Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 78 Saling Menyapa Dan Memberi


__ADS_3

Reno tak berhenti menatap Miska yang sudah lama terlelap. Tangannya sangat ingin menyentuh wajah damai itu. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa memperlakukan Miska layaknya istri yang sesungguhnya. Bayang-bayang Vita selalu menghantuinya ketika ia mulai mau menerima takdirnya. Rasa cintanya kepada Vita yang cukup lama ia pendam akhirnya berakhir dengan sangat buruk. Ia justru menikahi orang lain disaat hubungannya dengan gadis itu hampir saja mengalami kemajuan.


"Aaaakh," geramnya dalam hati. Ia meremas rambutnya kesal. Ia marah sama keadaan. Ia membenci dirinya sendiri yang tak bisa menjaga diri.


Tatapannya beralih ke atas nakas tempat dimana ada handphone Miska tergelak di sana. Perlahan ia meraih benda pipih itu. Ia ingin melewati malam ini dengan lebih mengenal istrinya lewat handphonenya. Ia berharap ia tidak di klaim menjadi seorang pencuri karena melihat handphone orang tanpa izin.


Miska bukanlah orang baru dalam hidupnya. Gadis itu sudah lama ia kenal karena pernah satu kelas sewaktu masih duduk di bangku SMA. Tetapi dia yang orangnya dingin dan tertutup tidak pernah akrab dengan teman-temannya kecuali teman-teman anggota Club basket di sekolahnya.


Ia hanya melihat satu orang anak perempuan yang beda dari yang lain. Vita Maharani yang dikenal sebagai Giant karena bentuk tubuhnya yang tambun dan tumbuh bagai raksasa. Ia menyukai gadis sederhana itu diam-diam. Dan berniat suatu saat ia akan menyampaikan perasaannya pada gadis itu. Tetapi sekarang impian itu tinggallah impian semata.


Ia sudah mempunyai takdir sendiri begitupun Vita Maharani. Mereka berdua sudah dipertemukan oleh Tuhan dengan orang lain yang justru saling mempunyai hubungan. Yaitu hubungan keluarga. Sungguh Tuhan maha penentu dari semua rencana dan usaha hambaNya.


Sekali lagi ia menarik nafas panjang kemudian membuka layar handphone istrinya yang ternyata tidak terkunci.


"Dasar ceroboh," gumamnya pelan seraya melirik tubuh Miska yang masih terbaring di sana nyenyak. Matanya hampir melompat keluar dari tempatnya ketika melihat lock screen handphone itu semuanya berisi gambar dirinya dalam beberapa pose sejak SMA sampai sekarang. Begitupun gambar profilnya semuanya berisi foto dirinya dalam bentuk sebuah kolase.


"Miska," gumamnya tak sadar. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menghangatkan hatinya. Dengan cepat ia menyimpan kembali handphone itu di atas nakas seperti semula.


Ia menghampiri Miska dan duduk di samping calon ibu dari anaknya. Rasa sesal kemudian bermunculan ke permukaan hatinya. Wajah cantik itu yang selalu terlihat kesal kini sangat damai dalam tidurnya.


Ia yang selama menikah dengan Miska dan tak pernah berniat tidur di ranjang yang sama dengannya kini merasa dilema. Tubuhnya tak mau diajak kompromi. Ia perlahan membaringkan badannya di samping istrinya sembari memiringkan tubuhnya agar matanya selalu bisa memandang wajah itu yang tanpa sadar ia kagumi.


Tangannya perlahan ia ulurkan ke wajah yang tampak sangat cantik itu. Ia membelai dari mata Sampai ke bibir yang terbuka itu. Ingatannya kembali ketika ia merampas paksa kehormatan Miska dengan sangat ganas. Ia mengernyit nyeri membayangkan bagaimana penderitaan istrinya waktu itu.


"Mis, maukah kamu memaafkanku?" bisiknya pelan seraya mengecup bibir itu singkat. Tak ada respon yang ia terima dari Miska. Ia kembali melabuhkan bibirnya di sana lebih dalam, hingga membuat istrinya itu terbangun dan mendapati dirinya begitu sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Kak,..." ujar Miska ditengah keterkejutannya. "Kakak sedang apa?" tanya Miska yang masih belum sadar penuh akan apa yang terjadi di depan matanya. Tubuh Reno sudah sangat menempel padanya tak menyisakan jarak.


"Aku...aku..."Reno kehabisan kata-kata. Ia pun bangun segera dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tiba-tiba ia ingat perkataan dokter obgyn tadi sore, ia kemudian berucap,


"Boleh aku menyapa dedek bayinya?" sebuah pertanyaan absurd yang tentu saja membuat Miska menunjukkan wajah malu dan senang secara bersamaan.


"Seperti kata dokter tadi," lanjut Reno dengan sedikit malu. Miska menggangguk pelan. Ia pun mengambil tangan Reno dan membawanya ke perutnya yang sedikit membuncit tetapi Reno malah diam tak berekspresi.


"Kenapa kak, katanya mau menyapa," ujar Miska bingung akan sikap Reno.


"Aku ingin mengobrol dengannya, boleh?" tanya Reno lagi dengan muka polos. Sekali lagi Miska mengangguk dan mulai membuka piyamanya yang kemudian menunjukkan kulit perutnya yang sangat putih dan mulus beserta bonus dua buah benda favorit kaum Adam seperti dirinya.


Reno sampai menelan salivanya kasar. Pemandangan indah ini yang sedari tadi membuatnya kepikiran terus dan sekarang ini bahkan sudah ada di depannya terpampang nyata.


"Boleh?" tanya Reno lagi dengan suara serak. Ia mulai tak bisa menahan sesuatu yang ingin meledak dalam dirinya. Miska hanya tersenyum sembari membuang pandangannya ke arah lain. Ia tahu suaminya menginginkan dirinya dari pandangan mata yang berkilat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Suara kicau burung di luar sana menandakan pagi segera tiba. Matahari tampak masih malu menampakkan dirinya. Vita Maharani membuka kelopak matanya disertai senyum yang merekah. Pagi ini ia bangun dengan semangat baru.


Meskipun semalam ia sempat dalam kondisi bad mood tetapi setelah ia memakan makanan tradisional dari daerahnya yaitu kapurung hangat dengan sambel pedis sebagai penambah cita rasanya ia kembali sehat dan segar.


Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang berseliweran dalam benaknya. Ia dan Rama bahkan menonton film kartun Upin dan Ipin sampai tengah malam.


Pagi ini ia berniat keluar dari rumah untuk mencari udara segar. Ia belum mau kembali ke Perusahaan. Ia belum mau bertemu dengan Gala yang mungkin bisa membuat hatinya jadi berubah kesal lagi.

__ADS_1


"Me time!" teriaknya dengan suara nyaring dari dalam kamar mandi. Ia akan menitipkan Rama pada mama mertuanya agar dibawa ke Daycare di Perusahaan. Hari ini ia betul-betul ingin menikmati hidupnya sendiri tanpa gangguan siapapun.


Setelah mematut diri di cermin dan memastikan dirinya sudah tampak cantik dan rapih ia berpamitan kepada Mama mertuanya.


"Mau kemana sayang?" tanya Nyonya Mawar sesaat setelah sarapan pagi bersama.


"Saya mau jalan sebentar ma," jawab Vita sembari tersenyum. Ia ingin bahagia dan tak mau memikirkan yang berat-berat.


"Tapi suamimu nak, mungkin tidak mengizinkan kamu pergi sendiri," Nyonya Mawar ragu membiarkan Vita keluar tanpa ada seseorang yang bersamanya apalagi putranya itu masih sangat sibuk memulihkan kembali server yang sempat diserang oleh hacker.


"Tidak apa ma, nanti Vita izin lewat Wa." jawab Vita lagi walaupun ia sendiri tidak yakin dengan jawabnya. Mengingat panggilannya saja masih belum bisa tersambung sampai sekarang.


"Hati-hati ya sayang," ujar Nyonya Mawar pada akhirnya.


"Baik ma, InsyaAllah Vita pulang sebelum malam." ujar Vita pamit sembari mencium kepala Rama lembut.


"Da da mama..." ujar Rama sembari melambaikan tangan mungilnya berulang-ulang.


Sesampainya di luar halaman rumah besar itu. Vita sudah dijemput oleh seorang sopir pribadi dari keluarga Raditya. Vita Maharani naik ke mobil itu kemudian ia akan turun dan berpindah kendaraan ketika grab yang ia pesan sudah mendekati lokasinya.


"Hhhhhh," ujar Vita sembari menarik nafas panjang. "Akhirnya aku bisa keluar dan menikmati hari ini, sendiri. Me time yes!" lanjutnya dalam hati dengan seringaian senang.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pantengin terus ya kisah Gadis Pemimpi. Jangan lupa like, komen, dan Tap Favorit bagi yang belum.

__ADS_1


Nikmati alurnya and happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2