
Rara bersama suaminya datang ke Rumah sakit untuk menjenguk Reza putra Sovia di Rumah Sakit. Mereka berdua terlebih dahulu mengunjungi mama Dyah di rumahnya untuk menitipkan Qiya putri pertama mereka.
"Mama, aku nitip Qiya ya," ujar Rara ketika baru sampai di rumah sang mama. Dyah ternyata sedang healing bersama para ART di rumahnya. Perempuan paruh baya itu sedang bersantai di taman belakang sembari menikmati bunga-bunga yang baru ia tanam. Matanya berbinar bahagia memandang bunga janda bolong dan juga bunga aglonemanya yang begitu subur. Ia ingin menyampaikan ucapan terimakasih pada Suriya, sang sahabat yang banyak memberinya bibit-bibit dari koleksi bunga favoritnya.
"Mama!" panggil Rara dengan suara agak keras karena sang mama yang sepertinya tidak mendengarkannya.
"Granny!" panggil Qiya pada sang granny yang masih sibuk dengan dunianya.
"Eh, Ah, eh kamu Ra' udah lama sayang?" tanya Dyah dengan wajah kaget.
"Ini sudah keriting ma aku disini sama Qiya." jawab Rara sedikit cemberut. Dyah langsung tertawa dibuatnya.
"Kalo itu mama percaya, lihat rambutmu sampe kriwil gitu, hihihi." Dyah semakin tak bisa menahan kelucuan putrinya yang sudah memilki seorang putri itu.
"Ih mama..."
"Granny, hahaha...mama ngambek." ujar Qiya ikut tertawa.
"Udah ah, Rara mau nitip Qiya nih. Bisa ya mama ku sayang." ujar Rara lagi dengan pandangan memohonkan. Ia tak mau dibilang sebagai anak yang tak tahu diri yang suka menitipkan anak pada sang nenek dan mengambil kebebasan waktu mamanya.
"Bisa dong, sama cucu granny kalau mau tinggal disini selamanya juga. Aku seneng. Supaya ada yang temenin granny ya?" Dyah meraih cucu pertamanya itu kemudian menciumnya.
"Kamu bikin lagi aja adeknya Qiya, supaya rumah semakin ramai." lanjut Dyah dengan wajah dibuat serius. Rama yang baru bergabung ditempat itu langsung tersenyum dan mengangkat 2 jempol ke arah ibu mertuanya.
"Setuju tuh Ma." ujar Rama masih dengan senyumnya ia bahkan meraih pinggang istrinya dan memeluknya posesif.
"Kami pamit dulu ma." lanjut Rama kemudian melambaikan tangannya kearah Qiya yang sudah mulai sibuk bermain sendiri.
"Mau kemana sih?" tanya Dyah saat mereka sudah melangkah menjauh.
"Mau jengukin Reza putrinya Sovia. Lagi sakit di Rumah Sakit." jawab Rara dengan suara agak keras.
"Yang sopan dong kalo ngomong sama orang tua, masak sampai berteriak seperti itu sih." tegur Rama pada istrinya.
"Habisnya mama sih, kita udah jauh baru ditanyain." jawab Rara kemudian naik ke mobil yang siap membawanya ke Rumah Sakit. Rama hanya tersenyum melihat istrinya yang semakin cantik kalau sedang cemberut begitu.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di Rumah sakit dimana Reza sang ponakan dirawat. Ada Sarah yang berdiri di depan koridor Rumah Sakit dengan wajah kesal dan marah.
"Sarah? ngapain kamu di sini?" tanya Rama sembari menghampiri sang adik.
__ADS_1
"Handphoneku dicopet kak. Sebel deh, mana ada hal penting lagi di dalam sana." gerutu Sarah dengan wajah kusut bak pakaian yang baru dibilas.
"Handphone yang baru aku hadiahkan sama kamu?" tanya Rama ingin tahu. Pasalnya handphone itu adalah handphone keluaran terbaru dan sangat mahal.
"Iya kak." jawab Rara menunduk. Ia meremas jari-jarinya dengan wajah semakin sedih.
"Lho, kok sedih gitu sih? kan bisa dilacak. Kita hubungi kantor polisi. Imeinya ada kan di kardusnya itu." Rara menyentuh lengan Sarah berusaha memberikan penghiburan.
"Iya, coba deh aku hubungi. Kali aja pencopetnya masih ada di sekitar sini.' ujar Rama sembari mengambil handphonenya sendiri kemudian menghubungi nomor Sarah sang adik.
Tut
Tut
"Sudah tidak aktif." ujar Rama kemudian menatap Sarah. "Sudah jangan sedih gitu, wajahmu jadi tidak cantik kalo ditekuk kayak gitu." lanjutnya dengan tersenyum samar.
"Nanti kubelikan yang baru, tapi aku mau hubungi dulu polisi kenalan aku." Rama kembali membuka layar handphonenya dan menghubungi seorang kenalannya.
"Nah, beres. Ayo kita masuk ke kamar Reza." Rama menarik tangan adiknya itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggandeng tangan sang istri. Tapi ternyata tubuh Sarah tidak bergerak. Ia seperti terkena lem di lantai koridor itu.
"Kok jadi mogok jalan?" tanya Rama bingung. Sarah tetap tak bereaksi.
"Gimana dengan file penting di dalam sana. Kalau terhapus semua?" ujar Sarah dengan mata berkaca-kaca. Begitu banyak file kebersamaannya dengan seluruh anggota keluarga yang ia kadang ambil diam-diam apalagi foto-fotonya bersama Adam sejak mereka masih kecil sampai sekarang.
"Biasanya bisa dipulihkan asalkan kamu simpan di google drive. Gak usah sedih banyak orang pintar yang bisa bantu." ujar Rama tersenyum. Termasuk dirinya sendiri yang jago memilihkan semua data yang hilang dalam handphone atau laptop.
"Kak,"
"Ada apalagi Sarah?" tanya Rama berusaha bersabar.
"Kalau ada pesan penting dari seseorang trus ada yang hapus gimana?"
"Kalau itu sih aku juga tidak bisa bertanggung jawab."
"Huaaaaaaa" tangis Sarah langsung pecah. Rara langsung memeluk adik iparnya itu untuk menghibur.
"Pesannya penting banget ya?" tanya Rara pelan. Sarah mengangguk.
"Dari siapa sih?" tanya Rama yang sudah mulai tak sabar. Ia sampai melihat jam tangannya. Karena ia dan Rara sang istri akan menghadiri undangan makan siang di sebuah tempat bersama relasi perusahaan.
__ADS_1
"Adam." jawab Sarah singkat. Kedua suami istri itu langsung berpandangan kemudian tersenyum.
"Ya ampun. Cuma pesan dari Adam? apa pentingnya. Aku kira pesan dari siapa yang lebih berkelas dari anak itu. Ayo cepat kita ke kamar Reza." Rama segera menarik tangan istrinya dan meninggalkan Sarah yang masih sibuk menghapus air matanya.
"Mas, jangan keras begitu sama adik sendiri." ujar Rara sembari mengikuti langkah suaminya yang begitu cepat.
"Apa aku kelihatan keras sama Sarah?"
"Ya iyalah. Mas Rama bikin Sarah tambah sedih. Lihat kan tambah nangis dia." Rama tidak mengacuhkan ucapan istrinya ia terus melangkah mencari dimana ruangan Reza dirawat.
"Ma? gimana Reza?" tanya Rama saat mereka sudah sampai di kamar perawatan sang ponakan.
"Alhamdulillah udah baik. Sudah tidak demam lagi." jawab Vita yang sedang berbaring bersama sang cucu.
"Sovia mana ma?" kali ini Rara yang ikut bertanya.
"Mama suruh pulang, ia juga kurang sehat, lagi ngidam dianya. Pantas anaknya rewel begini." Rara langsung memandang Rama suaminya yang dibalas senyum samar oleh sang suami.
"Ngomong-ngomong Sarah kemana? udah berjam-jam ini tidak kembali padahal cuma cari obat untuk Reza."
"Mama udah telpon berkali-kali tapi tidak aktif. Bikin Mama khawatir lho Ram."
"Handphonenya ada yg copet di koridor depan ma, dan sekarang ia menangisinya di sana. hehehe." Rama sampai kena sikut sang istri karena tertawa diatas penderitaan sang adik.
"Pantesan. Tapi itu pencopet sempat balas tadi pesan mama. Katanya ia minta tebusan gitu. Tapi mama kira Sarah yang ngerjain mama." jelas Vita dengan wajah khawatir.
"Coba ma sini Rama lihat." ujar Rama dengan wajah serius.
"Mencurigakan!" ujar Rama pelan setelah membaca pesan tersebut.
Jadi penasaran nih, siapa pencopetnya.
---Bersambung--
Eh, untuk readers tersayangnya othor yang belum mampir dikarya othor yang lain, yuks dikepoin. Ceritanya tak kalah menarik lho.
Mana nih dukungannya untuk othor. Like dan komentarnya aku tunggu ya...
__ADS_1