Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 51 Sang Pengawal Tampan


__ADS_3

Pukul 22.25 di Kost-an


"Kamu tidak berniat pindah ke rumah barumu, Vit? tanya Bu Dewi sembari mengatur mainan Rama yang acak-acakan. Anak itu sedari tadi sibuk membongkar dan memasang puzzle yang baru dapat dari eyang putri presdir.


Vita memandang Ibu kostnya intens.Ia memang pernah menceritakan pada Bu Dewi kalau ia mendapat bonus berupa rumah dan mobil dari Perusahaan.


"Belum kepikiran pindah dari sini Bu. Saya masih takut tinggal berdua saja dengan Rama"


"Kecuali kalau ibu mau menemaniku di sana" Vita memandang wajah Ibu Dewi sambil tersenyum.


"Lalu siapa yang akan tinggal di sini Vit, jadi ibu Kost untuk anak-anak lain?" Ibu Dewi menjawab sembari memikirkan posisinya di sini yang menjadi ibu kost sekaligus satpam untuk anak kost agar tidak memasukkan sembarang tamu ke kamar mereka.


"Ibu perhatikan akhir-akhir ini ada yang selalu memperhatikan rumah ini Vit" ujar Ibu Dewi ketika teringat sesuatu yang menurutnya aneh.


"Maksud ibu? Orangnya mencurigakan?" tanya Vita penasaran. ia menurunkan Rama dari pangkuannya dan menggeser tubuhnya ke dekat Bu Dewi.


"Agak mencurigakan sih, soalnya dia langsung pergi saat kamu sudah masuk ke rumah" Ibu Dewi menjawab sembari mengingat ciri-ciri orang itu yang selalu berdiri tak jauh dari rumah utama Bu Dewi.


"Kok bulu kuduk Vita merinding ya Bu" Vita menyapu lengannya yang terasa meremang.


"Hush kamu malah membuat ibu takut" Bu Dewi memukul bahu Vita pelan. Vita hanya nyengir memperlihatkan giginya yang putih rapi.


"Tapi ibu rasa orang itu tidak berniat jahat deh. Ia terlalu tampan untuk jadi penjahat" ujar Bu Dewi tersenyum menggoda Vita.


"Eh, ibu bisa juga melihat cowok tampan ya?


"Kirain cuma abang penjual sayur itu saja yang bisa ibu lihat" Vita balas menggoda ibu kostnya. terlihat semburat merah di wajah ibu Dewi. Ia tersenyum malu.


"Lebih tampan mana daripada Rama, Bu?" akhirnya Vita penasaran juga.


"Eh, iya orang itu sekilas mirip Rama sih apa Jangan-jangan ia calon Papanya Rama ya?" ujar Bu Dewi sembari membandingkan wajah orang yang mencurigakan itu dengan wajah Rama.


"Ah ibu bisa aja kalau bercanda" Vita tertawa. sembari membayangkan seseorang yang dekat di hatinya menjadi papa Rama. hatinya tiba-tiba berdebar aneh. Ish. Ia memukul kepalanya pelan karena berpikir yang tidak-tidak.


"Mama...Ama dikacih ini cama ayang Uttili" Rama memukul tangannya sehingga lamunannya langsung buyar.


"Apa ini sayang?" tanya Vita sembari membuka sebuah kertas tebal berbentuk undangan lucu.


"Apa itu Vit?" tanya Bu Dewi ikut penasaran.

__ADS_1


"Undangan Bu, Rama diundang ke rumah Bosnya Vita untuk merayakan ulang tahunnya" jawab Vita tanpa mengalihkan matanya dari kertas unik itu.


"Setua itu masih suka merayakan ulang tahun?" tanya Bu Dewi merasa lucu.


"Orang kaya Bu" jawab Vita singkat. ia sedikit heran kenapa anak sekecil Rama diundang untuk acara orang besar seperti ini, apalagi kartu undangan sengaja di desain khusus untuk anak-anak.


"Nanti kita kesana ya sayang, Rama bobok dulu ini sudah tengah malam, mama udah ngantuk banget" Vita menggendongnya ke atas tempat tidur sembari menguap.


"Janji ya ma, eyang uttili bilang ada manyak mainan dicana" Rama mulai menguap tetapi masih sempat mengingat tentang undangan itu. Vita hanya mengangguk kemudian menepuk-nepuk pantat Rama supaya segera tidur menjemput mimpinya.


Setelah Rama terlelap Ibu Dewi pamit kembali ke rumah utama tempatnya tinggal sendiri. Ia ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun silam dan tidak mempunyai seorang anakpun. Makanya ia sangat menyayangi Vita dan Rama karena ia anggap sebagai anak dan cucunya sendiri.


Sementara itu di Rumah Kediaman Raditya


"Kamu tidak lelah jadi penguntit?" tanya Deka pada sepupunya yang selalu pulang larut setiap harinya karena harus mengawasi dan memastikan Vita sudah sampai di kost-annya dengan selamat.


Gaya bahasa Deka akan berubah tidak formal ketika mereka sudah sampai di rumah.


Gala membuka jas dan dasinya lalu melemparkannya asal di atas ranjang king size nya. Ia sangat lelah hari ini seharian meeting dengan banyak kolega bisnisnya tetapi harus selalu memantau Vita dari jauh. Sebenarnya ia ingin mempekerjakan body guard atau menyuruh Deka saja tetapi ia sering tidak puas dengan pekerjaan orang lain apalagi ini menyangkut keselamatan Vita Maharani kekasih hatinya.


"Kenapa kamu gak panggil si Blacky itu untuk mengawasi Vita dari jauh?" tanya Deka lagi ketika melihat Gala membaringkan tubuhnya yang kelihatan lelah sekali.


"Oh iya aku sempat melupakan Blacky. Hubungi dia dan suruh menemuiku di tempat biasa" Deka mengangguk kemudian meninggalkan Gala untuk kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Ia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia takut terjadi hal yang buruk pada Vita. Rasanya ia ingin sekali mengurung gadis itu di sini bersamanya sepanjang waktu agar keamanannya bisa ia pastikan. Tetapi sayangnya gadis itu terlalu keras kepala.


Tring


Smartphonenya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Aku tahu gadis itu sangat berharga bagimu


Gala membaca pesan itu suara pelan.


Tring


Dua pesan masuk lagi sebelum ia menjawabnya.


Kamu ingin menukar gadis itu dengan apa?

__ADS_1


Ingat! Seharga gadis itu bagimu


"Rupanya orang ini ingin memerasku" gumam Gala sembari menggerakkan jari-jarinya diatas keyboard untuk menjawab pesan yang bernada pemerasan itu.


Apa yang kamu inginkan sebutkan saja


Jangan membuang waktuku


pesan terkirim. Gala resah karena sudah 15 menit tetapi pesannya belum dibalas walaupun orang itu pasti sudah membacanya. terlihat dari centang biru pada pesan yang ia kirim.


Jam sudah menunjukkan pukul 24.00 tetapi ia masih sibuk mondar mandir di kamarnya gelisah. Ia tidak bisa tidur.


"Ia sengaja mengabaikan pesanku atau apa?" pikirnya dalam hati.


"Apakah aku harus menghubungi polisi saja kalau orang ini berusaha mencelakai dan mengancamku"


"Aaaakh, minta apa saja tapi jangan libatkan gadis itu, brengsek!" ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya.Gala gemas sendiri dengan segala pikiran-pikirannya.


Tring


Akhirnya pesan yang ia tunggu datang juga. Ia bernafas lega walaupun disisi lain hatinya masih sangat cemas. ia membuka empat pesan yang masuk. Salah satunya adalah gambar Vita yang sedang bermain bersama Rama di sebuah taman.


Berikan 50% saham TGR group kepadaku


Apakah itu sudah seharga nyawa gadis dan anak yang lucu itu?


Kalau masih kurang 100% pun saya terima. Hahaha


"Percaya diri sekali orang ini" bisik Gala dalam hati. Ia memutuskan tidak akan menjawab pesan-pesan itu. Ia ingin tidur walaupun mungkin akan sangat sulit memejamkan matanya tetapi ia ingin menenangkan diri dulu. setidaknya motif orang ini sudah jelas menjadikan Vita sebagai senjatanya untuk menguasai TGR.


Ia sekarang sudah mengganti pakaian kerjanya setelah mandi air hangat. Ia butuh waktu untuk mengatur rencana menangkap orang ini.


Ia membaringkan tubuh atletisnya di atas ranjang berharap esok akan segera tiba untuk melaksanakan rencananya.


Membolak-balikkan badannya gelisah, akhirnya ia bisa tertidur lelap juga setelah meminum segelas susu hangat favoritnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayang, biarkan babang Gala bobok dulu ya...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan kirim hadiahnya.


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2