Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 203 Akhir Tragis Cinta Tak Berbalas


__ADS_3

Plak


"Aaakh." teriak Sarah tertahan dari balik lakban yang menutupi mulutnya. Gadis cantik itu merasakan pipinya memanas dan nyeri. Perempuan cantik tapi kejam itu menamparnya berkali-kali.


"Kamu masih mau hah!" ujarnya dengan mata melotot, tangannya ia arahkan ke rambut Sarah dan membenturkannya ke dinding.


"Aaakh." sekali lagi gadis itu berteriak kesakitan. Ia berharap pertolongan segera datang. Tubuhnya sudah sangat lemah dan lemas akibat penyiksaan yang dilakukan seorang perempuan gila bersama putranya yang juga gila. Darah segar pun sudah mulai mengalir dari dahinya yang terkena dinding setelah didorong dengan kasar tadi.


"Aaaakh." teriakan Sarah yang menyayat hati baru kedengaran ketika perempuan iblis itu membuka dengan paksa lakban yang menutupi mulut gadis itu.


"Rasanya tidak seru bermain denganmu jika tak mendengar suaramu yang kesakitan." ujar Sashi Aurora yang diangguki oleh Iyan.


"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Sarah dengan emosi di dadanya. Ia merasa marah karena tak kenal dan tak punya urusan dengan orang-orang ini kenapa ia yang disiksa seperti ini.


"Aku? kamu tanya siapa aku?" tanya Sashi dengan pandangan mata tajam.


"Aku adalah perempuan yang sangat membenci Gala Putra Raditya dan keluarganya. Dan aku tak akan pernah puas sampai kalian semua menderita seperti diriku." Sarah melongo tak percaya dengan ucapan perempuan gila itu yang ternyata mereka berdua adalah musuh lama Papanya.


"Kenapa kamu diam? takut? hahaha." ujar Sashi sambil tertawa dengan suara yang melengking dan sangat menyebalkan.


"Aku memang sengaja membuatmu takut sampai kamu memohon untuk mati saja hihihihi." kali ini tawanya sudah menyerupai Mak Lampir di kisah Misteri Gunung Merapi.


Plak


Sekali lagi ia menampar wajah Sarah yang sudah memerah dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


"Hentikan! perempuan iblis. Kamu mau membunuhku ya!" ujar Sarah marah. Giginya ia rasakan hampir rontok karena ditampar berkali-kali oleh perempuan iblis di depannya.

__ADS_1


"Papa akan datang menolongku dan aku pastikan kamu akan dihukum seberat-beratnya." teriak Sarah sembari menangis. Air matanya yang meluncur bebas di pipinya malah menambah sakit dan perih dipipinya yang sudah terluka.


Ia rasanya ingin memanggil papa dan mamanya. Ia lantas mengarahkan pandangannya pada Iyan yang sedang duduk santai menyaksikan mamanya menyiksanya sedemikian rupa tanpa rasa belas kasihan.


"Dasar pria gila, psikopat. Apa mau kalian sebenarnya, hah!"


"Eh, cerewet! kalau ngomongin jangan tidak sopan begitu dong." ujar Iyan kemudian berdiri dari duduknya.


"Papamu sudah membuat mamaku menderita. Kamu tahu?" ujar Iyan dengan pandangan berkilat marah. "Dan juga kakakmu itu sekarang merebut gadis yang selama ini aku cintai, bukankah kalian pantas mendapatkan lebih dari ini?" lanjut pria psikopat itu kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari dalam jaketnya dan Bush...


"Aaaakh!" teriak Sarah histeris karena tubuh Iyan jatuh pas di atas tubuhnya tak bergerak.


Iyan terkena tembakan dari seorang Polisi di belakangnya. Mereka ternyata sudah lama mengendap-endap dan siap menyerang pada waktu yang tepat.


"Hey, kalian apakan putraku Hah?" teriak Sashi Aurora histeris saat melihat Iyan jatuh ke lantai dengan darah segar mengalir dari punggungnya.


"Dulu aku masih mengampunimu dengan hanya menjebloskanmu di penjara. Tapi sekarang engkau harus menerima apa yang kamu berikan pada putriku!"


Plak


Sekali lagi Gala memberikan tamparan pada perempuan cantik tapi kejam dan gila itu sampai tubuhnya terjatuh dilantai." Hingga Deka menahan Gala yang bersiap memberikan pukulan lagi.


"Tenanglah Gala, bersyukurlah Sarah sudah selamat dan kita cepat menemukannya."


"Gala Putra Raditya. Aku membencimu sampai ke tulang-tulangku. Gara-gara kamu aku melahirkan seorang putra tanpa ayah, hahaha." teriak Sashi emosi yang diiringi dengan tawa melengking dan sangat menggangu telinga orang yang mendengarnya.


Gala menatap tajam perempuan itu dengan pandangan marah dan Iba secara bersamaan, ia baru sadar kalau Sashi Aurora sekarang sudah tidak waras. Ia nampak seperti orang gila.

__ADS_1


"Mereka memperkosaku di penjara dan berakhir aku hamil dan melahirkan Iyan, hiks." ujar Sashi kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Putraku tumbuh dengan tidak normal seperti orang lain. Ia tak mempunyai ayah. Tetapi ia juga bisa jatuh cinta, hiks." Sashi kemudian mendekati tubuh putranya yang sudah terbujur kaku.


"Iyan, bangun sayang, mama akan mempertemukanmu dengan cinta mu nak. Bangunlah, hiks." Sashi terus menggoyang-goyang tubuh putranya itu berharap bisa bangun dan mengikuti kemauannya tapi ternyata ia terlambat, nyawa putranya tak bisa ditolong lagi.


"Iyanku jatuh cinta pada seorang teman SMAnya bernama Az-Zahra Aisyah. Seorang gadis yang sudah lama dekat dengannya." Rama yang baru tiba di lokasi langsung menatap tajam tubuh Iyan yang sudah kaku bersimbah darah itu dengan pandangan tak percaya. Apalagi perempuan di sana sedang menyebut-nyebut nama istrinya.


"Tapi sekali lagi putraku menderita, putramu mengambil cinta Iyanku yang belum berhasil ia dapatkan. Kalian semua jahat, tak pernah mau berbagi bahagia pada kami, meskipun sedikit saja. hiks." Shasi memeluk tubuh putranya dengan menangis tiada henti. Sarah segera berdiri dari tempatnya dan perlahan melangkah ke arah Papanya tetapi Sashi menarik kakinya dan menancapkan pisau yang dipakai Iyan tadi ke kaki gadis itu.


"Aaakkh Papa!" teriak Sarah kesakitan. Gala langsung melompat dan memukul Sashi Aurora hingga terjerembab ke lantai. Ia kemudian mengangkat tubuh putrinya yang sudah lemas, darah mengucur deras dari kakinya yang tertusuk pisau.


"Tangkap cepat perempuan gila itu!" teriaknya pada polisi yang sedang ikut bersama mereka melakukan pertolongan pada korban penculikan. Gala meninggalkan tempat itu dengan menggendong Sarah yang sudah tak sadarkan diri. Ia harus secepatnya membawa putri keduanya itu ke Rumah Sakit agar segera mendapatkan pertolongan. Sedangkan Rama masih tinggal di tempat kejadian perkara sembari mendengarkan celotehan perempuan yang ternyata adalah ibu dari Iyan, pelaku penculikan Sarah.


"Iyan tidak bersalah, aku yang mengajaknya untuk membalas dendamku ini." ujar Sashi mengikuti langkah polisi yang sedang memborgol tangannya.


"Alif Reksadana yang memberi kami akses untuk lebih dekat lagi pada keluarga Raditya. Ia yang meminta Iyan untuk mengirimkan teror-teror itu. Hiks."


Deg


Rama merasakan kupingnya memanas mendengar pengakuan perempuan tidak waras ini. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal marah.


"Iyanku tidak bersalah. Ia hanya jatuh cinta pada Az-Zahra Aisyah. Ia sungguh tidak bersalah, hiks." Sashi terus berbicara tanpa henti hingga mobil polisi itu menjauh.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey??

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2