Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 24 Reno Sebastian


__ADS_3

Kediaman Tuan Raditya


Prang


Bunyi nyaring benda-benda yang jatuh berdentingan cukup memekakkan telinga.


Nyonya Mawar berdiri di sudut ruangan dengan mata nyalang memandang Reno Sebastian sang asisten. nafasnya memburu. Ia lupa kalau harus menjaga stabilitas jantung nya agar tidak berakhir di ruangan ICU.


Pecahan kaca dari benda-benda antik koleksinya sudah mendarat cantik di lantai.


Semua orang tahu, kebiasaan Nyonya yang satu ini. Ketika ia marah usahakan ia sedang berada di ruangan kosong tak berpenghuni.


Sayangnya Reno Sebastian yang baru sekitar satu bulan menjadi asisten kepercayaan nya itu tidak tahu menahu kebiasaan unik ibu Presdir ini.


"Maafkan kami Nyonya" Reno menunduk dalam.


"Kami sudah menyisir seluruh kota dan kami tidak menemukan informasi sedikit pun tentang keberadaan Pak Tama" ujar Reno tenang kemudian menarik nafas, ini adalah tugas yang sangat berat. Pasalnya orang yang dicari adalah orang yang sudah lama menghilang sekitar 5 tahun yang lalu.


Kurangnya petunjuk membuatnya sangat kewalahan menemukan target.


"Apa saja yang kamu kerjakan, Hah?" teriaknya dengan nada sepuluh oktaf.


"Aku pikir seminggu cukup untukmu mencari dimana keberadaan putraku!"


"Tapi apa?"


"Kamu tidak pernah bekerja maksimal!"


"Kamu dipecat!" Ujar Nyonya Mawar masih dengan emosi setinggi gunung. wajahnya merah.


Reno menghela nafas berat. Di satu sisi ia sangat bersyukur tidak lagi bekerja bersama Ibu Presdir "TGR" Global Company yang sangat arogan dan bossy tetapi di sisi lain, Ia merasa akan kehilangan kesempatan bertemu dengan seseorang yang cukup berarti dalam hidupnya.


Ia melangkah mundur dan tak berniat menatap mata nyalang Nyonya Mawar. Satu bulan adalah waktu yang sangat singkat dari target yang ingin ia capai.


Target untuk mendapatkan hati Vita Maharani cinta pertamanya, yang ia sesali seumur hidupnya karena tak pernah berani memperjuangkan nya.


"Baik Bu, terima kasih sudah memberikan saya tempat di Perusahaan ibu" Ujar Reno Sebastian untuk yang terakhir kalinya. Ia menyimpan semua data-data tentang Tama di atas meja kaca di depan nyonya Mawar Raditya.


Ia pun keluar dari kediaman Tuan Raditya dengan sejuta rencana.


🍁🍁🍁🍁🍁


Reno Sebastian berdiri kaku di depan Vita Maharani. Lidahnya terasa Kelu. ia bahkan sulit menelan salivanya sendiri.


"Ehem" Vita berdehem. Berharap tubuh tegap Reno bisa bergeser sedikit agar ia bisa lewat. pasalnya badannya yang tinggi tegap bagaikan anggota Paspampres berdiri dengan kaku di lorong sempit dekat toilet.


"Maaf, Pak?" ujar Vita berusaha bicara dengan nada se datar mungkin. Ia tak ingin Reno Sebastian, seorang teman dari masa lalunya mengenalinya.

__ADS_1


Reno menggeser badannya beberapa derajat hingga tubuh langsing Vita Maharani bisa melewatinya.


"Terima kasih" Ujar Vita ketika tubuh mereka sudah berjarak sangat tipis.


"Vita?" Ujar Reno pelan bagai hembusan angin. mengalun seperti suara gumaman. Tetapi kuping Vita mampu menangkap suaranya.


Langkahnya ia percepat berpura-pura tidak kenal dan tidak mendengar suara itu.


"Sepertinya ia tidak ingin mengingatku lagi" bisik Reno dalam hati. Ada rasa kecewa yang menyeruak ke permukaan. Ia mengayun langkahnya pelan dengan ekspresi tak terbaca.


Vita menolehkan kepalanya memandang punggung lebar Reno yang semakin menjauh. Ada rasa kesal dan sesak yang menyeruak bersamaan dalam hatinya.


Menghela nafas kasar, ia melanjutkan langkahnya kembali ke ruangan nya.


"Hhhh ternyata dunia begitu sempit" gumamnya dalam hati.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari berganti hari, aktifitas Vita Maharani begitu sangat padat. Selama ini biasanya ia pulang sekitar pukul 5 sore tetapi tidak untuk hari ini. Ia lembur dan terpaksa pulang larut.


Cemas dan gelisah mengiringi langkahnya di ruangan yang cukup sepi. sepertinya semua karyawan sudah pada pulang. Bulu kuduknya meremang.


tap


tap


tap


Ternyata sepi. tidak ada orang di sini. Ia menggosok tangannya yang sedikit dingin berulang kali. melanjutkan kembali langkahnya tetapi kali ini ia melepaskan sepatunya dan menuntunnya bersama tas kecil yang selalu menemaninya .


Seharusnya ia pulang saja tadi bersama Hany.


Aahhh menyesal sekarang tak akan berguna lagi.


Semakin dekat ke arah pintu keluar. Vita Maharani seolah ingin terbang dan berharap cepat-cepat meninggalkan kantor berlantai puluhan ini.


"Aaaaaaah faster beb" kupingnya menangkap suara merdu mendayu-dayu. Otomatis langkah yang sudah seringan kapas berhenti. menengok ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara.


Pandangan matanya tertumbuk pada suatu ruangan yang pintunya masih sedikit terbuka sehingga cahaya remang-remang memantul keluar.


Entah kenapa jiwa kepo nya muncul tanpa diundang. Ia mengendap-endap menuju ruangan yang ia curigai sebagai tempat asal muasal suara menggoda tadi.


"Hmmm, yang itu..." Sekali lagi suara mendayu dan menggoda terdengar dari dalam. kali ini tubuhnya merespon dengan sempurna. Vita menyapu tengkuknya yang meremang.


"Aaaaaaah" Teriaknya tertahan ketika mulutnya tiba-tiba dibekap oleh sebuah tangan besar. mata indahnya serasa ingin melompat keluar karena kaget dan juga karena dibekap terlalu keras.


"Sssst!" Ternyata suara seorang pria yang memberinya kode agar berhenti berontak. Ia menurut atau nanti kehabisan nafas.

__ADS_1


perlahan tangan besar itu melonggar dan akhirnya lepas.


"Kau?" Tanya Vita seolah tak percaya dengan penglihatan nya sendiri. Lobi gedung itu memang sudah gelap tapi ia yakin kalau matanya masih berfungsi dengan baik.


Pria itu memakai Coat panjang berwarna hitam, begitupun celana panjang dengan warna senada. Ia tersenyum tipis, saking tipisnya sampai-sampai Vita tidak menyadarinya.


Ia adalah Reno Sebastian mantan asisten ibu Presdir. Vita mengernyit bingung, Apa yang dilakukannya di sini? bukankah ia sudah tidak bekerja di perusahaan ini lagi?


Ia tahu kabar itu dari Hany, sahabatnya yang sangat mengidolakan pria dingin dan datar ini.


"Aku antar kamu pulang!" tegas Reno sambil menarik tangan Vita menjauhi ruangan laknat yang masih mengeluarkan aura panas dan menggelora.


Vita Maharani mengekor di belakang Reno Sebastian dengan patuh. Ia masih penasaran akan kehadiran pria itu secara tiba-tiba. dan ruangan yang tadi, ada apa di dalam?


"hmm" Vita mendengus, mungkin lain kali ia akan melakukan penyelidikan khusus tentang ruangan itu.


"Ayo masuk!" ujar Reno sambil membuka pintu mobilnya dengan nada memerintah.


"Maaf, tidak usah" jawab Vita datar.


"Saya bawa motor dan bisa pulang sendiri"


Vita menolak, ia merasa tak pernah se akrab ini dengan seorang Reno Sebastian. Mantan ketua kelasnya yang menurutnya sangat jaim, Jaga Imeg.


"Tapi, ini sudah sangat larut"


" Motor kamu aman di sini" Reno nampak memaksa dari nada suaranya yang tidak se datar wajahnya.


"Ya sudah kalau begitu saya akan pakai motormu dan kamu ikut dibonceng" Putus Reno Sepihak.


"Hellow, sejak kapan orang ini SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) begini?" teriak Vita dalam hati.


Ia ingat tak pernah bicara sedikitpun dengan pria yang bernama Reno ini dimasa lalu. Lalu sekarang?


Akhirnya kakinya melangkah masuk dan duduk dengan tenang dalam mobil Reno. Ia tidak bisa membayangkan ia akan duduk sangat berdekatan dengan Reno jika pakai motor. Terlalu riskan menurutnya.


Perjalanan yang ditempuh sekitar tiga puluh menit itu berlalu begitu saja. tidak ada seorang pun yang berniat memulai pembicaraan. mereka berdua sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Terima kasih" ujar Vita kalem setelah mobil Reno tiba di depan rumah kost-kostan nya.. Ia turun dengan langkah pasti. Tak ingin berbalik lagi untuk berbasa-basi. Ia mantap ingin melupakan masa lalu.


"Yes" ujar Reno sambil mengepalkan tangan nya di udara.


"Awal yang bagus" ujarnya lagi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih banyak readers tersayang masih setia standby membaca karya othor yang receh ini.

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, and Komen yah. bunga atau secangkir kopi bolehlah sebagai penyemangat othor.


__ADS_2