begitu.
"Kok ke kamar Abang sih, ma...kamarku kan ada, kamar tamu juga banyak" Ujar Gala protes. Nyonya Mawar hanya diam. Ia tidak tahu juga kenapa bisa kamar Tama yang ada dalam pikirannya. Tetapi ia tak mau meralat apa yang sudah ia ucapkan. Lagian kamar itu selalu dirapikan walaupun penghuninya tidak ada. Tidak ada yang berubah meskipun sudah lima tahun berlalu.
Gala meletakkan tubuh Rama yang sedang tertidur pulas di ranjang king size dengan motif papan catur hitam dan putih warna kesukaan abangnya. Ia sedikitpun tidak terganggu karena dibawa dari lantai satu ke lantai dua dimana kamar ini berada. Dengkuran halusnya menandaskan tidurnya begitu nyenyak.
"Terima kasih, Pak" ujar Vita ketika melihat Rama sudah tertidur pulas. Gala menarik bibirnya untuk tersenyum. Hatinya bahagia sekali. Ia tak menyangka Tuhan begitu baik padanya mengirimkan gadis cantik ini langsung ke rumahnya tanpa melalui jalur kekerasan ataupun paksaan.
"Kamu juga sudah ngantuk ya?" tanya Gala sembari memindai wajah Vita yang kelihatan lelah tetapi tidak mengurangi kecantikannya. ia masih ingin berlama-lama di kamar ini berdua eh bertiga dengan Rama.
"Iyya pak, mau istirahat dulu. pulang dari perusahaan saya langsung ke sini bersama Rama. Karena ibu mengundang kami makan malam" jawab Vita lengkap sebelum ditanya. Ia yakin Pak GM tidak tahu kenapa ia ada di sini malam-malam begini.
"Oh. Pantas" Ujar Gala singkat. Pantas tadi ia tidak menemukan dimana jejak gadis ini setelah jam pulang kerja. Ia menunggunya lama di tempat kostnya tetapi sampai malam datang ia belum juga melihat Vita pulang. Ia sampai menghubungi semua orang-orangnya untuk mencari Vita. Ia sudah berpikir bahwa ancaman peneror itu betul-betul sudah dia lakukan. Ternyata gadis ini ada di sini di daerah kekuasaannya.
"Syukurlah" gumamnya lagi hingga membuat Vita mengernyit bingung. Kenapa semua kata-kata pak GM tidak ada yang nyambung.
"Pak..." Vita melambaikan tangannya di depan wajah Gala yang kelihatan melamun. Eh, Gala tersentak dan menatap mata Vita intens.
"Kamu hati-hati ya" ujarnya dengan pandangan khawatir. ia meraih tangan Vita dan menggenggamnya erat. Ia tiba-tiba sangat takut kehilangan gadis ini.
__ADS_1
Eh
Vita semakin bingung akan tingkah Gala yang sangat aneh.
Apa mungkin kepalanya terbentur di dinding
"Dilarang berdua aja di kamar. Belum halal Oi" teriak Deka dari arah pintu. Keduanya tersentak kaget dan segera saling menjauh.
"Hush, kamu mau membangunkan Rama hah" Gala mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Deka yang sudah kabur sembari tertawa menyebalkan.
Wajah Vita memanas karena malu. Sekali lagi Deka menertawakannya.
"Kamu nyaman dengan baju begitu untuk tidur?" Gala sekali lagi menatap keseluruhan tubuhnya dan entah kenapa matanya tak mau pindah dari sesuatu yang membuatnya tiba-tiba merasa panas dingin. Dress yang dikenakan Vita malam itu terlalu rendah di bagian daddanya.
"Sepertinya sih tidak pak" Ia risih dengan pandangan Gala yang tidak beranjak sedikitpun dari dirinya.
"Disini tidak ada baju perempuan kecuali baju tidurnya mama, kamu mau?"
"Aaa apa kata ibu Presdir kalau saya memakai bajunya pak" Vita merasa lucu sendiri.seorang karyawan biasa sepertinya meminjam baju tidur Presiden direktur.
"Atau kamu tidak usah pakai baju saja" ujar Gala tanpa malu menggodanya. Tingkat kemesuman Gala betul-betul sudah di atas rata-rata.
"Astaga" Vita menutup mulutnya karena tidak menyangka pembicaraan mereka sepertinya sudah terlalu intim.
"Keluar pak sekarang juga. Saya mau tidur nyaman atau tidak bukan urusan bapak" ujar Vita sembari mendorong tubuh Gala keluar dari kamar itu.
"Aku yang tidak nyaman Vit kalau kamu pakai baju itu untuk tidur" jawab Gala setelah berada di depan pintu.
Boom
Pintu dibanting keras pas di depan hidungnya. Deka yang ternyata masih di situ tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan sepupunya.
Sementara di dalam sana. Vita bersandar di belakang pintu sembari memegang dadanya karena berdebar terlalu kencang. Hampir saja ia termakan gombalan pria itu lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Cuma mau bilang jangan lupa like, komentar, dan kasih hadiah please.
Supaya othor semangat updatenya.
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍