Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 88 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Setelah menghubungi dokter obgyn itu, Gala mencari sosok istri cantiknya yang sempat merajuk karena keinginannya ditolak halus olehnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencoba menemukan Vita di kamar yang sangat luas itu.


"Vit, kamu dimana?" panggil Gala sembari memindai keseluruhan ruangan. Ia sudah mendapatkan solusi dari dr. Mega Risma. Ia harus menyenangkan hati istrinya itu dalam bentuk dan cara yang lain tapi ingat harus hati-hati karena masih rawan dan juga belum pulih betul. Intinya jangan melakukan penyatuan dulu, walaupun sama-sama akan menyisakan rasa yang cukup menyiksa pastinya.


"Vit?" panggilnya lagi.


"Aku sudah siap sayang..." tambah Gala disela-sela panggilannya. Ia melihat Vita sedang berdiri di balkon. Perempuan itu sedang memandang ke atas ke arah langit malam yang pekat dimana bulan masih tampak bersembunyi dibalik awan. Gala tersenyum samar kemudian melangkah menghampirinya.


Memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang kemudian mengecup pelan tengkuknya yang terbuka karena rambutnya yang hitam panjang sedang dicepol asal ke atas.


"Didalam yuk, di sini dingin," bisik Gala lembut. Ia ingin minta maaf kepada istri yang sangat dicintainya itu dengan melakukan apa saja yang membuat Vita bahagia.


"Gak, udah gak mood," jawab Vita sedikit ketus. Keinginannya yang ditolak tadi sudah membuat emosinya berubah. Ia sudah tidak berselera walaupun Gala mulai memberinya sentuhan-sentuhan ke titik-titik sensitifnya.


krukkk


krukkk


Gala menghentikan aksinya saat mendengar bunyi nyaring dari perut istrinya itu.


Krukkk


Krukkk


"Mas, lapar," ujar Vita merajuk manja. Ia membawa tangan besar suaminya ke arah perutnya lalu melanjutkan,


"Dedeknya mau makan Coto Makassar, mas..."


"Emang ada warung Coto buka malam-malam begini?" tanya Gala tanpa melepaskan tangannya pada perut istrinya itu. Ia malah terus mengelusnya di sana dengan lembut.


"Disini bukan di Makassar sayang, yang ada Coto bagadangnya, sampa 24 jam begitu," ujar Gala memberi alasan.


"Kalau Soto di sini banyak," lanjutnya lagi.


"Pokoknya maunya Coto, titik." Gala tidak menjawab ia sedang berpikir akan bertanya pada Mbah Gugel saja dimana ada warung terbuka di jam seperti ini.


"Ya udah kalo gitu, biar dedeknya kelaparan dan tidak bisa tidur," ujar Vita kesal. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Mas itu gak punya perasaan, hiks." mata Vita mulai berkaca-kaca dan akhirnya air matanya tumpah juga. Ia berlari ke arah ranjang dan menumpahkan tangisnya di sana. Gala meraup wajahnya kasar. Ia semakin bingung dengan keadaan emosi istrinya yang gampang berubah.


"Aku minta mbok Jum buatkan ya," bujuk Gala sembari bersimpuh di samping ranjang dimana Vita membenamkan kepalanya di sana. Vita menggerakkan kepalanya seperti anggukan setuju.

__ADS_1


"Iya, tapi harus pakai ketupat, gak mau nasi," Gala mengangguk ia yakin di kulkas pasti banyak persediaan daging. Ia segera berlari ke bawah dan menuju ke dapur.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanya Susan yang kebetulan berada di dapur sedang membersihkan beberapa peralatan dapur.


"Mbok Jum mana?"


"Kurang enak badan tuan," jawab Susan sopan, " Lagi istirahat di kamarnya,"


"Oh ya sudah," Gala segera memutar otak dengan cepat. Tangannya segera menekan tombol panggil.


"Ril, di Cafemu ada Coto Makassar?" tanyanya setelah panggilannya tersambung.


"Tidak, Kalau macam-macam Soto ada," jawab Aril Buank dari seberang sana.


"Tutup saja Cafemu itu, percuma jadi pengusaha kuliner tapi tidak lengkap!"


Tut


Gala menutup panggilannya sepihak. Di sana Aril Buank menatap layar handphonenya dengan ekspresi tak terbaca.


Deka tersentak dari tidurnya. Sayup-sayup ia mendengar pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabar. Ia baru saja menutup matanya setelah membaca beberapa laporan dari Perusahaan. Meregangkan otot-ototnya kemudian ia bangun dari ranjang dan mendapati Gala berdiri dengan seringaian aneh di depan pintu.


"Ikut aku," ujar Gala tanpa basa-basi. Deka menatapnya bingung.


"Ganti bajumu cepat!" mau tidak mau Deka mengikuti perintah Gala. Ia segera kembali masuk ke kamarnya dan mengganti piyamanya dengan pakaian kasual dan jaket saja.


Dalam waktu hampir sejam mereka menemukan sebuah restoran yang menyediakan menu Coto Makassar sesuai arahan Gugel Maps.


"Gala segera melompat turun dari mobil sementara Deka memarkirkan mobilnya.


"Pak GM," ujar Risma Yanti yang kebetulan berada di tempat itu.


"Risma?" ujar Gala juga heran. Ia tak menyangka akan bertemu salah satu karyawannya di sini. Di tempat yang cukup asing menurutnya.


"Mau makan pak?" tanya Risma lagi berbasa-basi. Ia juga merasa kaget berjumpa dengan Bosnya di sini di waktu yang cukup larut. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selalu mendampingi Gala, siapa lagi kalau bukan Deka Asisten sekaligus sekretaris pak GM. Ada rasa kecewa di hatinya karena tidak melihat Deka di sana.


"Saya duluan Pak," ujar Risma yang kemudian meninggalkan Gala di sana. Ia segera menuju mobilnya bersama seorang pria yang Gala curigai sebagai kekasihnya melihat tangan Risma bergelayut di lengan pria itu. Dalam hati Gala berharap Deka tidak melihat pemandangan itu di luar sana.


Tetapi ternyata harapan Gala tidaklah terjadi. Deka justru berpapasan langsung di depan pintu keluar Restoran.


"Pak Deka,"

__ADS_1


"Risma?"


Mereka berdua tanpa sadar berujar bersamaan. Mata Deka tak lepas dari tangan Risma yang masih menggelayut di tangan pria asing itu.


"Mari pak, kami sudah mau pulang. Pak GM masih ada di dalam kok," ujar Risma sedikit grogi atas ekspresi Deka yang datar.


"Hem," jawab Deka singkat. Tangannya terkepal erat menahan gemuruh di dadanya. Ia sudah bisa menjawab kegalauannya kini. Ternyata Risma sudah milik orang lain pantas saja perasaannya sampai sekarang masih digantung bak jemuran.


Deka memandang kosong punggung dua orang yang sedang menuju mobil itu. Tarikan nafasnya yang berat menandakan hatinya yang sedang hancur. Gala menepuk pundaknya pelan.


"Ayok," ajak Gala agar mereka segera kembali Pulang. Ditangannya sudah ada sepaket komplit Coto Makassar dalam wadah yang sangat cantik.


"Eh, iya," jawab Deka tersentak dari lamunannya.


Sepanjang perjalanan pulang mereka tidak ada yang berbicara. Gala faham dan bisa mengerti perasaan sepupunya itu. Berkali-kali ia melihat Deka mencengkeram kemudi sembari menarik nafas berat.


Gala ingin memberikan penghiburan tetapi ia tidak tahu caranya jadi ia memilih diam saja sembari menghayalkan wajah Vita yang pastinya akan sangat senang melihatnya datang dengan membawa makanan yang diidamkannya.


Mereka berdua sampai di rumah Kediaman Raditya saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Gala dengan langkah ringan menuju kamarnya berharap Vita menyambutnya dengan riang.


Matanya memicing melihat Vita sedang duduk di sofa sedang mengunyah makanan yang terasa asing di mata Gala.


"Mas,...mari sini makan," ujar Vita dengan mulut penuh makanan.


"Itu makan apa?" tanya Gala penasaran. Ia memperhatikan di dalam piring itu ada bubur bersama campuran sayur dengan ikan kering dan sambel sebagai topingnya.


"Ini namanya bubur Manado mas, enak dan sedap," ujar Vita tanpa berhenti mengunyah. Gala memandang bawaannya dengan pandangan horor.


"Susan yang buat,"


"Terus nasib nya Coto ini bagaimana?"


"Mas aja yang makan, aku udah kenyang." Gala meringis nyeri tetapi tetap menampilkan wajah imut. Sabar. Yang penting Vita senang, bisiknya dalam hati.


,🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor tetap setia mendukung karya ini yah, dengan cara tap Favorit, klik like, ketik komentar, dan kirim hadiah dan Votenya.


Nikmati alurnya and happy reading 😍😍😍😍😍


Eh, wait sambil menunggu update berikutnya. Mampir dong di karya teman akoh.

__ADS_1



__ADS_2