Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 135 Janji Setia Ira Zerni


__ADS_3

"Gimana perkembangan hubunganmu dengan Pandu, Han?" tanya Ira Zerni sesaat setelah breefing karyawan TGR global Company.


"Alhamdulillah baik Bu." jawab Hany dengan wajah merah menahan malu yang tiba-tiba merambati hatinya. Entah kenapa ia jadi sering berdebar tidak karuan jika mengingat kecupan singkat yang diberikan laki-laki itu padanya.


"Baik gimana?" tanya Ira lagi penasaran, soalnya di rumah Pandu juga tidak mau menjelaskan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.


"Ya pokoknya baik lah Bu. Sudah lama sih kami tidak ketemu, mungkin Pandu sibuk ya Bu?" ujar Hany pelan. Pria itu tak pernah lagi menghubunginya sejak kejadian kecupan singkat itu.


"Oh iya, Pandu lagi ada proyek di Rumah Sakit jadi ia cukup sibuk akhir-akhir ini." Hany tersenyum maklum, cuma ia heran saja ada apa dengan ibu managernya ini. Kenapa Semangat sekali menjodoh-jodohkan ia dengan adiknya.


"Oh iya, Bu. Saya pamit keruangan saya. Ada banyak kerjaan di sana." ujar Hany kemudian melangkah menuju ruangannya. Ira menatap punggung gadis itu dengan berbagai macam pikiran dalam hatinya.


"Pokoknya mereka berdua harus jadian." ujar Ira dalam hati. Pikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Waktu itu ia dan Pandu sedang melakukan perjalanan ke sebuah tempat rekreasi setelah adiknya itu lulus SMA dan mendapatkan beasiswa pendidikan dari Yayasan TGR.


Ira Zerni sengaja merayakan keberhasilan Pandu itu di sebuah tempat istimewa karena adiknya akan pergi jauh melanjutkan pendidikan mengikuti dimana ayah mereka ditugaskan oleh negara. Ayah mereka adalah seorang angkatan darat. Sedangkan ia sendiri tinggal di kota itu karena sudah menjadi karyawan di TGR Global Company.


"Ndu, hati-hati ya kalau lanjut nanti di tempat orang." ujar Ira menasihati adiknya.


"Iya Kak, semua nasehat dan petuah kakak akan aku ingat seperti aku ingat jumlah butir-butir Pancasila." jawab Pandu serius tapi santai. Ira langsung mencubit pinggang adiknya yang tambun itu karena merasa dikerjain olehnya dan bahkan menambahnya dengan gelitikan. Ia gemas melihat sang adik semakin tumbuh besar bak gajah raksasa.


"Hei jangan nyubit dong, entar kalau aku nabrak orang gimana?" teriak Pandu karena jalur yang sedang mereka lalui adalah jalur menurun yang cukup terjal. Sepeda motor yang mereka kendarai betul-betul oleng dan akhirnya menabrak seorang penjual buah yang sedang membawa jualannya di pundak.


"Aaaaaaa," Teriak Ira yang merasakan tubuhnya membentur dinding tebing. Sedangkan Pandu terjungkal jauh sampai ke parit. Dengan sisa tenaganya Kakak kandung dari Pandu Gemilang itu menolong penjual buah yang jadi korban mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pak, bapak tidak apa-apa?" tanya Ira sembari menepuk-nepuk pipi pria tua itu dengan pelan. Ia melihat ada darah di kepala sang penjual buah. Mata tua itu terbuka perlahan.


"Alhamdulillah bapak selamat. Aku hubungi ambulans ya pak?" ujar Ira bahagia karena ulahnyalah sehingga kecelakaan ini terjadi.


"Bapak tinggal dimana?" tanya Ira setelah menghubungi sebuah Rumah Sakit terdekat.


"Saya tinggal di daerah X," kawannya pelan mungkin karena merasakan sakit atau perih dari luka-lukanya.


"Bapak punya nomor anggota keluarga yang bisa saya hubungi?" tanya Ira lagi. Ia akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada bapak ini. pria tua itu membuka dompet lusuhnya. Di ********** ada kertas kecil dan sebuah foto dirinya dengan seorang gadis cantik berseragam putih abu-abu.


"Ini alamat saya nak. Tapi saya tidak punya telepon. Dan ini putri saya satu-satunya namanya Hany." ujar pria tua itu pelan yang disertai batuk-batuk.


"Kalau seandainya saya tidak panjang umur. Saya minta tolong agar putri saya bisa mendapatkan pekerjaan untuk masa depannya kelak." ujarnya terputus-putus. Aku tanpa sadar meneteskan air mata dan berjanji akan membantu putrinya itu.


"Bertahanlah pak, bapak pasti masih panjang umur dan melihat Hany jadi orang sukses." ujar Ira Zermi menghiburnya. Raungan ambulans dari jauh membuat Ira bernafas lega.


"Insyaallah Pak, aku akan mencarikan pekerjaan untuk Hany putri bapak. Yang penting bapak harus sembuh dulu." Ira mulai menuntun pak Zainuddin itu naik ke mobil ambulans barulah kemudian ia mencari si gentong Pandu adiknya yang ternyata muncul dari parit dalam keadaan yang jauh mengenaskan. Mereka bertiga berangkat dalam satu mobil menuju Rumah Sakit terdekat.


Ira Zerni menarik nafas panjang. Pandangannya masih di sana di daun pintu tempat Hany keluar dari ruangan itu. Sejak terjadinya kecelakaan yang menyebabkan bapak Hany yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit. Ia memberikan beasiswa untuk Hany secara diam-diam untuk melanjutkan pendidikan di Universitas sebagai janjiinya kepada orang tua itu. Kemudian ia terjun langsung membantu gadis itu agar bisa diterima menjadi karyawan TGR agar ia bisa melunasi hutang janjinya pada Zainuddin. Dan sekarang ketika ia melihat gelagat Pandu menaruh perhatian pada gadis itu pada acara ulang tahun Rama. Disitulah ia merasa sangat bahagia karena usahanya selama ini haruslah sempurna dengan berusaha agar Hany kelak menjadi anggota keluarganya.


Hany memasuki ruangan kerjanya dengan wajah lelah.


Pekerjaan yang selama beberapa hari menumpuk di atas meja kerjanya membuatnya semakin bingung harus mulai dari mana.

__ADS_1


"Aaaaakh," teriaknya tertahan. Tarikan nafasnya begitu berat. Pertemuannya kembali dengan Arman sang mantan yang menyebalkan itu membuatnya pusing tujuh keliling lalu kemudian serangan Pandu padanya juga menambah rasa galau dihatinya.


"Laki-laki memang semuanya sama." gerutunya dalam hati. "Dulu Arman itu memacariku hanya untuk bisa mendapatkan keuntungan dari ku, maunya ***** ***** tapi pas ditolak eh, dia cari yang lain. Dasar buaya omes." ujarnya marah-marah sambil mulai membuka file-file yang akan ia kerjakan hari ini. "Dan sekarang Pandu, setelah dia dapat yang dia mau malah hilang tanpa kabar dan meninggalkan aku begitu saja. huh sebel. Besok-besok aku gak mau pacaran sama laki-laki. Capek bawaannya." tambahnya tanpa memperhatikan kalau seseorang telah lama berdiri di sampingnya sambil menahan senyum.


"Nah kan aku salah terus ngetiknya." gumamnya lagi sambil memukul keyboard di depannya yang tidak bersalah.


"Kalau mau kerja harusnya hati harus tenang dulu." tegur seseorang yang sedari tadi memperhatikan kegiatannya. Hany langsung menoleh dan melihat Pandu berdiri disana dengan senyum samar.


"Hah! Pandu! sejak kapan kamu disitu?" tanyanya histeris sampai karyawan lain ikut memperhatikannya.


"Hush! kamu ya kerja udah gak bener sekarang malah gangguin orang lain lagi." ujar Pandu santai.


"Ish, siapa bilang aku kerjanya gak bener. Kamu tuh bukan karyawan sini malah ada disinj. Tamu tuh harusnya di ruang tamu bukan di tempat kerja orang." jawab Hany mencibir.


"Aku sudah sogok manager mu, jadi aku bisa datang kapan saja." jawab Pandu masih dengan senyum di wajahnya yang cukup cerah hari ini.


"Udah ah, pergi dari sini. Aku mau kerja." ujar Hany dan mendorong tubuh pria itu keluar ruangan.


"Aku tungguin di ruangannya kak Ira. Awas kalo gak datang." Pandu mengedipkan matanya sebelah kemudian berlalu dari hadapan Hany yang justru sibuk menata debaran jantungnya.


----Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah dan vote, agar othor tetap semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2