
Vita Maharani tidak tahu harus melakukan apa. Yang jelasnya badannya sekarang hampir limbung karena gemetar. Bayangan sang GM meminum obat atau racun itu membuatnya takut setengah mati.
Apakah ia harus memberitahu Gala akan hal ini walaupun hubungannya dengan pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Ia merasa enggan untuk memulai berbicara dengan Gala. Hatinya masih terluka. Dan ia berjanji dalam hati tak akan mau menyambung hubungan dengan GM itu kecuali urusan pekerjaan.
Menarik nafas panjang ia keluar dari ruang ganti itu sembari memperbaiki letak topengnya.
"Sebaiknya aku pantau saja dari jauh" ujarnya dalam hati. Ada untungnya ia sudah mengganti gaunnya jadi hanya orang terdekat saja yang mengenalinya sehingga ia bebas menjadi detektif dadakan.
Suasana pesta semakin ramai. Tarian dan nyanyian dari beberapa artis ibu kota semakin menambah keceriaan pesta malam ini. Semua tamu undangan menikmati segala suguhan acara. Ada yang ikut bernyanyi dan menari tetapi ada yang hanya sibuk menikmati makanan mewah yang baru mereka temukan.
Di Pojok-pojok ruangan dimana terletak sajian makanan dan minuman terlihat banyak tamu yang sedang bersenda gurau sembari mencicipi semua hidangan.
"Selama aku kerja Di Perusahaan ini baru kali ini pimpinan mengadakan pesta sebesar ini" ujar salah seorang karyawan TGR global Company.
"Iya betul, ini berkat Ibu Vita Maharani yang baik hati itu" ujar yang lain menimpali.
"Kita kecipratan rezeki ibu Vita Maharani" seorang OB ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Mana pernah level bawah kayak kita diundang ke acara besar seperti ini" Pak security tak mau kalah memberikan pendapatnya.
"Kita bisa makan gratis, dan bisa lihat artis-artis dari dekat"
"Eh, iya lho makanan di sini enak-enak tidak seperti di rumahku"
"Hahahaha"
"Eh, ini bukannya atas perintah Pak GM yak"
"Iya juga sih"
"Eh, Ibu Vita itu single parent lho mama muda"
"Tapi cantiknya luar biasa, dan masih segarrr"
"Aku membayangkan Ibu Vita bersanding dengan pak GM"
"Iyya, mereka berdua serasi sekali"
__ADS_1
"Kita doakan saja ibu Vita Maharani berjodoh dengan GM kita"
"Aamiin" ujar Gala dalam hati ketika ia melewati mereka. Hatinya berdebar kencang karena senang luar biasa. seulas senyum terbit dari bibirnya yang agak tebal.
Tidak ada satupun diantara mereka yang sadar kalau pak GM yang mereka bicarakan sedari tadi memperhatikan obrolan dan candaan mereka. Ia sengaja berkeliling memastikan kenyamanan semua tamunya. Sekaligus mencari dimana keberadaan Vita Maharani sang gadis pujaannya.
Vita Maharani terus mengawasi tamu atau pelayan yang menurutnya aneh dan mencurigakan.
Matanya tertumbuk pada sosok seorang pria dengan stelan jas berwarna hitam dengan topeng Spiderman diwajahnya. Pria itu kelihatan celingukan tidak jelas sembari berbicara lewat earphone di kupingnya.
"Hmmm, patut dicurigai" gumamnya dalam hati. Netranya memaku pergerakan pria aneh itu. Kemana pria itu melangkah ia selalu mengikutinya sampai ia menabrak pelayan yang sedang membawa minuman dalam nampan.
"Eh, maaf maaf" ujar Vita merasa bersalah. sembari berjongkok membantu pelayan itu membereskan beberapa minuman yang tumpah.
Tak ada respon dari wajah sang pelayan. Ia hanya memandang Vita dengan ekspresi yang tak terbaca. kemudian ia berlalu menjauh untuk mengambil minuman lainnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tegur seseorang dari arah belakang Vita.
"Eh, Reno?" ujar Vita mengenali suara Reno walaupun ia sedang memakai topeng.
"Beneran gak papa?" tanya Reno lagi khawatir melihat gaun Vita ketumpahan minuman.
Gala yang dari jauh melihat insiden itu segera datang menghampiri dengan langkah cepat.
Begitupun Miska Ia sempat mengenali siluet Reno dari jauh tetapi entah kenapa kepalanya rasanya pusing sekali sehingga ia tak jadi menegur Reno. Ia hanya menyandarkan tubuhnya yang ramping ke dinding. Setelah itu ia sudah tidak melihat apa yang terjadi.
"Oh. Tuan Sebastian!" Ujar Gala bermaksud menyapa tetapi dengan nada suara yang sangat tidak enak didengar.
"Oh Hai Pak General Manager!" Reno balik menyapa dengan menampakkan senyumnya.
"Apa ada yang membuat anda tidak nyaman?"
tegur Gala sedikit tak rela melihat tangan Reno sempat ingin menyentuh tubuh Vita.
"Maafkan pelayanan kami tuan yang mungkin kurang menyenangkan" Ujar Gala lagi berbasa-basi.
"Oh tidak, Acara ini sangat menarik dan saya menikmatinya. Saya cuma ingin memberi selamat kepada Nona Vita Maharani" jawab Reno canggung. Ia salah tingkah dengan tatapan mata elang Gala yang seakan ingin mengunyahnya hidup-hidup.
Seorang pelayan datang dan berdiri dihadapan mereka bertiga. Reno yang merasa gerah dan canggung langsung mengambil minuman yang disodorkan pelayan itu dengan sekali tegukan.
__ADS_1
"Kelihatannya anda sangat haus tuan Sebastian"tegur Gala dengan senyum miring andalannya. Ia tahu Reno sedang ingin mengambil perhatian Vita dan ia tak akan mau memberinya kesempatan sedikitpun.
Gala juga meraih segelas cairan berwarna merah dalam cawan khusus tetapi melihat Vita Maharani meninggalkannya ia menyimpan kembali minuman itu ke nampan dan mengejar gadis itu yang sedang melangkah menuju toilet.
Ada rasa jengkel dihati Reno melihat perhatian Gala pada Vita. Ia sampai tidak menyadari sudah hampir meminum semua minuman di nampan yang dibawa pelayan tadi termasuk cawan yang diletakkan Gala tadi.
Ia melangkah keluar ballroom berusaha mencari udara segar. Suara musik yang berdentum keras membuat kepalanya serasa mau pecah. Gerah dan resah serta perasaan aneh lainnya membuatnya tersiksa. Rasanya ia menginginkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu namanya. Ia merasa bergairah dan itu sungguh tidak bisa ia kendalikan.
Diantara kesadarannya yang kian menipis. Reno merasa dirinya melayang dalam sebuah halusinasi yang memabukkan. Seseorang yang tidak ia kenal membawanya ke suatu tempat.Ia bagai kerbau dicucuk hidungnya. Ia mengikuti kemana orang itu membawanya dan sampailah ia pada sebuah kamar dengan pencahayaan yang redup dan samar-samar.
Gairah yang sedari tadi ia coba tahan sekarang sudah mulai memberontak ketika melihat seorang gadis cantik sedang tergolek pasrah di atas ranjang.
Tubuh putih mulus dalam pakaian yang tersingkap itu sangat jelas dalam pandangannya yang berkabut gairah. Ia seakan melambai mengajaknya melepaskan sesuatu dalam dirinya yang sudah berada dipuncak hasrat tertinggi.
Reno bagai harimau lapar menemukan mangsa. Ia melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Efek minuman yang sempat ia minum tadi sudah tak bisa ia kendalikan. Dengan kasar ia merobek semua penghalang yang melekat pada gadis tak berdosa itu.
Dicumbunya seluruh permukaan kulit gadis yang masih dalam keadaan tak sadar itu dengan penuh rasa dan damba. Tak sesentipun ia lewatkan.
Entah darimana keahlian ini ia dapatkan. Padahal ini yang pertama buatnya. Ia bukan hanya menjelma menjadi harimau lapar yang ahli menggigit tetapi ia juga berubah menjadi vampir yang ahli menghisap.
Gadis itu sempat tersadar karena rasa sakit yang teramat sangat seakan merobek inti tubuhnya tetapi ia tak punya daya untuk bangun atau memberontak. Sampai ia kembali tak sadarkan diri karena rasa lelah dan sakit yang luar biasa ia rasakan.
Reno sang dominan tetap berpacu terus dan terus untuk mencapai nirwana tanpa memperdulikan seseorang dibawah sana yang nampak kesakitan.
Ia baru berhenti setelah berhasil melakukan pelepasan berkali-kali dan akhirnya tumbang dengan senyum puas.
"Siapa pun kamu, rasamu sangat legit" Ucapnya sebelum jatuh tertidur.
Di Luar sana tepatnya di Ballroom hotel, tempat berlangsungnya Meet and Greet Party. seorang pria tersenyum senang menerima segepok uang bergambar presiden pertama negara ini. Ia telah berhasil mengerjakan tugas yang diperintahkan bosnya.
"Pulanglah!" perintah pria paruh baya itu tanpa mau memandang orang suruhannya. "Sebentar lagi kekayaan TGR group akan jadi milikku seutuhnya" seringaian jahat kembali muncul dibibirnya yang keriput.
πππππ
Speechless saya, pengen nangis liat Reno...Untuk Mam Ninick jangan nimpuk othor yeh...anakmu tuh yang salahπ¬
Jangan lupa like, komen, hadiahnya juga yah
Happy reading πππππ
__ADS_1