
"Mas, ada apa?" tanya Rara saat melihat ekspresi wajah sang suami berubah suram setelah menerima panggilan telepon yang entah darimana.
"Eyang putri kritis di rumah sakit sekarang. Dan mama meminta kita pulang segera." jawab Rama dengan suara bergetar sedih.
"Innalilahi. Semoga eyang putri masih panjang umur." ujar Sovia dengan wajah tak kalah sedihnya.
"Ayok kita kembali ke Hotel. Sekalian aku cari penerbangan malam ini juga." ajak Rama kemudian masuk ke mobil travel yang mereka tumpangi.
Lama ia menghubungi sebuah agen perjalanan tetapi ternyata semua tiket sudah habis. Apalagi mereka berempat. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang esok pagi saja.
Malam itu mereka lalui di kamar hotel dengan berusaha berdoa sebanyak-banyaknya. Semoga masih bisa menyaksikan Nyonya Mawar Raditya masih bisa sembuh dan melewati masa kritisnya. Mereka bahkan membatalkan undangan makan malam di rumah Mr.Takeshi dan hanya mengirimkan permintaan maaf lewat sambungan telepon saja.
Rama tak mau kesedihannya bersama keluarganya mempengaruhi kualitas makan malam yang sudah dipersiapkan oleh Mr.Takeshi dan keluarganya.
Pagi itu dua pasangan bulan madu tiba di Indonesia dengan menggunakan penerbangan pertama. Sopir keluarga yang menjemput langsung membawa mereka semua ke Rumah Sakit tempat sang eyang putri di rawat.
"Bagaimana keadaan eyang putri Ma?" tanya Rama sesaat setelah sampai di rumah sakit.
"Masih kritis sayang. Belum sadar juga sampai sekarang." jawab Vita dengan wajah sedihnya.
"Kalian istirahatlah dulu, pasti capek kan dari perjalanan jauh begitu." ujar Vita kepada empat orang yang berada di hadapannya.
"Mama yang harusnya istirahat sama papa. Pasti udah seharian ini berjaga di Rumah Sakit jadi kurang tidur." jawab Rama sembari meminta mama dan papanya duduk.
"Bagaimana Tokyo, Ram?" tanya Gala pada putranya selaku ketua pelaksana acara bulan madu dua Raditya ini.
"Baik, Pa. Mr. Takeshi titip salam sama papa dan mama. Ia juga turut bersedih atas musibah sakitnya eyang putri." jawab Rama sembari mengajak Rara untuk ikut duduk. Istrinya itu pasti lelah dengan perjalanan ini.
"Oh, Iya. Mr. Takeshi bagaikan sahabat rasa saudara. Ia sangat baik pada kita semua.
"Padahal rencananya hari ini kita semua akan menyusul kalian ke Tokyo." ujar Vita ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Sarah dan Adam sudah tidak sabar mengunjungi tempat-tempat yang kalian kirimkan gambarnya itu. Tetapi apa boleh buat, tiket harus kami cancel karena musibah ini." lanjut Vita lagi dengan wajah sedihnya. Gala langsung memeluk bahu istrinya dan membawanya ke dadanya.
"Do'akan mama baik-baik saja dan panjang umur. Nanti kita akan bawa mama juga ke Tokyo atau ke tempat lain yang lebih menarik lagi." ujar Gala dengan penuh harap.
"Aamiin." jawab yang lain kompak. Rama berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah ruang ICU. Meminta izin pada dokter jaga agar mengizinkannya bertemu sang eyang meskipun belum siuman.
"Silahkan tuan, tapi tetap mengikuti protokol kesehatan ya." ujar sang dokter kemudian menyerahkan pakaian khusus untuk penjenguk pasien. Rama tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih dokter." ujarnya kemudian memakai pakaian itu dan melangkah masuk ke ruangan Nyonya Mawar. Ia seperti Dejavu. Serasa baru-baru saja ia melihat sang eyang putri dalam kondisi seperti itu dan kini terulang lagi. Sungguh eyangnya begitu kuat dan sabar menjalani penyakit kronisnya ini.
"Eyang," panggilnya lembut meskipun ia tahu sang eyang putri kesayangannya belum juga siuman dari serangan jantungnya lagi.
Rama mengelus lembut tangan keriput perempuan tua yang sudah melahirkan papanya itu.
"Ia lantas membacakan surah Al Fatihah dengan suara pelan.
"Audzu billahi minassyaitonirrjiim.
bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
ar-raḥmānir-raḥīm
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
Pemilik hari pembalasan.
iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Sodaqollallhul adziim.
Rama menatap lembut wajah damai sang eyang yang masih mendapatkan bantuan alat pernapasan di mulut dan hidungnya.
__ADS_1
"Eyang, cepat sembuh ya. Rama yakin eyang masih panjang umur dan melihat putra-putrku nanti lahir dan tumbuh besar." ujarnya tanpa bisa menahan air matanya yang tiba-tiba keluar.
"Eyang, Rama masih menunggu ceritamu tentang om Tama putra pertamamu itu. Pasti engkau sangat menyayanginya sampai memberkan namanya padaku, iyyakan?"
"Bangunlah eyang, Rama akan mengajak eyang untuk jalan-jalan seperti saat Rama masih kecil. Eyang sering membawaku kemanapun."
"Rama minta maaf, akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan dan juga istriku yang manja itu, eyang jadi kunomor duakan. Maafkan Rama ya eyang sayang." Rama terus mengoceh sampai tak sadar kalau ada bulir bening yang meleleh di pipi tua sang eyang.
"Eyang, cepat sembuh. Rama akan meminta papa dan mama untuk pulang dulu untuk beristirahat. Mereka kadang suka tidak memperhatikan kesehatan mereka juga." ujar Rama kemudian berdiri dan mencium kening nyonya Mawar Raditya.
Ia keluar begitu saja tanpa melihat kalau tangan keriput itu sedikit bergerak dan ingin memintanya untuk tinggal.
Rama keluar dari ruang ICU itu kemudian meminta papa dan mamanya pulang. Sovia dan Andika serta Rara juga ia suruh pulang ke rumah untuk beristirahat. Ia menyediakan dirinya untuk menjaga sang eyang putri sendiri.
"Mas, aku mau di sini saja temenin kamu." ujar Rara tak mau pulang.
"Tapi kamu lelah, kamu perlu tidur dan istirahat."
"Ih apaan lelah, Tokyo Jakarta cuma 2 jam. Jauhan ke Bekasi kali kalo jalan kaki." jawab Rara dengan sejuta alasan.
"Ya udah kamu tinggal di sini. Biar papa mama, Sovia dan suaminya yang pulang." jawab Rama pada akhirnya.
"Aku mau lihat mama dulu sebelum pulang." ujar Gala dan melangkahkan kakinya ke ruangan tempat mamanya masih terbaring lemah di sana. Setelah memakai pakaian khusus pembesuk pasien ia pun masuk dan memandang sosok lemah tak berdaya yang telah memberinya banyak cinta dan kasih.
Matanya tiba-tiba merasa ada yang janggal karena layar monitor di atas dinding menunjukkan tampilan yang datar. Tak ada lagi tampilan irama dan detak jantung di sana. Perlahan ia menyentuh tangan sang mama yang masih hangat tapi denyut nadi sudah tidak berdetak.
"Mama..." ujarnya pelan dengan segala prasangka di hatinya. Ia menggoyang tubuh kaku sang mama. Tetapi tidak ada reaksi sama sekali.
"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun." ujar Gala dengan suara bergetar menahan kesedihan di hatinya.
"Mama... maafkan Gala ma..." ujar Gala sambil memeluk tubuh mamanya yang sudah kembali ke penciptaNya. Kembali dengan tenang karena telah sampai batas waktunya di dunia ini. Ia memencet tombol Darurat agar dokter segera datang. Karena ia tak mau meninggalkan mamanya sedetik pun.
----Bersambung---
Selamat jalan nyonya Mawar Raditya. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT.
Mana nih like dan komentarnya...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1