
Nyonya Mawar melangkahkan kakinya ke arah Daycare bermaksud menemui Rama. Sejak semalam rasa rindunya pada anak itu sangat menyiksanya.
"Selamat pagi Bu Presdir" Sapa bunda Tika ketika melihatnya akan memasuki area Daycare.
"Selamat pagi Tika" jawabnya dengan senyum elegan. Ia melongokkan kepalanya ke dalam mencari sosok yang ia rindukan selama hampir seminggu ini.
"Ibu mencari Rama ya?" tanya bunda Tika ramah. Ibu Presdir menjawab dengan anggukan.
"Mari Bu duduk dulu di dalam" Bunda Tika bergeser dari depan pintu dan mempersilakannya untuk masuk. Setelah ia duduk di sebuah sofa di ruangan itu bunda Tika mulai membuka mulutnya.
"Rama sudah hampir seminggu ini tidak masuk Bu, dan mamanya juga tidak memberi kabar"
"Oh begitu ya. Padahal saya sangat merindukannya sampai terbawa mimpi" ia tersenyum sembari membayangkan anak itu pasti sudah duduk di pangkuannya sekarang andai ada di sini.
"Baiklah, Tika. Kalau Rama masuk hubungi saya secepatnya ya" ia pun pamit dan melangkahkan kakinya dengan gontai kembali ke ruangannya tetapi di tengah jalan ia merubah arah dan malah ke ruangan General Manager. Beberapa hari ini ia tak bertegur sapa dengan putranya itu. tidak di rumah maupun di Perusahaan.
Dengan pelan ia mendorong pintu ruangan General Manager setelah memastikan kalau putranya itu ada di dalam sesuai perkataan seorang staf di depan ruangan itu.
Ia masuk tanpa mengetuk dan melangkah menuju meja Gala putra Raditya yang ternyata sibuk dengan pembicaraannya lewat telepon.
" Kirimkan sekarang juga daftar penumpang yang keluar dari kota ini mulai hari Ahad tanggal 15 Maret Sampai hari ini!"
"Tapi itu sudah lewat pak dan itu melanggar otorisasi bandara" jawab orang itu dari seberang sana.
"Kamu tidak kenal siapa saya hah!"
"Saya Gala Putra Raditya!"
"Atau hubungkan saya dengan pimpinanmu sekarang!" teriak Gala emosi.
"Saya butuh data itu 5 menit dari sekarang!" Pagi ini emosinya sedang tidak stabil. Beberapa laporan dari anak buahnya menyatakan bahwa tidak ada data perjalanan jarak dekat yang dilakukan oleh seseorang bernama Vita Maharani pada hari Ahad yang lalu Sampai subuh hari ini. semua jalur transportasi sudah mereka datangi dari terminal Bus, kereta api, maupun pelabuhan.
Mereka sengaja tidak mencari informasi ke Bandara karena masih bertahan dengan pikiran bahwa Vita tidak mungkin pergi terlalu jauh mengingat semua barang-barangnya masih ada di rumah kos-kosan nya.
"Ada apa Gal?" tanya Nyonya Mawar karena sedari tadi memperhatikan putranya sibuk menghubungi orang dan berakhir dengan kata makian atau ancaman.
"Ibu Presdir" Gala berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya sedikit. Ia memang selalu seperti ini kalau di perusahaan menghormati mamanya seperti seorang pimpinan.
"Siapa yang kamu cari di bandara?"
__ADS_1
"Vita Maharani Bu. Sejak hari itu ia menghilang dan tidak ada kabar sama sekali" jawab Gala dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Apa ada data atau hal penting yang ia bawa yang berkaitan dengan perusahaan?"
"yah yang mungkin merugikan kita secara sepihak" Ibu Presdir bertanya tentang kestabilan perusahaan jika seorang karyawan seperti Vita Maharani meninggalkan pekerjaannya tanpa kabar.
"Ia mengambil banyak Bu dari saya" jawab Gala menggantung hingga membuat dahi ibu Presdir mengernyit bingung.
"Maksud kamu, gadis itu mencuri aset yang ada di ruangan ini?" Gala hanya mengangguk. Ia membenarkan perkataan mamanya. Vita Maharani telah mencuri banyak darinya. Hatinya dan pikirannya.
"Kalau begitu laporkan pada pihak berwajib. Gadis itu harus ditangkap secepatnya" putus Ibu Presdir dengan marah di hatinya. Ia tak menyangka mamanya Rama punya kelainan seperti itu.
Cih
"Padahal aku sudah berniat menjodohkannya dengan Gala agar Rama selalu bisa dekat denganku" ujarnya dalam hati.
"Perempuan itu sangat cantik dengan segala kesederhanaannya dan akan selalu mengingatkanku akan seorang perempuan lain yang telah merebut putraku Tama" lanjutnya dalam hati.
"Tampilan luar memang sering menipu. Jangan percaya akan kecantikannya!" Ibu Presdir mendelik tajam ke arah Gala lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah kesal.
Gala menghela nafas berat. Ia tahu mamanya salah sangka akan ucapannya. Tetapi ia memang tidak berbohong kalau gadis itu telah mencuri banyak darinya.
"Ia juga mencuri cucumu dan sepertinya ia ingin menikmatinya sendiri ma. Ia tega tidak mau berbagi dengan kita" gumamnya lagi sembari menghela nafas panjang.
Drrrrt
Drrrrt
Bunyi panggilan telepon membuyarkan lamunan panjangnya. Ia langsung menjawabnya ketika tahu yang memanggil adalah AKBP Supirman sang Kapolres Metro yang menangani kasus Robby Todler.
"Aku tunggu kamu sekarang di Markas!" ujar Supirman tanpa basa-basi sesaat setelah panggilan tersambung.
"Baik. Aku kesana"
Gala segera berangkat dengan langkah cepat. Ia berharap ada kabar yang menggembirakan dari penangkapan si bajingan ini. Pihak kepolisian sudah ia wanti-wanti untuk tetap merahasiakan penangkapan Robby Todler kepada anggota keluarganya. Cukup Ia dan Reno yang tahu. Toh orang itu juga biasa menghilang dari rumahnya. Jadi kalau ia tiba-tiba tidak muncul di publik tidak akan banyak yang tahu dan peduli.
Gala hanya butuh waktu 15 menit dengan kecepatan di atas rata-rata untuk sampai di Markas Polres Metro. Dengan langkah cepat ia memasuki ruangan pimpinan tertinggi pada instansi itu.
"Apa ada perkembangan dari si bajingan itu?" ujarnya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tenang, duduk dulu lah kita ngopi-ngopi sejenak" Ujar supirman mencoba mendinginkan hati Gala.
"Apa dia sudah mengakui perbuatannya?" tanya Gala penasaran. Ia tahu pengakuan orang mabuk seperti semalam tidak bisa dianggap sebagai bukti yang kuat.
"Tentu saja " jawab Supirman menyeringai. Ia tahu caranya membuat seorang tersangka mengakui kejahatan yang pernah diperbuatnya. kemudian ia melanjutkan.
"Dan ada fakta baru yang kami dapatkan"
"Apa"
"Ia juga mengakui telah melenyapkan satu nyawa lagi" Gala langsung menegakkan badannya. Ia takut akan mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan dari ini.
"Siapa?" tanyanya dengan tak sabar.
"Seorang perempuan muda" jawab Pak Kapolres dengan ekspresi tak terbaca. Gala langsung berdiri dari duduknya.
"Izinkan saya yang akan menghukum bajingan itu dengan tangan saya sendiri!" ujar Gala dengan emosi yang tidak bisa ia kendalikan. Tangannya terasa sangat gatal ingin memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk Robby Todler. Ia sampai memukul meja kerja Kapolres yang terbuat dari kaca itu hingga mengakibatkan keretakan dan tangannya juga berdarah.
"Hei, aku bisa menuntutmu karena telah merusak fasilitas negara" ujar Supirman bercanda melihat mejanya sudah retak dan pecah.
"Aku akan menggantinya dengan meja baru berapapun yang engkau mau pak Kapolres" Supirman tertawa terbahak-bahak. Ia tahu berapa kekayaan Gala Putra Raditya.
"Lalu dimana jasad perempuan itu" tanya Gala takut. Ia berharap bukan Vitalah korbannya yang lain.
"Ia membuang mayat Almarhum Tama dan Istrinya Gita di sungai C kurang lebih 2 tahun yang lalu setelah meminumkannya kopi bersianida.
"Biadaaab!" umpat Gala dan sekali lagi memukul meja kaca itu hingga betul-betul sudah tak berbentuk. Tangannya pun sudah mengeluarkan banyak darah.
"Serahkan kepada aparat untuk menyelesaikan kasus ini" Ujar Pak Kapolres sembari membalut luka di tangan Gala. Ia hanya mengangguk lemah. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan nyawa Abang dan kakak iparnya.
Ia setidaknya bisa bernafas lega sedikit karena Vita masih punya harapan untuk ditemukan. Ia cukup lelah hari ini. Ia ingin pulang istirahat sembari menunggu kiriman data dari pihak otoritas bandara internasional SH.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, nikmati alurnya ya...
Jangan lupa like, komen, dan kirimlah bunga setaman atau kopi segentong.
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1