
Setelah menidurkan Sovia yang sedari tadi rewel karena lelah dan mengantuk, Vita segera beranjak ke kamar Rama di lantai satu rumah mewah itu. Ia ingin memastikan apakah putra pertamanya itu sudah tidur di jam yang larut seperti sekarang.
"Awwww," ia berteriak nyaring karena kaget tiba-tiba ada yang merengkuh pinggangnya dari belakang.
"Ssstt!" ujar Gala yang ternyata adalah pelakunya. Ia segera membungkam mulut istrinya dengan jari-jarinya agar suara Vita tidak mengganggu tidur Sovia.
"Mas, astaga aku kaget tauk!" ujar Vita dengan mata melotot disertai tarikan nafas cepat di dadanya.
"Ngapain sih bikin kaget gini." tambah Vita sedikit kesal. Suasana di sekitar Kamar Sovia begitu hening jadi pantas saja ia kaget saat ada yang tiba-tiba merengkuhnya seperti itu.
"Maaf sayang, habisnya aku kangen. Seharian kamu nyuekin aku." jawab Gala ngeles tak mau disalahkan begitu saja oleh istrinya.
"Mas, aku nyuekin kayak gimana? kan lagi ada pesta jadi kita semua sibuk ngurusin para tamu." ujar Vita mulai kesal dengan kelakuan suaminya.
"Iyya tapi kan aku mau sekarang sama kamu, yang." ujar Gala merajuk. Vita menarik nafas berat, ia sedang tak ingin memanjakan seorang bayi besar. Ia sangat lelah dan ngantuk juga tetapi ia harus turun mengecek terlebih dahulu keadaan Rama. Ini adalah rutinitasnya setiap malam. Memastikan kedua putra dan putrinya sudah terlelap barulah ia mengurusi bayi super manja dan sudah besar ini.
"Suamiku tersayang, izinkan aku lihat Rama dulu ya, bentar aja," ujar Vita dengan suara dibuat semanja mungkin untuk membujuk Gala agar mau melepaskannya.
Cup
Ia mengecup lembut bibir suaminya yang manyun karena sedih akan ditinggal olehnya. Momen itu segera dimanfaatkan Gala membalas kecupan itu menjadi lu ma tan panas sampai istrinya melepaskan diri terlebih dahulu karena kehabisan nafas.
"Okey, tapi cepat kembali ya," ujar Gala dengan pandangan berkabut. Ia menyentuh bibir istrinya yang masih basah itu dengan ujung jempolnya. Vita segera mengangguk setuju agar bisa cepat kabur dari sana. Ia tahu betul pandangan suaminya itu menginginkan apa dari dirinya.
"Iyya mas, tunggu aku di dalam ya." ujar Vita sembari mengerlingkan sebelah matanya menggoda yang membuat Gala terkekeh senang. Ia pun menepuk bokong istrinya lembut.
"Ayo cepat, aku sudah tidak sabar." ujar Gala dan melepaskan rengkuhannya ditubuh Vita yang sebenarnya sangat enggan ia lakukan.
Vita tersenyum senang dan segera menuju tangga untuk turun ke lantai satu di mana kamar Rama berada.
"Rama sayang, kok belum bobok sih, ini udah larut lho." tanya Vita yang ternyata tidak menemukan Rama di kamarnya tetapi malah ada di sebuah ruangan luas yang berisi semua kado dari para tamu undangan acara ulang tahun tadi.
"Rama belum ngantuk ma, " jawab Rama sembari menubruk tubuh mamanya dan langsung memeluknya.
"Kenapa? dedek Sovia udah bobok lho. Emangnya kakak gak lelah?" tanya Vita dengan tangan membelai kepala putranya.
"Rama mau buka kado ma."
__ADS_1
"Hah?, besok aja ya sayang. Mama juga lelah sangat." ujar Vita menguap setelah melihat penampakan kado-kado itu yang menggunung saking banyaknya. Ia tak sanggup kalau mengikuti kemauan Rama.
"Tapi ma, Rama penasaran." Rama masih ngotot dengan kemauannya itu. Vita jadi tidak enak sendiri. Akhirnya ia menyetujui hanya membuka 1 atau 2 saja baru setelah itu mereka tidur.
"Baiklah sayang, kita ambil punya om Deka dulu ya, trus kita bobok soalnya dedek Sovia juga pasti pengen buka kado sama kakak." bujuk Vita dengan memberi alasan yang tepat. Rama mengangguk senang. Ia juga ingin berbagi bahagia bersama Sovia nantinya.
"Iyya ma," jawab Rama kemudian tangannya dengan cekatan merobek pembungkus kado yang bermotif Tayo itu dengan asal.
"Wow," ujar Rama senang. Ia tak menyangka Om Deka memberikan benda yang selama ini diidamkannya. Sebuah notebook mini. yang berisi aplikasi belajar membaca Alquran dan banyak permainan lainnya yang sangat cocok untuk anak seusianya.
"Rama mau berterima kasih sama om Deka, ma." ujar Rama dengan memeluk hadiah itu di dadanya.
"Besok aja ya sayang." ujar Vita lembut, ia yakin Deka dan istrinya pasti sedang istirahat juga di kamarnya.
"Gak ma, kalau besok rasanya beda." jawab Rama tak mau menunda. Ia harus berterima kasih sekarang.
"Hem, baiklah. Kita ke kamar om Deka." jawab Vita akhirnya karena percuma juga ia menolak. Rama pasti tidak akan mau mendengarnya. Mereka berdua pun menuju kamar Deka yang memang tidak terlalu jauh dari kamar Rama.
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu berkali-kali itu membuat Deka menghentikan aksinya. Ia meninggalkan tubuh istrinya itu dan segera menutupinya dengan selimut tebal yang sudah teronggok di lantai.
Deka segera memakai piyamanya asal dan melangkah menuju pintu yang sedari tadi berbunyi.
"Om," ujar Rama dengan mata berbinar senang saat pintu terbuka dan menampilkan dirinya yang sedikit kacau.
"Rama, ada apa sayang." jawab Deka penasaran kenapa Rama bertamu di kamarnya di malam yang larut begini dan bahkan bersama mamanya.
__ADS_1
"Waduh, maaf nih om. Kami datang menggangu istrirahat nya." kali ini Vita mengambil alih pembicaraan.
"Rama mau berterima kasih karena udah dikasih hadiah yang sangat bagus, iyya kan Ram?"
"Iyya om. Rama mau berterima kasih. Kadonya bagus banget." ujar Rama senang dan memeluk kaki Deka dengan girang sampai Deka dibuat kikuk.
"Oh Rama senang ya, Alhamdulillah. Tante Risma tuh yang pilihkan katanya bagus supaya Rama cepat pintar ngaji." jawab Deka sembari tersenyum senang. Ia bahagia karena pemberiannya yang tidak seberapa harganya itu malah sangat berharga bagi Rama.
"Kalau gitu, Rama mau terima kasih juga sama Tante Risma." jawab Rama dan langsung masuk ke kamar Deka untuk menemui Risma di dalam.
"Eh, gak usah nanti om yang sampaikan." ujar Deka cepat. Ia tak mau Rama melihat keadaan istrinya di dalam sana yang sedang polos bak bayi baru lahir. Tetapi ternyata langkah Rama sangat gesit. Ia sudah sampai di dalam kamar bahkan sudah berdiri di samping ranjang tempat Risma berbaring.
"Astaga, Rama." ujar Vita yang ikut masuk ke dalam kamar memburu putranya itu. Ia bisa membayangkan kejadian apa yang terjadi sebelum mereka datang mengganggu. Pakaian yang berantakan di lantai beserta ********** ada semua di sana.
"Tante, makasih ya hadiahnya." ujar Rama kepada Risma yang bersembunyi di bawah gulungan selimut. Hanya kepalanya saja yang terlihat di sana.
"Sama-sama sayang, semoga Rama cepat pintar ya." ujar Risma dengan wajah memerah karena malu. Vita memandangnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Tante sakit ya? kenapa sampe bungkus badan kayak gitu." tanya Rama penasaran.
Waduh
Vita segera menarik tangan Rama keluar dari kamar. Ia tahu Risma pasti sangat malu sekarang.
"Maaf ya. Silahkan dilanjutkan." ujar Vita cengengesan. Ia langsung menggendong tubuh Rama agar bisa segera menghilang dari kamar yang memancarkan aura panas itu.
"Kak, " ujar Risma saat kedua tamu yang tak diundang itu telah meninggalkan kamar mereka.
"Kenapa? mau dilanjutkan gak nih." tanya Deka dengan senyum menggoda.
"Anggap tadi adalah iklan lewat." lanjut Deka dengan tawa tertahan. Ia bisa membayangkan bagaimana nanti situasinya kalau mereka mempunyai anak dan mendapat gangguan seperti tadi. Pasti seru.
----Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, Jangan bosan dengan cuap-cuap ku ini yah gaess...dukung terus sampe jempol benjol...like, komen, dan kirim bunga or kopi.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍