
Seperti pada hari-hari sebelumnya Miska dijemput pada saat jam kerja usai. Miska keluar dari lift bersama teman karyawan yang lainnya. Ia kelihatan sangat kurang bersemangat sore itu. Hari ini ia banyak mendapatkan teguran dari atasannya. Karena tidak fokus mengerjakan banyak hal yang ditugaskan kepadanya.
Reno tampak mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ketika ia duduk di sebuah sofa di loby Perusahaan sembari menunggu Miska. Ia berdiri kemudian menghampiri Miska yang dilihatnya baru keluar dari lift.
"Mis, tumben tidak pulang bareng sama Vita?" tanya Reno ketika membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Miska tidak menjawab ia langsung masuk dan duduk dengan wajah yang bertambah kesal.
"Kamu bertemu Vita kan hari ini?" tanya Reno lagi sembari menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya.
"Kenapa sih kakak selalu menanyakan Vita?" tanya Miska balik dengan wajah merah menahan kesal di hatinya.
"Lho, emangnya tidak boleh? semalam kamu keluar sampai tengah malam bersama suaminya...apa Vita tahu?"
"Suami Vita itu sepupu aku kak, aku tidak perlu izin sama dia kapan aku mau bertemu dengan kak Gala,"
"Dan aku...kamu seharusnya minta izin padaku kalau mau keluar seperti itu," rupanya Reno belum puas dengan perdebatan semalam, ia masih ingin melanjutkannya sampai sore ini.
"Ya ampun kak, kakak lebih memikirkan perasaan Vita dan mengabaikan perasaan aku," ujar Miska dengan suara bergetar. Ia sepertinya sebentar lagi akan menangis.
Hari ini ia begitu kesal karena menjadi bulan-bulanan di divisinya yaitu divisi Informasi dan Teknologi. Semua orang di sana bermuka masam dari pagi sampai sore ini karena kabarnya server TGR diserang oleh hacker yang ingin membobol data-data penting perusahaan dan kini ketika seharusnya hatinya sudah harus lebih tenang karena sudah keluar dari lingkungan orang-orang sibuk dan emosi di sana ia malah di sambut oleh Suaminya dengan perdebatan yang tidak penting.
"Kita langsung pulang kak," ujar Miska setelah berusaha menenangkan hatinya yang terasa terjepit batu besar.
"Aku udah janji sama dokter obgyn. Kita akan periksakan kandunganmu," ujar Reno tegas tak ingin dibantah. Miska mau tidak mau harus setuju dengan perkataan suaminya. Ia pun mengangguk pelan.
Setelah beberapa menit berkendara mereka tiba di sebuah klinik. Reno langsung mengajak Miska masuk ke dalam ruangan pemeriksaan setelah melapor dibagian admistrasi di depan ruangan itu.
"Silahkan berbaring di atas sini ya Bu," ujar dokter perempuan itu ramah. Ia mulai membuka blouse yang dikenakan oleh Miska dan mulai meraba perut yang terlihat mulai membuncit itu.
"Pak Reno, bisa kemari dan melihat perkembangan calon baby anda," ujar dokter itu mengajak Reno yang sejak tadi duduk saja di ruangan yang lain ketika Miska diajak keruangan USG. Reno yang mendengar namanya dipanggil oleh dokter langsung mengikuti apa yang dimaksud dokter tersebut. Ia melangkah masuk ke ruangan USG untuk melihat langsung kondisi bayi dalam kandungan Miska.
Ia memperhatikan bagaimana bidan asisten dokter itu menyapukan sebuah cairan berbentuk gel ke atas permukaan perut Miska yang sangat putih dan kelihatan membuncit di area bawah pusarnya. Entah kenapa pandangan matanya tak mau beralih dari perut Miska yang cukup menarik itu. Ia sangat takjub akan keindahan di depannya. Sampai dokter mulai menjelaskan tampilan layar monitor kepadanya.
"Pak Reno," ujar dokter cantik itu karena melihat Reno terus memandang perut putih mulus itu dan tidak mengalihkannya ke layar monitor. Padahal ia sengaja memanggilnya masuk agar pria itu bisa melihat dengan jelas keadaan bayi dalam kandungan istrinya.
__ADS_1
"Eh, iya dokter ada apa?" tanya Reno tersentak dari pikiran-pikiran aneh yang berseliweran di kepalanya.
"Perhatikan ini ya Pak, baby junior anda sudah berkembang dengan baik di sini diusianya yang menginjak 16 Minggu. Ia sangat sehat, detak jantungnya normal," dokter itu menunjuk sebuah titik di dalam layar monitor.
"Apa ada keluhan dari calon ibu si baby pak?" tanya dokter kepada Reno yang kini menatap takjub pada layar itu. Ia tak menyangka akan segera menjadi seorang ayah.
"Maksudnya?" tanya Reno tidak paham. dokter tersenyum sembari melihat Miska dan Reno bergantian. "Keluhan tentang kondisi fisik si ibu, misalnya rasa mual atau pusing, dan mungkin sakit di pinggang atau di daerah lain?" ujar dokter itu ramah. Reno tidak pernah tahu keluhan seperti itu karena ia jarang berinteraksi dengan Miska. Mereka hanya sebatas suami istri rasa teman. Ia memenuhi kebutuhan yang sewajarnya saja.
"Ia suka marah-marah dokter dan suka kesal sama saya," jawab Reno spontan dan langsung membuat Miska mendelikkan matanya bertambah kesal.
"Calon ibu memang mengalami perasaan yang gampang berubah pak, itu adalah pengaruh hormon kehamilan."
"Makanya itu calon ayah harus selalu menjaga perasaan istri yang lagi hamil agar selalu bahagia yang bisa mempengaruhi kesehatan bayi juga dalam kandungan,"
"Pak Reno harus rajin memberikan perhatian-perhatian kecil untuk ibu Miska," ujar dokter tersenyum kemudian melanjutkan,
"Sapa bayi anda pak, ajak bicara sembari mengelus-elus seperti ini," dokter memberikan contoh dengan mengusap-usap perut Miska yang sudah dibersihkan oleh bidan asisten dokter tadi. Reno memandang tangan dokter itu dan membayangkan tangannya lah yang berada di situ.
"Dengan cara seperti ini perasaan si ibu akan tenang dan damai sehingga bisa mengurangi kekesalannya pada bapak," Reno tersenyum samar dan sudah mempunyai rencana dalam pikirannya.
"Ada keluhan Bu?, pusing setelah bangun dari tidur seperti ini?..." tanya dokter memastikan keadaan Miska yang sedari tadi diam saja.
"Tidak dokter, saya baik-baik saja, terimakasih," jawab Miska sembari memperbaiki letak blouse yang sempat terbuka tadi.
"Ini resep obatnya ya pak, cuma vitamin saja." Reno menerima resep itu kemudian keluar setelah mengucapkan terimakasih.
🍁🍁🍁🍁🍁
Nyonya Mawar kembali ke kediamannya pada pukul 20.00 malam. Keadaan genting di Perusahaan membuatnya ikut pusing dan berakhir lembur. Ia sama sekali tidak memperhatikan kalau seharian ini ia belum bertemu dengan Vita dan Rama cucunya.
Sementara itu masih di rumah yang sama. Vita Maharani bersama Rama masih bertahan di kamar almarhum mas Tama. Ia masih berbaring di ranjang ditemani Rama di sampingnya yang membawa semua mainannya ke atas ranjang.
"Ma, mama bangun ma, dinonya jatuh," Rama merengek minta diambilkan boneka dinosaurus yang jatuh ke bawah ranjang.
__ADS_1
"Ma...mama...bangun..." Rama menggoyang-goyang lengan Vita yang masih berbaring lemah. Vita segera meraba nakas di samping nya dimana ia meletakkan handphonenya di sana.
"Susan, kemari sebentar," Ia menghubungi no. pelayan muda itu agar segera datang untuk membantunya mengurus Rama. Tidak menunggu lama Susan sudah tiba di kamar itu dan menemani Rama bermain.
"Sus, apa tuan muda sudah pulang?" tanyanya kepada Susan. Ia Ingin tahu keadaan suaminya yang sejak kemarin mendiamkannya.
"Belum nyonya," jawab Susan singkat. Ia belun melihat penghuni rumah utama berkeliaran di dalam rumah besar itu. Vita langsung terdiam. Ia meraih handphonenya kembali dan berusaha menghubungi suaminya itu tetapi ternyata nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
"Apa mas segitu marahnya sama aku sampai handphonenya pun dimatikan," pikirnya membatin.
"Apa nyonya mau pindah ke kamar utama?" tanya Susan ragu-ragu takut nyonya mudanya tersinggung.
"Biar saya di sini saja, Sus. Di sini juga nyaman," jawab Vita dengan pikiran menerawang. Ia belum mau kembali ke kamar itu kalau suaminya tidak memintanya. Ia cukup kecewa dan bersedih dengan perlakuan aneh dari Gala.
"Apa ada yang mau Nyonya makan?" tanya Susan lagi khawatir. Karena Nyonya mudanya ini hanya makan sedikit sejak tadi pagi.
"Mulut saya rasanya pahit pengen makan sesuatu tapi takut merepotkan," ujar Vita sembari tersenyum.
"Bilang aja Nyonya nanti saya siapkan."
"Bukan makanan dari daerah sini. Takutnya kamu tidak bisa memasaknya."
"Kan bisa cari resep di gugel Nya, semua ada di sana. Masakan dari seluruh dunia, hehehehe," ujar Susan senang. Ia merasa bahagia punya majikan yang menganggapnya sebagai teman seperti ini.
"Kalau begitu bikinkan saya Kapurung, cari di gugel ya resepnya dan tambahkan sambel yang pedas, Mmmm pasti akan sangat nikmat dimakan tengah malam begini," Vita menelan air liurnya yang sudah membayangkan masakan itu ada di depannya.
"Baik, Nya...tunggu ya..."Susan segera melangkah ke dapur. Ia berharap masakannya ini enak dan sesuai dengan lidah Nyonya mudanya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayang nya Bhebz. Nikmati alurnya yah...
Jangan Lupa like, komentar, and kirim hadiahnya.
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍