Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 238 Sampai Berjumpa Lagi


__ADS_3

Setelah pulang dari acara ramah tamah, dan mengantar papa dan mamanya pulang ke rumah. Adam berniat mengunjungi rumah kediaman Raditya.


Sejak ia sibuk dengan KKN dan skripsinya ia jarang bertemu dengan Sarah. Hanya hari ini saja ia bisa bersama dengan gadis itu dalam waktu yang cukup lama. Sekitar 1 jam sebelum ramah tamah dimulai. Itupun tidak berkualitas karena selalu saja ada pengganggu diantara mereka berdua.


Dengan langkah cepat ia memasuki rumah mewah yang akhir-akhir ini jarang ia datangi.


"Sarah ada dimana bik?" tanyanya pada pelayan yang ditemuinya di dalam rumah.


"Baru saja masuk di kamarnya." jawab Bibik sembari mengarahkan pandangannya ke atas. Ke arah letak kamar Sarah di lantai 2 rumah itu.


"Oh iya bik, Makasih banyak." jawab Adam kemudian menaiki tangga menuju kamar yang dimaksud. Ia pernah sekali ke kamar itu.


Tok


Tok


"Sarah, boleh aku masuk tidak?" ujarnya sembari mengetuk pintu kamar berwarna putih tulang itu. Vita Maharani yang baru keluar dari kamarnya menatap serius putra dari Deka Roland itu dari arah samping.


"Adam? kamu mau ketemu Sarah?" tanya Vita meyakinkan keingintahuannya.


"Iya tante, ada yang ingin aku omongin." jawab Adam dengan senyum diwajahnya.


"Kamu tunggu di ruang tamu ya, nanti tante panggilkan. Gak baik lho cowok masuk ke kamar cewek meskipun kalian bersepupu." ujar Vita sembari mendorong pintu kamar Sarah yang tidak terkunci. Adam langsung mengerti. Ia kembali ke lantai satu untuk menunggu.

__ADS_1


Dan untung saja Vita sang mama datang tepat waktu. Penampilan putrinya saat itu sedang tak layak dipandang oleh lawan jenis. Sarah sedang menggunakan tank top mini dan juga hotpants yang sangat ketat. Sepasang pakaian yang ia sering gunakan ketika berada di dalam area pribadinya yaitu di dalam kamar.


"Ada Adam tuh diluar nyariin kamu." ujar Vita sembari duduk di atas ranjang sang putri.


"Tumben, kirain udah lupa sama rumah ini." jawab Sarah cuek. Ia malah memasang headset di telinganya dan duduk berselonjor di Lantai beralasan karpet bulu lembut itu.


"Ih kok bilang gitu sih, ditungguin tuh sama Adam di bawah."


"Gak ah Ma, males." jawab Sarah santai. Hatinya masih tidak bisa ia bujuk untuk menerima melihat keakraban Adam dengan gadis lain di depan matanya sendiri. Apalagi tangan Eci yang memegang Adam dengan posesif seperti tadi.


"Gak kasihan sama Adam? kali aja ada hal penting yang ia ingin sampaikan, sayang." bujuk Vita kepada sang putri. Tetapi sepertinya Sarah benar-benar keras kepala.


"Jadi mama bilang apa nih sama Adam kalau dia nanyain kamu." tanya Vita lagi memastikan keputusan putrinya.


"Baiklah, tapi nanti jangan nyesel ya, kalau nantinya Adam pergi." ujar Vita berusaha memprovokasi.


"Paling pergi terus kesini lagi Ma, memangnya mau kemana dia?" ujar Sarah lagi dengan ia goyang-goyang kan karena musik yang sedang ia dengar dengan suara pelan agar ia masih bisa mendengar suara mamanya.


Vita akhirnya keluar dari kamar itu dan menemui Adam di ruang tamu.


Sesampainya ia di sana. Adam langsung berdiri dari duduknya dan menyambutnya dengan pertanyaan.


"Sarah gak ikut turun tante?" mata Adam hanya melihat kalau Vita hanya sendiri.

__ADS_1


"Katanya lagi mau istirahat. Gak mau diganggu katanya." jawab Vita tak enak hati, ia curiga ada yang tidak beres dengan hubungan mereka berdua.


"Padahal aku cuma sebentar saja tante, cuma mau bilang kalau aku mau lanjut Master di Amerika." ujar Adam dengan wajah yang tak bersemangat.


"Kapan kamu berangkat Dam?"


"Dua hari lagi tante, tapi kalau Sarah ada waktu. Dia bisa menghubungi aku tante." ujar Adam kemudian berpamitan.


Pria muda lulusan terbaik Universitas Negeri di kotanya itu meninggalkan rumah kediaman Raditya setelah berpamitan.


Langkahnya begitu berat meninggalkan rumah itu tanpa bertemu dengan Sarah. Tetapi apa boleh buat. Gadis itu tidak mau menemuinya. Vita hanya bisa menarik nafas panjang menghadapi dua orang yang ia tahu saling mencintai itu.


Adam masih menunggu Sarah datang atau mendatanginya tetapi ternyata gadis itu sama sekali tidak menghubungi atau bahkan mengangkat sambungan telponnya.



Akhirnya ia berangkat dengan hati yang berat juga sangat kecewa. Ia cuma berharap masih bisa nanti bertemu Sarah dalam keadaan yang menyenangkan.


"Good bye Sarah and see you next time." ujarnya pelan kemudian masuk ke mobil yang akan mengantarnya ke Bandara.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2