
Sarah yang selalu didampingi Adam tak pernah lelah mencari keberadaan kakak tercinta beserta istrinya. Mereka berdua mendatangi tempat-tempat nongkrong yang biasa Rama datangi siapa tahu ada teman yang tahu dimana mereka atau pernah melihat mereka berdua. Ternyata semuanya nihil.
Kedua orang itu benar-benar menutup akses informasi tentang keberadaan mereka. Nomor handphone sudah tidak aktif. Alamat sosial media mereka seperti Instagram maupun Facebook juga tidak pernah melakukan pembaharuan status sejak menghilang dari keluarga.
Vita Maharani Semakin kurus dari hari ke hari. Kesibukannya hanya berada di dalam kamar Rama dan menangisi kepergian putra yang sangat dikasihinya itu.
"Mama, lihat nih putraku ma..." ujar Sovia sembari memperlihatkan baby Reza pada Vita sang mama. Usia baby itu sudah lima bulan dan sedang lucu-lucunya.
"Halo Reza, " ujar Vita singkat. Setelah itu akan kembali diam dan tidak melanjutkan interaksinya dengan sang cucu. Ia jadi tidak tertarik bercanda atau berinteraksi dengan siapapun hingga Sovia juga merasa sedih.
"Mama tidak gembira ya sama putraku." ujar Sovia sedikit kecewa karena sang mama kurang tertarik untuk mengajak baby Reza untuk mengobrol. Vita hanya diam. Pandangannya menerawang jauh. Ia tak berselera melakukan apapun yang menarik. Bahkan ketika sang suami meminta kewajibannya melayani di tempat spesial ia tetap memberikan tetapi tidak seperti dulu lagi. Semuanya terasa hambar dan tak hangat lagi. Ia selalu merasa kalau Gala adalah penyebab putranya pergi.
Gala tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua orang-orang terbaiknya sudah diperintahkan mencari dengan menyusuri kota Jakarta. Mr Takeshi pun tak luput dari pantauan dan permintaan tolong. Siapa tahu Rama kembali ke Tokyo dan berniat tinggal di sana. Hingga ia merasa Dejavu. Vita dulu pernah meninggalkannya bersama dengan Rama sebelum ia berhasil menikahi perempuan cantik itu. Gala tersenyum samar sambil berujar pelan,
"Aku akan kembalikan kebahagiaanmu Vit."
🍁
Pagi itu Rama akan berangkat ke tempat kerjanya. Selama berada di kota tempat kelahiran mamanya ia sibuk mengembangkan sebuah bisnis tempat wisata pantai yang cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan dalan dan luar negeri.
"Mas, Heru udah ngomong belum?" tanya Rara ketika mengantar sang suami ke depan pintu. Biasanya ia akan ikut serta menemani Rama bekerja tetapi kali ini tubuhnya terasa lemas dan kurang bertenaga. Ia lebih menyukai bantal dan kasurnya daripada melihat laut dan pernak-perniknya.
"Bilang apa? aku kalau ketemu gak pernah ngomong apa-apa."
"Itu ada temannya katanya pengen kerja paruh waktu di tempat wisata kita. Kemarin kan mas bikin iklan untuk orang yang jago bahasa asing gitu untuk jadi guide tour." ujar Rara sembari merapikan posisi jaket sang suami. Bekerja di sebuah tempat wisata tidak lagi menuntutnya untuk memakai setelan jas yang sangat rapi tetapi sekarang ia hanya memakai pakaian kasual santai yang dibalut oleh jaket kulit kesayangannya.
__ADS_1
"Laki atau perempuan? jago bahasa asing gak?" tanya Rama sambil menatap wajah istrinya yang sedikit pucat.
"Perempuan. Katanya lulusan dari Universitas di Moskow."
"Wah apa gak mubazir tuh ilmunya kalau cuma jadi guide tour aja. Pekerjaan ini gak level sama keilmuannya gitu."
"Gak tahu juga sih. Mungkin lagi pengen suasana baru aja mas."
"Oh iya.Nanti aku coba hubungi Heru dan meminta calon guide tour itu datang dan melakukan tes wawancara ringan."
"Iyya mas, hati-hati ya." ujar Rara dan mencium punggung tangan suaminya. Rama membalas dengan mengecupnya lembut kening istrinya.
"Ra' tubuhmu kok dingin banget sih?" tanya Rama sedikit panik. Wajah sang istri pun semakin memucat.
Bugh
"Sayang, bangun dong. Jangan bikin aku panik." teriak Rama karena tubuh sang istri semakin lemas dan juga tak sadarkan diri.
Ia segera mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam mobil dengan cepat dan membawanya ke Rumah Sakit.
"Tekanan darahnya sangat rendah Pak." ujar sang dokter yang sedang memeriksa keadaan Rara. Rama hanya diam. Akhir-akhir ini Rara memang selalu ikut dalam setiap kunjungannya ke tempat-tempat wisata bersamanya. Dan mungkin itu yang membuatnya kurang istirahat dan kecapekan.
"Dari hasil pemeriksaan tes darah istri anda, ternyata ia sedang hamil pak. Mungkin pengaruh itu yang membuat badannya lemas."
Deg
__ADS_1
Rama menatap sang dokter dengan wajah bahagia. Dadanya berdebar kencang mendengar berita yang sangat baik ini. Kabar yang sudah lama dinanti-nantikan oleh mereka berdua.
"Hamil?" tanyanya untuk meyakinkan pendengarannya.
"Iya, selamat ya Pak. Sepertinya anda baru tahu ya?" Rama tersenyum kemudian mengangguk. Ia lantas menatap istrinya yang sudah siuman itu dengan pandangan penuh syukur.
"Ra' kamu sebentar lagi jadi mama. Alhamdulillah." ujar Rama kemudian memeluk tubuh istrinya. Dokter dan perawat langsung menyingkir dari sana. Mereka ingin memberikan kesempatan kedua pasangan serasi itu mengekspresikan kebahagiaan mereka.
Pintu ditutup dari luar oleh mereka hingga membuat Rama bebas mengekspresikan rasa syukur dan terima kasihnya pada sang istri.
"Ra' terima kasih sayang, kamu mau mengandung anakku." ujar Rama pelan. Ia memandang wajah istrinya yang masih pucat itu dengan penuh cinta. Rara belum mengucapkan sebuah katapun, hanya air mata bahagia yang keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu kok nangis sih, Gak senang ya?" ujar Rama sembari menghapus air mata sang istri dengan jari-jarinya. Dengan perlahan ia mengecup lembut kedua mata Rara yang masih menangis itu. Lalu bibirnya berpindah ke pipi kiri dan kanan dan berakhir dibibir istrinya yang terbuka dan mengundangnya untuk memberikan lummatan-lummatan di sana.
"Ra' aku mencintaimu sayang, aku tak akan kemana-mana dan akan selalu menemanimu kapanpun." bisik Rama pelan diantara ciuman panjangnya.
"Aku mau ketemu mama mas, aku rindu sekali. Aku selalu memimpikan mereka berdua." ujar Rara setelah Rama mulai memberinya kesempatan untuk berbicara. Wajah Rama langsung berubah warna. Ia juga merasa rindu pada mama dan seluruh keluarganya tetapi hatinya belum mau kembali. Ia lantas menjauh dari tubuh istrinya.
"Kamu harus minum susu dan makan yang banyak agar tubuhmu kuat." ujar Rama berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Mas," panggil Rara memohon.
"Aku akan hubungi dokter, apa kamu bisa pulang sekarang atau tidak." lanjut Rama kemudian melangkah keluar dari ruangan bernuansa putih itu meninggalkan Rara dengan sejuta rasa di dalam hatinya. Sedih dan gembira berkumpul bersama di dalam dadanya.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍