Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 190 Ada Banyak Jalan Menuju Ke Roma


__ADS_3

Vita Maharani menyambut anak dan menantunya di rumah kediaman Raditya dengan penuh suka cita. Rasa bahagia jelas terpancar di wajah sang mama saat melihat Rama dan Rara datang dan langsung memeluknya sayang. Bertambah sudah anggota keluarga Raditya.


"Gimana kabarnya nih pengantin baru." tanya Vita dengan senyum khasnya ingin menggoda yang sedang dimabuk asmara.


"Alhamdulillah baik ma." jawab Rama sembari meremas tengkuknya sedikit malu. Rara tidak menjawab ia hanya melipat bibirnya ke dalam. Merasakan bibirnya sedikit aneh dan bengkak karena sebelum pulang ke rumah. Rama sang suami masih sempat beradu dan mengisapnya lama bak vacum cleaner.


"Rara sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Vita lagi dengan senyumnya. Ia tahu ada yang berbeda dari menantunya ini. Ada aura yang sangat menarik khas pengantin baru yang sudah berhasil melaksanakan ritual berbagi dan menerima yang diberkahi.


"Iyya, ma. Cuma capek aja." jawab Rara dengan wajah polosnya.


"Ram, bawa istrimu istirahat. Kasih jeda juga dong sayang, kasihan kan Rara. Iyya sayang?" ujar Vita sembari memandang wajah putranya yang semakin malu.


"Iyya ma. Aku sampai dibuat pingsan. Aku mau tidur sekamar sama Sovia aja deh." timpal Rara cepat dan berhasil membuat Vita mendelik kearah putranya lagi.


"Eh, Ma. Kok nyalain aku sih." dengan cepat Rama membela dirinya. Ia tak mau disalahkan sendiri atas ucapan Rara sang istri. Rara kan juga termasuk andil di dalamnya.


"Iyya deh, kamu bisa tidur dengan Sovia dulu malam ini." ujar Vita menengahi. Ia tak menyangka putranya lebih ganas dari sang suami si raja bucin Gala Putra Raditya. Ia tak mau anak orang kenapa-napa padahal baru juga menikah kurang lebih 38 jam.


Rara tersenyum senang dan memeluk mama mertuanya dengan gembira.


"Makasih ma." ujar Rara kemudian melangkah ke lantai dua dimana kamar Sovia dan Sarah berada.


"Astaga Ma. Kok bisa begitu sih pengaturannya." gerutu Rama sedikit kesal. Ia mana mau berpisah sedikit saja dengan kucing kriwil yang tampak lugu dan polos itu tetapi kenyataannya sangat liar dan berbahaya di ranjang.


"Sudah, dengarkan mama dan jangan membantah, okey? sekarang temui eyang putrimu sejak semalam ia terus mencarimu." ujar Vita lagi tanpa mau dibantah.


"Baiklah ma." jawab Rama kemudian memandang punggung Rara yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Halooo semuanya." sapa Rara saat membuka pintu kamar Sovia dan Sarah. Kedua gadis itu sedang sibuk dengan gadgetnya. Sovia dan Sarah langsung melempar handphone mereka dan melompat memeluk Rara sang kakak ipar baru.


"Haloo kakak ipar!" teriak keduanya kompak. Mereka memeluk dan mencium perempuan kriwil itu dengan senyum gembira.


"Kak Rama mana?" tanya Sarah antusias.

__ADS_1


"Lagi dibawah sama mama." jawab Rara kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa karena lelah. Pahanya masih ia rasakan gemetar.


"Duh pengantin baru tambah glowing aja nih. Diapain aja nih sama kakak?" tanya Sovia menggoda. Ia tak melepaskan pandangannya pada wajah sahabatnya yang nampak cantik dan berseri-seri.


"Gak diapa-apain." jawab Rara berusaha menutupi debaran di jantungnya jika ingat apa saja yang telah mereka lakukan, dari yang lembut sampai yang ekstrim dan sedikit kasar.


"Ah, boong nih pastinya. Tuh buktinya." ujar Sovia lagi sambil menunjuk leher Rara yang nampak kebiruan.


"Ish, matamu kok jeli banget sih." jawab Rara sedikit malu. Ia berusaha menutupi lehernya sekarang.


"Gak usah ditutupin kak. Anggap itu maha karya dari cucu pertama Raditya. Kan hebat bisa masuk museum." timpal Sarah tak mau kalah dan langsung mendapat timpukan boneka dari Sovia dan Rara


"Awww Kok pada nyerang aku sih." protes Sarah kesal.


"Kamu masih dibawa umur. Gak boleh ikut-ikutan." ujar Sovia dan menatap adiknya tajam.


"Ih kakak, aku udah 19 tahun nih. Aku sering lihat di drama Korea gitu apalagi di film Bollywood. Awww." sekali lagi Sovia melemparinya dengan boneka.


"Lho kok malah bobok di sini. Kak Rama sama siapa dong?" tanya Sovia dan Sarah bersamaan. Mereka berdua bingung dengan kakak ipar barunya itu.


"Udah, aku ngantuk jangan tanya-tanya lagi." ujar Rara sambil menguap, ia betul-betul butuh istirahat sekarang. Semalam ia kurang tidur dan ditambah lagi dengan aktivitas yang cukup melelahkan walaupun sangat menyenangkan.


🍁


Rama kembali ke kamarnya dengan mood yang buruk karena tidak menemukan istrinya di sana. Ia mencoba menutup matanya tetapi tak bisa juga terpejam. Bolak balik ia ditempat tidur karena gelisah. Ia ingin istri kriwilnya itu ada di sini di sampingnya. Meskipun sering bertingkah aneh tetapi ia justru sangat menyukai gaya istrinya itu. Apalagi saat memimpin permainan dan kemudian malah menyalahkan dirinya, ia jadi merasa lucu sendiri.


"Rara, awas kamu ya?" ujarnya pelan sambil tersenyum samar. Ia lantas meraih handphonenya dan menghubungi Sovia adiknya.


"Haloo kak?" sapa Sovia dari ujung telepon.


"Bisa minta tolong gak?" tanya Rama dengan harap-harap cemas.


"Bisa kak, ada apa ya?"

__ADS_1


"Rara lagi ngapain di sana?" tanya Rama lagi.


"Udah tidur kak, katanya capek banget." jawab Sovia lagi. "Kasian kak udah tidur gak ganti baju gitu." lanjut Sovia sembari memandang Rara yang sudah tertidur pulas di ranjangnya.


"Kamu udah mau tidur?" tanya Rama lagi.


"Iya nih udah ngantuk. Sarah juga udah lama tidurnya."


"Aku kesana ya, jangan kunci pintunya." dengan cepat Rama menutup panggilan telepon itu dan melangkah menuju kamar Sovia di lantai atas tapi sebelumnya ia meminta pelayan menyiapkan kamar kosong lainnya di samping kamar adiknya.


"Ram, mau kemana malam-malam begini?" tegur Vita yang kebetulan bertemu di atas anak tangga.


"Mau ke kamar Sovi Ma." jawab Rama sedikit gugup.


'Mau gangguin Rara lagi ya?" tanya Vita curiga. Apalagi ia melihat Rama sedang membawa sebuah gaun tidur yang ia tahu pasti milik menantunya itu.


"Mau bawakan pakaian ganti untuk Rara Ma, gak nyaman pastinya kalau tidur pakai pakaian yang tadi." jawab Rama mencari alasan.


"Sayang," panggil Gala dari arah belakang dan langsung memeluk istrinya itu. Ia tak peduli ada Rama yang menyaksikan langsung keromantisan mereka.


"Rama kok di sini?" tanya Gala tanpa melepaskan pelukannya pada istrinya.


"Mau cari Rara Pa." jawab Rama kemudian segera berlalu dari hadapan kedua orang tua bucinnya. Ia merasa ia sebentar lagi akan seperti mama dan papanya yang dimabuk asmara sampai tak tahu tempat.


Perlahan ia membuka pintu kamar Sovia dan menyaksikan istrinya itu tidur dengan pulas dengan gayanya yang cukup mengganggu banyak orang karena tidak menyisakan ruang untuk Sovia tidur.


"Aku Ambil ya, Sov?" ujarnya kemudian menggendong istrinya yang masih tertidur lelap ke kamar sebelah. Ia akan tidur di kamar kosong itu bersama Rara karena tak akan sanggup mengangkat tubuh istrinya ke lantai satu dan melewati tangga yang panjang dan berkelok-kelok. Ia tak akan bisa tidur kalau tidak menyentuh istrinya ini. Pokoknya ada banyak jalan menuju ke Roma, begitu pikirnya.


---Bersambung--


Hai, readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang banyak supaya othor tetap semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2