Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 34 Terekam Kamera CCTV


__ADS_3

Kediaman Sebastian


Pagi yang cukup buruk. Suara kicauan burung perkutut pak Sebastian yang biasanya meramaikan beranda depan sedang mogok memperdengarkan bunyinya yang merdu.


Angin pun rasanya malas berhembus. Matahari yang biasanya sudah bertugas menyinari bumi juga sepertinya enggan pagi ini. Alam seakan tahu kalau nyonya ratu di kediaman Sebastian sedang tidak baik-baik saja.


Reno memandang wajah mamanya yang sedari tadi merenggut kesal. Tak nampak senyum cerah di wajahnya yang cantik.


Ninick sang mama sibuk keluar masuk dapur membawa beberapa makanan untuk dijadikan sarapan. Ia selalu tak ingin dibantu oleh asisten rumah tangganya. Ia betul-betul ingin mendedikasikan hidupnya untuk suami dan anaknya.


"Ma, sibuk amat sih" tegur Reno sembari duduk di kursi meja makan. Matanya mengikuti terus kemana mamanya melangkah. Ninick berlalu dan mengabaikannya.


"Duduk sini dong ma, biar Reno yang bawa makanan nya kemari" ujar Reno berusaha menarik perhatian mamanya. Ia pun berdiri dan menghalangi langkah mamanya.


"Mama marah sama Reno ya?" tanya Reno sembari mengambil sepiring nasi goreng dari tangan mamanya. Ninick mendengus,


"Iya, Mama marah sama kamu" jawab Ninick sembari memandang tajam putra semata wayangnya.


"Emang salah Reno apa ma?" tanya Reno lagi.


"Kamu mengabaikan Vita dan lebih memilih ulet bulu itu" Ninick berujar dengan mencebikkan bibirnya. Reno menarik nafas panjang. Ternyata mamanya masih kesal dengan kejadian beberapa malam yang lalu.


"Ngak begitu ma, ceritanya" ujar Reno membela diri. Ia tahu mamanya sedikit keras kepala, susah berpindah ke lain hati.


"Lalu ceritanya kayak bagaimana coba?"


"Kamu memang sengaja mempermalukan calon menantuku" Ujar Ninick lagi tak mau tahu.


"Padahal mama sudah capek-capek mengundangnya"


Sekali lagi Reno menarik nafas panjang. Ia pada malam itu juga merasa bingung karena tiba-tiba saja Miska datang dan mengajaknya berdansa. Ia yang belum sempat melepaskan tangannya dari Miska merasa kaget karena tiba-tiba saja gadis itu malah menyatakan cinta pada dirinya.


flash back on


Miska menaruh tangan Reno ke pinggangnya. kemudian mengalungkan tangannya sendiri ke leher Reno. Pencahayaan yang begitu temaram ditambah musik pengiring dansa yang sangat romantis membuat suasana begitu syahdu.


Posisi mereka tak menyisakan jarak. Begitu dekat sampai ia bisa menci*um wangi parfum Miska yang begitu wangi.


Reno sempat melupakan dimana Vita dan sedang bersama siapa saat itu. kejadiannya betul-betul cepat.


Ya ampun, Miska begitu pro merayunya dalam dawai asmara. Ia sempat terkesan pada Miska yang begitu cantik malam itu.

__ADS_1


Hingga, ditengah keintiman itu. Miska berani menge*cuup ujung bibirnya kemudian membisikkan kata-kata manis.


"I love you" bisik Miska pelan di telinganya baru ia tersadar. Ia merasa telah menghianati Vita kekasih pujaan hatinya. Yang selama ini ia jaga dan simpan di tempat terdalam di relung hatinya.


Dengan kasar ia melepas tangan Miska yang masih mengalung di lehernya. Ia meninggalkan nya sendiri di lantai dansa. Ia tak mau tahu bagaimana perasaan Miska saat itu.


Reno butuh udara segar. Ia segera keluar dari ruangan itu dan menuju balkon untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya agar rasa sesalnya sedikit menguap.


flash back of


"Pokoknya mama tidak rela kalau ulat bulu itu jadi menantu mama, titik!" ujar Ninick masih dalam mode kesal.


"Ia gadis yang tidak tahu sopan santun"


"Angkuh dan pecicilan"


Reno kembali duduk di kursi makan. ia berusaha mengabaikan kata-kata pedas dari mamanya.


Bermacam-macam hidangan untuk sarapan sudah tertata rapi di atas meja. Menarik dan cukup menggugah selera. tetapi karena Nyonya rumah masih memasang wajah hambar sedari tadi, akhirnya semua menu jadi terlihat hambar juga.


"Mama pasti melihat kejadian itu" bisik Reno dalam hati, ia ikut-ikutan kesal dan frustasi. Sampai saat ini ia belum berhasil mendapatkan hati Vita dan sekarang Miska malah menghancurkan usahanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah menonton rekaman CCTV di setiap sudut ruangan dalam rumahnya. Ia melihat satu kejadian yang membuatnya bertanduk seketika dan mengeluarkan asap tak kasat mata.


Rekaman pantauan CCTV itu sudah lama terjadi. yah pas ulang tahun Zahwa sang putri. tapi baru kali ini ia sempat melihatnya gara-gara mencari sesuatu yang mungkin bisa terlihat dalam kamera pemantau.


Gala Putra Raditya, sahabat dan juga General Managernya "TGR" Global Company melakukan pelecehan pada salah satu karyawan terbaiknya di Perusahaannya sendiri.


"Oh My God" Ira mengusap wajahnya kasar.


"Apa dia sudah sangat tidak bisa menahan hasratnya sampai dia melakukan nya di rumahku?"


"Ish, menjijikkan!" Ira bergidik ngeri. Ia tak menyangka sahabat dan juga teman almamaternya di Harvard ternyata memiliki hasrat s*ek*sual yang sangat tinggi.


"Hhhh sampe nyosor gitu"


"Kasian Vita yang jadi korban"


"But, wait!"

__ADS_1


"Oh, No! it's impossible" Ira mondar-mandir bagai setrika kepanasan di dalam ruang khusus untuk memantau CCTV di seluruh penjuru rumahnya.


Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya tidak percaya, Gala yang ia kenal sangat tampan dan diminati banyak gadis tidak mungkin melakukan ini. Belum lagi orangnya sangat dingin sama lawan jenis.


"Tapi rekaman itu, oh Sh"iii*t!" berkali-kali ia mengumpat karena kesal.


"Bre*ngse*k kau Gala" ujarnya lagi sembari mere*mas udara.


"Ada apa Kak? ko' kesal begitu kelihatannya?" tanya Pandu yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Ia cepat-cepat menormalkan ekspresi nya.


"Ngak ko' cuma sedikit kesal aja" jawab Ira sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kesal kenapa kak?" tanya Pandu lagi rupanya ia sangat penasaran akan tingkah Kakaknya yang mencurigakan.


"Ma, mama...Sepatu Zahwa yang baru ada dimana?" teriak Zahwa dari arah pintu. Ira langsung bergegas meninggalkan Pandu dan mendekati Zahwa.


"Sini mama tunjukkin" Ira membawa Zahwa ke kamarnya.


Pandu yang masih berdiri di ruangan itu tanpa sengaja melihat video yang sempat dalam mode pause di layar monitor.


Karena penasaran ia mendekat dan mengaktifkan kembali video itu. Tangannya tiba-tiba mengepal kuat dan merasakan hawa panas menyengat dari dalam dadanya.


Pantas saja waktu itu Vita Maharani sangat kelihatan sedih dan kacau, ternyata karena mendapat pelecehan dari Bosnya


"Kurang ajar!"


Ia bergegas keluar dari ruangan itu setelah mematikan layar monitor. Dengan ekspresi tak terbaca ia meminta kak Ira Zerni membuat janji makan siang bersama Sang General Manager mesum itu.


"Untuk apa makan siang bersama pak GM?" tanya Ira penasaran.


"Ada urusan penting yang ingin Pandu bicarakan, bolehkan?"


"Oh iya boleh saja" Ira menyetujui, ia tahu adiknya sedang merintis usaha, mungkin saja ia ingin menjalin kerjasama dengan Gala.


Pandu tersenyum senang. Ia akan memberikan pelajaran yang tak akan dilupakan oleh seorang Gala Putra Raditya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayang, kasih othor semangat dong biar rajin update.


like and komen plisss

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya ya...


__ADS_2