
Rara semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rama, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang pria itu semakin dalam. Udara disekitarnya terasa semakin memanas karena Reksadana berdiri pas dibelakang punggungnya.
"Berhenti!" serunya pada bodyguard yang sedang berjalan di belakangnya. "Hanya Az-Zahra Aisyah yang mempunyai rambut kriwil seperti ini." Ujar Reksadana Sambil menyentuh ujung rambut kriwil Rara. Gadis itu semakin menegang, Rama bisa merasakan tubuh Rara bergetar takut, tangannya semakin memeluk kencang pinggang Rama yang kuat itu.
"Maaf pak, istri saya sedang ketakutan. Tolong menyingkirlah dari situ." ujar Rama tanpa sadar mengakui Rara sebagai istrinya. Ia tak punya alasan lain mengingat posisi mereka sangat mendukung ucapannya barusan. Ia bermaksud menyuruh pria paruh baya itu segera pergi dari sana agar Rara yang ada di pelukannya bisa meregangkan sedikit tangannya karena ia sedikit sesak.
Sementara itu di layar lebar di depan sana tersuguh adegan seorang perempuan muda sedang berteriak histeris karena menemukan sesosok mayat tanpa kepala di dalam bath up kamar mandi yang semakin menambah suasana horor di dalam bioskop itu. Semua penonton menahan nafas, Sovia sendiri langsung bersembunyi di lengan Andika. Sedangkan Sarah menutup matanya menggunakan pot popcorn yang sedang ada di tangannya.
"Tapi, dia ini," belum sempat Reksadana melanjutkan ucapannya. seorang petugas bioskop menegurnya keras.
"Maaf pak, anda mengganggu kenyamanan penonton. kalau tidak berniat menonton silahkan keluar dari ruangan ini!" Reksadana bersama bodyguardnya langsung keluar dari sana dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Ia yakin yang ia lihat tadi adalah Az-Zahra Aisyah calon cucu menantunya. Karena sejak memasuki mall ini, laporan dari beberapa orangnya memastikan kalau gadis itu ada di sini dan sedang masuk ke bioskop.
"Kita akan menunggunya di luar. Pastikan kalian tidak kecolongan lagi."
Kali ini tangan Rara sudah merenggang tetapi wajahnya masih betah berada di dada bidang Rama, ia bahkan tidak sadar telah menghirup dalam-dalam wangi pria itu. Wangi maskulin yang begitu memenangkan. Sedangkan Rama yang sudah menyadari kalau Rara sudah mau melepaskan diri karena suara dan langkah Reksadana sudah menjauh dari posisi mereka malah menempelkan terus hidungnya di rambut kriwil nan lembut dan harum itu. Mereka tidak sadar telah berpelukan sangat lama sampai lampu bioskop menyala menandakan film sudah selesai.
"Kak Rama?" tegur Sovia yang tidak percaya dengan penglihatannya. Rama sedang memeluk erat tubuh Rara temannya dan bahkan lebih dari itu, gadis itu sekarang ada dipangkuan kakaknya sedang tertidur.
"Hm, temanmu tadi ketakutan dan tertidur di sini." jawab Rama santai.
"Ayo kalian keluar duluan!" perintah Rama yang mau tidak mau diikuti oleh semuanya.
"Hei, kucing kriwil bangun!" seru Rama agak keras di kuping gadis itu. Rara hanya melenguh pelan kemudian menyusupkan kembali wajahnya ke ketiak Rama.
"Ya ampun tak mau bangun kucium nih." ujar Rama lagi sambil mendekatkan wajahnya ke bibir gadis itu.
"Aaaa," teriak Rara nyaring saat merasakan bibirnya betul-betul merasakan benda kenyal basah dari orang yang sedang memangku dirinya. Ia langsung bangun dan melompat turun.
"Kok aku bisa disitu sih?" tanyanya curiga. Ia takut kebiasaan buruknya saat tidur malah berakhir di atas pangkuan pria datar ini.
"Ayo Pulang dan pikirkan sendiri!" jawab Rama sambil menarik tangannya keluar dari bioskop itu.
__ADS_1
🍁
"Az-Zahra Aisyah!" teriak seseorang dibelakangnya dan langsung membuat seluruh tubuhnya membeku. Itu adalah suara mamanya. Perlahan Rara membalikkan badannya.
"Mama," ujar gadis itu dengan suara tercekat. Di depannya bukan hanya mamanya yang ada di sana, tetapi papa, granny, dan Tuan Reksadana juga sedang berada di depannya dan mengunci pergerakan tubuhnya.
"Dari mana saja sayang?" Dyah menghampirinya kemudian memeluknya erat. Pegangan tangan Rama di jari-jarinya langsung terlepas.
"Aku nginap di rumah teman ma." jawab Rara gugup.
"Teman cowok?" tanya mamanya sembari menatap pria muda dan sangat tampan yang sedang bersamanya itu.
"Siang Tante," sapa Rama dengan senyum sopan.
"Az-Zahra Aisyah ini adalah calon menantu saya yang sebentar lagi akan menikah." timpal Reksadana cepat, pria paruh baya itu menatap Rama dengan tatapan membunuh. Ia yakin pria ini yang mengaku sebagai suami dari calon menantunya itu di dalam bioskop tadi.
"Terima kasih sudah menjaga putri kami, dan sekarang waktunya ia kembali ke rumahnya. Permisi." ujar seorang pria yang Rama yakini adalah papanya Rara. Mereka semua berlalu dari hadapan Rama yang masih berdiri di sana dengan perasaan kosong. Gadis kriwil itu bahkan tidak menoleh sama sekali padanya.
"Aku belum mau menikah ma." ujar Rara sesenggukan. Air matanya terus mengalir tiada henti.
"Iyya, tapi kan gak usah kabur dari rumah juga sayang." Dyah mengelus rambut putrinya itu lembut.
"Habisnya mereka selalu ngikutin aku kemanapun, kan jadi gak nyaman." gerutu Rara sembari menyusut ingusnya dengan punggung tangannya.
"Ih jorok banget sih, ini kan ada tissue." Dyah menyerahkan sekotak tissue kepada putrinya itu dengan wajah berseri. Ia bersyukur putrinya bisa ditemukan dalam kondisi sehat.
"Kamu masih utuh kan, sayang?" tanya mamanya sembari memperhatikan keseluruhan tubuh putrinya.
"Ya utuhlah ma. Seratus persen."
"Kamu belum diapa-apain sama cowok itu kan sayang?" bisik mamanya dengan suara pelan takut suami dan ibu mertuanya yang duduk di jok depan mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
"Gak lah ma," jawab Rara dengan wajah ragu. Soalnya ia baru ingat kalau pria datar itu sudah mengecup bibirnya tadi. Ciuman pertama yang seharusnya suaminya lah yang akan mendapatkannya.
"Ra?" tegur mamanya heran karena melihat putrinya tiba-tiba melamun.
"Eh, iya ma."
"Kamu gak papakan?" tanya Dyah curiga.
"Gak ma. Suer!"
Selanjutnya mereka berdua diam dan tak melanjutkan lagi pembicaraannya. Mereka semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Rama melajukan mobilnya kembali ke rumah. Acara jalan-jalan ceria tak lagi menarik hatinya. Sovia dan Sarah sudah menghubunginya kalau mereka berempat mampir makan siang di sebuah restoran. Mereka semua menunggunya di sana bersama Rara. Tetapi ia beralasan lagi kurang enak badan dan memutuskan balik ke rumah saja.
Tiba-tiba hatinya merasa hampa dan kehilangan. Kucing kriwil yang sempat menarik perhatiannya harus ia buang jauh-jauh dari hati dan pikirannya. Ia gadis yang tak bisa lagi dijangkau. Ia sekarang adalah tunangan seseorang.
"Akh, Shiiit!" umpatnya keras. Ia tak suka dengan keadaan ini.
"Ram, mana adik-adikmu?" tanya Vita saat tubuh tegapnya sampai di ruang keluarga. Rupanya papa dan mamanya sudah keluar dari tempat tempat ternyamannya.
"Masih di jalan ma." jawab Rama dengan suara rendah nampak kalau ia sedang tidak bersemangat.
"Aku ke kamar ya ma." lanjutnya lagi sembari melangkah ke kamarnya. Vita jadi bingung melihat putranya itu yang bahkan tidak menyapa papanya.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Dukung Rama dong supaya semangat lagi. Kan masih banyak tuh gadis cantik di luar sana ye kan...
Like dan komen plisss
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍