
Gala Putra Raditya bersama tim IT server TGR merayakan keberhasilan mereka yang telah melumpuhkan para hacker itu dengan makan di sebuah restoran mewah di daerah itu. Deka sengaja memilih tempat itu yang mempunyai fasilitas lain dari yang lain.
Para pejuang server butuh yang segar-segar setelah lama berkutat dengan perangkat lunak beserta kode dan sandi-sandi rahasianya. Tempat ini paling banyak disukai oleh hampir semua karyawan Laki-laki di Perusahaan besar sekelas TGR ini, pasalnya Restauran yang juga menyediakan fasilitas salon dan spa tentu saja selalu ramai oleh perempuan modis dan seksih yang selalu wara-wiri di tempat ini.
"Pak Deka paling pintar milih tempat," ujar salah seorang diantara mereka dengan seringaian senang dengan pandangan mata tak lepas dari seorang perempuan cantik yang baru keluar dari salon. Kebetulan posisi salon dan spa berhadapan langsung dengan restoran tempat mereka makan.
"Jempol 4 untukmu pak," yang lain ikut menambah pujian. Deka hanya memasang senyum bangga.
"Pas banget kalau mata lagi sepet lihat yang bening-bening begini bikin mata langsung cerah," yang lain tak mau kalah. Dengan ucapan-ucapan khas laki-laki saat melihat lawan jenis yang menarik perhatian.
"Hei, itu Nona Shasi Aurora kan?" tanya Deka sembari menyenggol bahu Gala pelan. Ia melihat gadis itu keluar dari salon dengan tampilan cukup terbuka hampir mempertontonkan semua aset yang ia punya. Sepertinya gadis itu sudah selesai dengan urusannya. Ia bersama beberapa gadis yang tak kalah seksih dari dirinya sedang menuju Valet.
Gala tak menggubris perkataan Deka. Ia tak peduli dengan perempuan lain. Ia sibuk menghubungi Vita yang sampai sekarang belum tersambung. Nomor istrinya sedang tidak aktif dan diluar jangkauan kata operator setiap kali ia menghubunginya.
"Kalau kalian masih ingin di sini, silahkan, aku pulang duluan," ujar Gala sembari berdiri dari duduknya. Ia ingin melihat Vita istrinya yang ia pastikan ada di rumah kediaman Raditya.
"Pak GM kayaknya udah rindu banget ya, sama Nyonya muda," seseorang berujar dengan nada menggoda. Gala hanya tersenyum lalu menjawab.
"Sangat, " jawab Gala singkat dengan senyum samar di bibirnya kemudian berlalu dari meja mereka. Ia betul-betul ingin pulang sekarang.
Sementara itu di dalam sana,
Vita Maharani menangis diam-diam sembari menelungkupkan wajahnya di bantal. Badannya terasa relax dan nyaman setelah mendapat treatment berupa body massage tetapi tidak dengan hatinya.
Seonggok daging dalam dirinya itu bagai diremas hingga tak berbentuk. Sakit dan perih namun tak berdarah. Berbagai macam prasangka buruk begitu mengganggu otaknya. Ia sangat terpengaruh akan perkataan Sashi tadi. Perubahan suaminya yang tiba-tiba menambah alasannya untuk mempercayai kata-kata wanita ular itu.
Andaikan Gala Putra Raditya itu ada dihadapannya sekarang, rasanya ia ingin mengulek-uleknya menjadi bumbu. Ia marah dan sangat jijik akan perbuatan suaminya itu.
Setelah selesai dengan urusannya di salon itu. Ia memutuskan kembali ke rumah ibu kostnya saja. Ia ingin menenangkan diri daripada nanti bertemu dengan Gala di rumah dan malah membuatnya semakin membenci pria itu.
"Hei, itu bukannya Nyonya GM ya?" seorang karyawan IT yang masih betah di restoran menunjuk ke arah Vita yang melangkah semakin menjauh dari tempat itu.
"Kamu salah lihat kali," yang lain ikut menimpali.
"Bisa jadi..."
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
"Vit..." teriak Pandu yang melihat Vita baru keluar dari salon dengan langkah terburu-buru. Vita langsung menoleh saat ia tahu pemilik suara itu.
"Mau kemana? buru-buru banget..." ujar Pandu setelah berlari pelan untuk menghampiri Vita yang cukup berjarak dengannya.
"Kamu ada di sini?" tanya Vita balik bertanya tanpa mau memandang wajah Pandu. Ia tak mau pria itu melihat matanya yang memerah karena habis menangis.
"Aku ada meeting di tempat ini bersama klien," jawab Pandu dengan pandangan menelisik ke wajah Vita yang berusaha menghindarinya.
"Tapi sudah selesai, aku antar pulang ya," ujar Pandu sembari menarik tangan Vita ke mobilnya. Ia tahu Vita sedang sendiri dan mungkin juga tidak sedang menunggu seseorang dilihat dari gerak-geriknya. Vita pasrah dan tak ingin menolak.
"Kamu tega, tidak bilang kalau sudah menikah," ujar Pandu ditengah keheningan di dalam mobil.
Eh
Vita hanya diam dan bertahan tidak mau bicara. Pandu menghela nafas panjang lalu berujar.
"Kita sebentar lagi sampai di rumahmu, tapi kamu belum mau bicara, ada apa?" tanya Pandu tenang, ia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi di sini.
Gala Putra Raditya turun dari mobil dengan langkah cepat dan ringan seakan terbang. Ia sedikit berlari memasuki rumah kediamannya dengan hati yang ringan saking bahagia dan senangnya bisa kembali pulang dan bertemu perempuan cantik yang ia diamkan selama beberapa hari ini.
"Gal, udah pulang?" tanya Nyonya Mawar saat melihatnya melewati ruang keluarga.
"Iyya, ma..." jawab Gala singkat kemudian menghampiri mamanya yang sedang menemani Rama bermain.
"Gimana keadaan server?" tanya Nyonya Mawar lagi. Ia teringat akan masalah yang menggangu Perusahaan beberapa hari ini.
"Alhamdulillah, sudah kami atasi, ma... Aku ke atas ya..." ujar Gala dengan senyum senang sembari melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
"Istrimu belum pulang sejak tadi," perkataan mamanya menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia langsung berbalik lagi dan menatap mamanya intens.
"Maksud mama?"
"Iyya, tadi pagi ia izin mau keluar katanya mau refreshing begitu."
__ADS_1
"Tapi eh, katanya nanti izin lewat WhatsApp ke kamu, sudah kamu cek belum?" Nyonya Mawar menjelaskan tentang kepergian Vita tadi pagi. Gala langsung membuka smartphonenya dan mendapati banyak panggilan masuk dari Vita sejak kemarin termasuk pesan meminta izin keluar pagi tadi.
Ia melihat jam tangannya dan mengernyitkan dahinya.
"Tapi ini sudah jam berapa ma,..." rasa khawatir tiba-tiba merasuki hatinya. Ini sudah hampir waktu sholat isya dan Vita bahkan tidak bisa dihubungi.
"Apa Vita tidak memberi kabar lagi dimana posisinya sekarang?"
Gala menggeleng karena sedari tadi menghubungi nomor Vita tetapi belum aktif juga.
"Kamu istirahat dulu nak, beberapa hari ini kamu bahkan tidak tidur," ujar Nyonya Mawar saat melihat wajah Gala yang sangat kusut tetapi tak mengurangi ketampanan putranya itu.
"Vita pasti kembali, mungkjn sedang terjebak macet," ujar Nyonya Mawar menenangkan agar putranya tidak khawatir dan segera beristirahat. Ia takut Gala jadi sakit.
Gala mengikuti saran mamanya, walaupun ia sangat khawatir tetapi tubuhnya betul-betul butuh tidur walaupun sebentar saja karena 2 hari ini tidak sempat menutup mata sama sekali. Ia pun melangkah menuju kamarnya berharap Vita baik-baik saja di luar sana.
Lama ia membolak-balikkan badannya di atas ranjang tetapi matanya ternyata tidak bisa diajak kompromi. Ia tetap tidak bisa tenang kalau istri tercintanya tidak berada di depan matanya sekarang. Akhirnya ia bangun dan meraih kunci mobil, ia harus menemukan Vita malam ini juga.
"Dek, Vita tidak ada di rumah sejak pagi tadi" ujar Gala setelah sambungan teleponnya terhubung dengan sepupunya itu yang entah ada dimana sekarang.
"Kok bisa?" tanya Deka dari ujung sana heran.
"Cari sekarang! tidak usah banyak tanya." Gala menutup panggilannya dengan sedikit emosi. Ia mau Deka membantunya menemukan Vita. Ia mengemudikan mobilnya sesuai instingnya saja tanpa tahu kemana arah yang ingin ia tuju. Beberapa menit menit kemudian Smartphonenya berbunyi.
"Ya, halo..." jawabnya setelah tahu bahwa Deka yang menghubunginya.
"Aku segera kesana." jawab Gala semangat saat Deka menyampaikan kalau Vita baru saja terlihat di restauran itu beberapa jam yang lalu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayangnya Bhebz, masih setia di sini kan ya...
Jangan lupa like, komen, dan kirim hadiahnya yah supaya aku makin semangat updatenya.
Sambil nunggu update berikutnya, mampir kuy di karya teman othor di bawah ini. Dijamin asyik pokoknya.
__ADS_1