
Ninick menunggu penjelasan dari cucu pertamanya itu dengan sabar. "Aku kan sibuk dan Sovia juga sibuk, jadi wajarlah kalau kami tidak pernah lagi jalan bersama." jelas Andika saat eyang putrinya itu menanyakan kenapa Sovia tak pernah lagi diajak kerumahnya.
"Masak sih sibuknya sampai selama ini. Ini udah hampir sebulan lho kamu gak ngajak Sovia jalan ke sini, padahal eyang ingin masak sama-sama." ujar Ninick berusaha mengintimidasi cucunya itu. Ia sangat suka sama Sovia putri dari Vita Maharani itu. Ia berharap kali ini ia bisa menjadikan gadis itu sebagai cucu menantunya. Cukuplah Reno tidak bisa berjodoh dengan Vita tetapi ia akan usahakan Andika harus memperistri Sovia.
"Astaga eyang, Sovia bahkan tak pernah menanyakan kabar eyang putri." Andika mulai jengah dengan keinginan eyangnya itu. Ia lantas meninggalkan eyangnya dan kembali ke kamarnya.
"Kamu berbohong Dika, Sovia sering menghubungi eyang, kamu saja yang jual mahal kayak gitu, awas nanti kamu menyesal baru tahu rasa." ujar Ninick dalam hati.
"Andika, pokoknya Sovia harus masuk di keluarga ini." lanjut Ninick lagi dengan senyum samar di wajahnya.
Sementara itu Andika jadi resah sendiri sambil mondar-mandir di dalam kamarnya yang cukup luas itu. Berkali-kali ia menatap handphonenya. Sejak terakhir ia bertemu Sovia dan langsung memblokir nomor gadis itu. Mereka tak pernah lagi bertemu apalagi mendengar gadis manja itu meminta sesuatu darinya. Padahal dua hari setelah aksinya memblokir nomor Sovia ia kemudian mengaktifkannya kembali karena mulai merasa kehilangan dan merasakan hari-harinya kosong dan sepi. Tak ada lagi panggilan darurat atau pesan-pesan pemaksaan dalam bentuk rengekan atau rajukan dan bahkan ancaman dari seorang Sovia yang harus dituruti keinginannya saat itu juga.
Ia perlahan meraih handphonenya yang ia lemparkan tadi di atas ranjang. Andika mulai membuka aplikasi WhatsApp nya. Lama ia menunggu siapa tahu ada pesan beruntun yang masuk. Ternyata tidak ada sama sekali.
"Brengsek!" teriaknya sambil melempar lagi handphonenya itu.
"Hey, kenapa pula aku terganggu hah? bukankah ini yang aku inginkan? aku sekarang bisa bekerja dengan baik dan tak perlu mendengar ocehan atau rengekan dari dia." Andika sibuk bermonolog sendiri dengan dirinya sendiri sampai handphonenya berteriak memanggilnya.
"Halo?"
"Adam?"
"Ada apa?"
"Kamu gak tahu kalau hari ini peresmian Restonya Kak Sovi?"
"Gak, aku gak tahu." jawab Andika dengan kening mengernyit bingung. Tak ada info yang ia dapat sebelumnya mengenai hal itu.
"Ayok kita kesana." ajak Adam dari seberang telepon. Andika diam saja, ia merasa tidak nyaman, karena Sovia sendiri tidak mengajaknya.
"Aku lagi sibuk, nanti aku lihat dulu waktunya." jawabnya memberi alasan. Adam pun menutup panggilan itu setelah berbasa-basi.
__ADS_1
"Aaaaa, Sovi!" Andika menjambak rambutnya kesal.
🍁
Suasana peresmian Resto D'Sov begitu ramai dengan para tamu undangan yang umumnya dari keluarga Raditya beserta sahabat-sahabat Sovia. Mereka membuat acara syukuran kecil-kecilan dengan mengundang tamu lain selain dari keluarga yaitu anak-anak yatim dari panti asuhan terdekat.
Memberikan santunan dan makan gratis anak-anak itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Raditya. Gala dan Rama tidak masuk ke Perusahaan hari ini. Mereka berdua menyempatkan diri sebagai waiters yang melayani para tamu meskipun Resto baru itu sudah merekrut banyak karyawan.
"Mas, ini bukan modus kan?" bisik Vita dikuping suaminya saat Gala sudah mulai memasang apron di badannya dan siap beraksi sebagai waiters.
"Gak lah," jawab Gala dengan senyum menggodanya.
"Gak rela aku, kalau mas dinikmati oleh banyak pelanggan." ujar Vita merajuk manja.
"Aku yang gak rela kalau para perempuan cantik Raditya menjadi konsumsi publik sayang. Kalian duduk manis aja di sini ya." ujar Gala kemudian beranjak mengambil nampan dan mengantarkan makanan dan minuman gratis untuk para tamu undangan.
Rama tak mau kalah setelah memasang apron, ia menghampiri salah satu meja yang sangat menggangu penglihatannya, di sana ada cowok yang tidak ia kenal dan si kucing kriwil sedang asyik mengobrol sampai tertawa-tawa dengan bebas.
"Maaf mengganggu," sapa Rama dengan suara kesal. Kedua orang itu menatap Rama dengan wajah kaget. Rara menatap keseluruhan penampilan Rama yang sedang berpakaian pelayan. Sedangkan si cowok menatap Rama dengan pandangan menciut. Ia tahu kakak dari Sovia itu adalah orang penting yang tanpa malu menjadi seorang waiters.
"Aku pesan juz lemon plus rujak dengan sambel rica-rica trus lontong sayur dan ayam bakar." Rara menyebutkan semua makanan yang ia ingin makan saat itu juga, kemudian ia memandang Rama dengan wajah berkerut.
"Kok gak dicatat?" tanya Rara bingung.
"Tak perlu. Pesananmu terlalu banyak." jawab Rama santai dan membuat Rara langsung memutar bola matanya malas.
" Dan anda? mau pesan apa?" Rama menatap tajam pria muda yang sedang bersama gadis kriwilnya itu.
"Air putih saja, tuan." jawab sang pria gugup. Ia tiba-tiba merasa takut luar biasa dengan pandangan tajam Rama.
"Ke wastafel saja, ambil sendiri!" Rama langsung berlalu dari hadapan mereka berdua dengan angkuh.
__ADS_1
"Ih, waiters kok gak sopan gitu, ih sebel!"
"Aku balik ya Ra' aku baru ingat belum ngasih makan kelinciku."
"Eh, kok buru-buru kita kan belum coba makanan di sini. Gratis lho." ujar Rara membujuk.
"Gak ah, aku makan di rumah aja." jawab si pria dan langsung ngacir. Ia takut berada di sana. Aura Rama serasa membunuh rasa percaya dirinya untuk mendekati Rara.
Rama yang melihat pria itu meninggalkan si kucing kriwil tersenyum senang. Ia mulai menata pesanan gadis itu di atas nampan dan bersiap mengantarkannya ke pelanggan spesialnya hari ini.
🍁
Andika baru tiba ketika suasana Resto D'Sov sudah agak lengang. Ia melangkah masuk dengan tak enak hati. Ia yang terkenal disiplin dan juga sangat menghargai waktu begitu sangat malu karena ia tiba-tiba jadi pria Cemen tak bertanggung jawab.
"Dika, kok baru datang?" tanya Vita yang baru keluar dari sebuah ruangan VIP bersama suaminya.
"Tante, om. Maaf aku terlambat. Ada banyak pekerjaan tadi." jawab Andika memberi alasan. Padahal ia seharian sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri. Datang atau tidak.
"Gak apa-apa. Temui Sovi di sana. Ia pasti senang kamu datang." jawab Vita dengan senyum terkembang. Ia tahu betul selama mereka berdua tidak berkomunikasi Mood Sovia hancur tetapi untungnya ada gadis itu punya kesibukan baru hingga ia pelan-pelan bisa melalui hari-harinya tanpa Andika yang selalu ia harapkan.
"Baik Tante, Om. Aku ke sana dulu. Permisi." ujar Andika kemudian mencari ruangan yang di maksud oleh Tante Vita Maharani.
"Mas, setuju gak kalau Andika jadi menantu kita." tanya Vita kepada Gala yang sedang menatap punggung Andika yang semakin menjauh.
"Kalau ia bisa bertanggung jawab untuk putriku, kenapa tidak." jawab Gala santai. "Ayok pulang kita bikin adek untuk Sarah."
"Ih mas, gak ketuaan kita punya dedek baru, hihihi." Gala langsung merengkuh pinggang istrinya kemudian mengajaknya pulang ke rumah untuk beristirahat. Hari ini merupakan hari yang melelahkan sekaligus menggembirakan.
---Bersambung---
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmat alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍