Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 161 Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Kok diam saja?" tanya Rama pada Rara yang tiba-tiba jadi gadis pendiam gara-gara kejadian tadi di pinggir pantai.


"Ah, gak papa." jawab Rara singkat. Pandangannya sibuk memperhatikan lampu-lampu hias yang menghiasi pohon-pohon di pinggir jalan. Lama mereka terdiam sampai akhirnya Rama menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


"Eh, udah sampai ya?" tanya Rara kemudian celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar. Tapi tak ia temukan sesuatu yang ia kenal. Rama langsung meraih tangannya.


"Ra' aku serius tadi." ujar Rama sembari menatap dalam mata bulat Rara yang bergerak gelisah.


"Bagian yang mana?" tanya Rara polos. Otaknya blank akan maksud dari pria yang ada di sampingnya ini.


"Kamu istriku." jawab Rama singkat tanpa melepaskan tatapan dan tangan yang sedang ada dalam genggamannya.


"Eh, kalau berniat ngeprank jangan sekarang ya, aku udah ngantuk dan mau tidur cantik." timpal Rara sedikit gugup.


"Ra' aku serius. Aku akan melamarmu." ujar Rama lagi tapi sama sekali tak direspon dengan baik oleh gadis kriwil itu. Jadinya ia kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Kembali kotak besi beroda empat itu sepi dan tak ada pembicaraan sampai mereka tiba di depan rumah mewah dan minimalis, milik keluarga gadis berambut kriwil itu.


"Makasih tuan Rama Putra." ujar Rara kemudian membuka pintu dan turun dari sana. Rama hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


๐Ÿ


Rara merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mengganti pakaiannya menjadi piyama untuk tidur. Niatnya untuk tidur sekarang menguap entah kemana, Berusaha memejamkan matanya tetapi matanya tetap ingin terjaga begitu pun pikirannya yang sibuk mengembara ke dunia antah berantah. Beberapa kejadian berputar bagai rekaman kaset di kepalanya.


"Ah, tuan Rama Putra..." gumamnya pelan kemudian menutup wajahnya karena tiba-tiba merasakan sesuatu terjadi di dalam dadanya. Debaran aneh yang membuatnya gelisah dan senang secara bersamaan.


Tok


Tok


Tok


Lamunannya terjeda oleh ketukan beruntun dari arah pintu kamarnya.


"Ra' kamu belum tidur sayang?" ujar seseorang dari arah pintu. Gadis itu segera bangun dan membuka pintu kamarnya. Dyah, mamanya berdiri di sana dengan penampilan kacau disertai mata sembab.

__ADS_1


"Ada apa ma?" tanya Rara khawatir. Mamanya segera masuk ke kamar kemudian memeluknya erat.


"Papamu ditangkap polisi nak." tubuh Rara membeku karena kaget.


"Kenapa bisa ma?" tanya Rara dengan suara bergetar karena tak percaya akan pendengarannya.


"Ada yang melaporkan penyelewengan dana di perusahaan papa mu, sayang." ujar Dyah sembari menyusut air matanya. "Dan baru saja ia dibawa ke kantor Polisi, hiks." berkali-kali perempuan paru baya itu menghapus air matanya tetapi ia seolah tak ingin berhenti mengalir dari sumbernya.


"Sabar ma, nanti kita sama-sama bantu papa. Semoga bukan papa pelakunya." ujar Rara berusaha menghibur mamanya meskipun ia juga sangat sedih.


"Mama tidur sama Rara aja di sini." lanjutnya sembari menarik tangan mamanya ke tempat tidurnya. Sudah lama ia tidak tidur bersama perempuan yang melahirkannya itu. Di saat seperti ini mereka harus saling menguatkan.


Beberapa menit mereka terdiam saling memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya untuk membantu Ilhamsyah sang pejuang nafkah di keluarga mereka. Sedangkan jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Kamu kemana saja seharian ini, sayang?" Tanya Dyah setelah lama terdiam. Hanya bunyi jarum jam yang menemani keheningan di dalam kamar itu.


"Aku menghadiri acara pembukaan Restoran teman aku ma." jawab Rara kemudian menguap. Akhirnya rasa kantuk itu juga datang.


"Tidurlah sayang, besok pagi-pagi sekali kita akan jengukin papa."


๐Ÿ


Matahari yang cerah diluar sana tidak lantas membuat hati Rama juga cerah pagi ini. Dengan langkah malas ia mendatangi meja makan tempat dimana seluruh anggota keluarga sedang berkumpul untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi kakakku yang super ganteng." ujar Sarah dengan wajah ceria seperti biasa. Rama hanya membalas dengan senyum tipis seadanya.


"Ram, semalam pulang jam berapa sayang?" tanya Vita sembari menyendok nasi goreng spesial buatannya ke piring suaminya.


"Gak ingat ma. Mungkin tengah malam." jawab Rama dengan wajah ditekuk malas, meskipun begitu ia tetap kelihatan cool dan tampan.


"Kemana bawa anak gadis orang kak. Awas lho jangan macam-macam." timpal Sovia dengan senyum curiga diwajahnya. Ia melihat bagaimana Kakaknya itu membawa Rara dengan sedikit paksaan sahabatnya itu entah kemana setelah acara pembukaan selesai. Rama langsung menatap tajam Sovia dan sempat terpantau oleh Gala papanya.


"Ram!" seru Gala karena merasa ada yang tidak beres dengan putranya itu.

__ADS_1


"Iyya pa." jawab Rama kemudian mengarahkan pandangannya serius ke arah papanya. Ia paling takut kalau papanya mulai menatapnya seperti itu.


"Jangan suka main-main sama anak gadis orang. Kalau serius langsung lamar." ujar Gala dengan suara dingin. Ia tak pernah mengajarkan putra-putrinya untuk tidak bertanggung jawab.


Rama hanya diam. Ia tidak pernah berniat mempermainkan gadis itu tetapi ia malah yang jadi korban sekarang. Ketika semua perasaan dan uangnya ia serahkan pada gadis kriwil itu. Balasannya adalah teleponnya sejak semalam tidak dibalas oleh sang gadis. Pagi ini ia berharap gadis itu sudah mengaktifkan handphonenya dan membalas panggilan dan pesan-pesannya tetapi ternyata tidak sama sekali. Ia merasa dibuang dan dicampakkan. Rasa kecewa dan kesal sekarang menumpuk dalam hatinya hingga membuatnya kurang bersemangat memulai hari.


"Ram, dengar kata papa kan sayang?" ujar Vita dengan senyum teduhnya karena Rama hanya diam tak memberi respon.


"Kami akan menerima gadis itu, bawa kemari nak." lanjut Vita lagi. Ia takut kalau Rama main backstreet dan berakhir merusak anak perempuan orang lain.


"Tuh kan kakak. Mama sama Papa kasih lampu hijau lho." timpal Sovia dengan senyum jahilnya. Ia semakin senang dan ikut mengompori kakaknya. Sekali lagi Rama menatapnya tajam.


"Iyya kak. Sarah juga mendukung. Ayo udah pengen punya ponakan nih." ujar Sarah tak mau kalah. Rama hanya bisa tersenyum kecut ditodong oleh semua anggota keluarganya.


"Iyya, Ram. Eyang berharap masih panjang umur dan melihatmu menikah sayang." ujar Eyang putri yang sedari tadi hanya menyimak. Rama langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri eyang putrinya.


"Eyang putri masih akan panjang umur dan melihat putra-putriku nanti lahir dan memanggilmu eyang buyut." ujar Rama kemudian memeluk dan mencium nyonya Mawar yang semakin hari kesehatannya semakin menurun.


"Aamiin." jawab yang lain serentak.


"Sudah ah, kalian semua bisa telat, lho." ujar Vita menjeda pembicaraan mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi. Kalau mereka masih sibuk mengobrol maka dipastikan semuanya akan telat ke tempat tujuan masing-masing.


Setelah sarapan selesai semuanya bubar dari meja makan dan mulai melanjutkan aktifitasnya masing-masing.


"Kak Ram!" panggil Sovia saat Rama bersiap masuk ke mobilnya.


"Mau bicarakan temanmu yang matre itu?" jawab Rama dengan suara datar.


"Bukan?ยก, ya udah, aku sudah telat. Bye." Rama sudah tidak mau mendengar celotehan adiknya itu. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sovia hanya menghentakkan kakinya kesal karena kakaknya tidak mendengarkan penjelasannya tentang Rara.


---Bersambung---

__ADS_1


Mana nih dukungannya untuk othor, Like dan Komentar ya gaesss.


Nikmati alurnya dan Happy reading ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2