
Nyonya Mawar Raditya bersama Deka Roland sudah bersiap kembali ke ibu kota. Mereka berdua yang sudah berada di kota Daeng ini selama hampir 3 hari tidak bisa lagi tinggal lebih lama. Begitu banyak pekerjaan yang menanti mereka di Perusahaan. Setelah mengunjungi makam orang tua Vita Maharani, besannya dalam dua kali kesempatan itu mereka pun berangkat ke bandara sambil tak lupa berpamitan kepada ibu RT yang ia tahu bernama daeng Intang sebagai pengganti orang tua dari Vita.
"Terima kasih daeng karena sudah banyak membantu proses pernikahan putra saya bersama Vita Maharani," ujar Nyonya Mawar sembari menyalami wanita paruh baya itu.
"Sama-sama Bu. Kami juga banyak berterima kasih kepada keluarga ibu yang sangat membantu acara ini hingga terlaksana dengan baik." ujar daeng Ngintang dengan tersenyum bahagia. Nyonya Mawar mengangguk dan membalas senyumannya.
"Semoga selamat sampai tujuan bu." lanjut daeng NgIntang ramah. Ia senang bertemu dan menjalin hubungan dengan keluarga kaya ini karena tidak sombong dan sangat ramah.
"Kami menunggu kedatangan ibu lagi kemari bersama keluarga" lanjutnya lagi.
"Insyaallah kalau kami ada waktu dan kesempatan."
"Baiklah kami pamit ya, Mohon Rama dijaga ya daeng kalau Papa mamanya lagi berduaan di kamar," bisik Nyonya Mawar dengan suara yang cukup besar sehingga membuat Gala dan Vita langsung tersedak dan terbatuk bersamaan.
Jangan ditanya bagaimana warna wajah Vita sekarang, ia merasa malu dengan kata-kata mama mertuanya. Bagaimana tidak, Gala tidak pernah melepaskannya sedikit saja hingga Nyonya Mawar berubah menjadi Baby sister yang selalu menjaga dan menemani Rama bermain jika mereka berdua sudah mengunci diri di kamar.
"Ayok, nanti kita telat check in nya." Nyonya Mawar dan Deka akhirnya berangkat ke Bandara diantar oleh kedua pengantin baru itu beserta Rama.
Dan setelah mereka sampai di tempat tujuan. Deka tidak segera masuk di area terminal keberangkatan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ia menghampiri Gala sang General Manager yang sibuk bercanda dengan istrinya.
"Pak cepat kembali ngantor ya, banyak pekerjaan menunggu bapak," ujar Deka dengan wajah sendu. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana kesibukannya nanti kalau Gala masih bertahan di sini.
"Tidak! Aku masih mau berbulan madu di sini," jawab Deka tegas.
__ADS_1
"Tapi, Pak. Bulan madunya kan bisa dilanjutkan di Perusahaan," jawab Deka lagi memberi saran. Ia tak tahu saja bagaimana rasanya jadi pengantin baru.
"Iya bawel, perasaan kamu cuma bilang itu terus menerus seperti tidak punya kata-kata lain." Gala mendelik kesal ke arah Deka sepupunya.
"Aku memang cuma punya kata-kata itu pak, tidak ada yang lain." jawab Deka dengan senyum menyebalkan.
"Ya sudah masuk sana, temani mama."
"Aku kembali besok." jawab Gala sembari menatap Vita berharap istrinya itu setuju untuk kembali ke Ibu Kota besok tetapi Vita sepertinya tidak mengerti maksudnya. Ia sibuk menemani Rama mengobrol dan bercanda.
Gala segera mendorong tubuh Deka untuk menyusul Nyonya Mawar ke dalam area terminal keberangkatan dimana mamanya menunggu.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Kalo gitu kita balik juga hari ini pak," ujar Vita setelah berhasil menenangkan Rama dan akhirnya anak itu tertidur di pangkuannya.
"Katanya belum mau ninggalin rumah kenangan..." jawab Gala menggoda. Ia juga sebenarnya sudah mengajak Vita untuk kembali ke Ibu kota tetapi istrinya ini masih belum mau meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan indah dengan almarhum ibu dan bapaknya ini.
"Iya deh, aku kalah..." ujar Vita tersenyum.
"Lihat, Rama kayaknya udah lengket banget sama mama, ditinggal dikit aja udah nangis gini."
"Itu karena usaha kita berdua sayang," ujar Gala sembari mengelus pipi Vita dengan punggung tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang stang kemudi. Ia tampak tersenyum dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Usaha yang mana coba?" jawab Vita tersenyum.
"Eh, kita kan selalu memberi mama dan Rama waktu berdua sehingga kita bisa ekhem setiap saat," jawab Gala yang langsung mendapat cubitan di pahanya.
"Awww, ganas kamu ya," ujar Gala pura-pura meringis. Vita hanya diam sembari mengingat kalau selama menjadi istri dari atasannya ini. Ia memang lebih banyak berdua di dalam kamar melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan dan hampir tidak punya waktu lagi untuk Rama putranya.Tiba-tiba pipinya menghangat dan senyum samar pun muncul di bibirnya.
"Eh, mikir apa istriku kok senyum-senyum sendiri?" tanya Gala setelah melihat Vita diam dan hanya tersenyum sendiri.
"Mikirin yang tadi pagi ya..." tebak Gala karena ia juga tiba-tiba memikirkan kegiatan panas yang mereka lakukan tadi pagi sehabis sholat subuh yang beda rasanya dari biasanya. Kali ini lebih mengguncang karena Vita sudah nampak rileks dan nyaman setelah selama ini mengaduh sakit.
"Ish dasar mesum" ujar Vita malu dan langsung membuang pandangannya keluar jendela. Gala tertawa terbahak - bahak dibuatnya. Ia senang menggoda istrinya itu.
Setelah itu mereka diam dan tak ada yang memancing pembicaraan. Vita menyusul Rama tertidur. Gala hanya menatap istrinya penuh cinta. Ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya yang selama beberapa hari ini tidak punya waktu tidur yang banyak gara-gara melayani keinginannya yang terlalu banyak dan sering.
Dalam hati ia mengungkapkan rasa syukur tiada henti. Vita Maharani begitu banyak memberikan rasa bahagia dalam hidupnya dan keluarganya.
Jodoh yang dipilihkan Allah untuknya, "Semoga kami bahagia selalu dan mampu menghadapi ujian-ujian hidup ke depannya," ujarnya dalam hati dengan penuh pengharapan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai hai readers tersayangnya othor, jangan lupa like, komentar , dan kirim hadiahnya ya...
Jangan cuma senyum-senyum aja tidak jelas. Berikan semangat padaku supaya rajin update hihihi.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍