
Adam berusaha berdiri dibantu oleh para mahasiswa yang sedang lewat dan menyaksikan kejadian itu. Ia segera menghubungi Gala Putra Raditya kalau Sarah sedang dibawa kabur oleh sebuah mobil asing. lama ia menunggu panggilan itu tersambung tapi ternyata sambungan teleponnya tidak bisa terhubung dan hanya suara operator saja yang selalu menjawab panggilan itu.
Ia dengan cepat menghubungi Deka Roland sang papa, sembari mengemudikan mobilnya memburu mobil penculik yang sedang membawa Sarah pergi dengan kecepatan cukup tinggi.
"Pa, Sarah diculik, segera ke arah ini apa, aku akan kirimkan GPS ku ke papa." ujar Adam kemudian mengirimkan pesan ke nomor papanya.
Mobil Avanza hitam yang sedang membawa Sarah tanpa izin itu benar- benar dikemudikan oleh seorang Driver terlatih. Ia berani menerobos lampu lalu lintas dan bahkan menerobos palang kereta api yang sedikit lagi akan tertutup. Si driver tidak memperdulikan teriakan warga dan bunyi sumpritan dari petugas palang kereta. Ia terus melaju dan berhasil menyeberang sebelum kereta api itu datang.
Ciiit
Adam menghentikan mobilnya yang sedang mengejar mobil penculik itu dengan tiba-tiba. Ia tak berani menerobos palang kereta api yang sudah tertutup itu.
"Sial!" teriaknya di tengah deru berisik bunyi kereta api yang sedang lewat di hadapannya.
"Dam, kami segera menyusul mu." ujar Deka saat pria muda itu mengangkat telepon dari papanya.
"Aku kehilangan jejaknya Pa. Mereka berani menerobos palang kereta api." jawab Adam dengan suara di tekan marah.
"Kamu ingat flat mobilnya?" tanya Deka lagi dari ujung telepon.
"Ingat pa." jawab Adam masih dengan nafas memburu, karena emosi. Belum lagi kakinya yang baru ia rasakan sakit akibat tabrakan mobil itu tadi.
"Okey kirimkan sekarang juga dan kita akan sebarkan secepatnya ke semua pos-pos polisi lalulintas di sepanjang jalan ini."
"Iya Pa." jawab Adam, kemudian segera mengirim pesan kepada papanya.
🍁
Gala baru saja menerima telepon penting dari Deka setelah rapat dengan seorang koleganya di sebuah hotel selesai. Ia memang selalu mematikan jaringan teleponnya ketika ia sedang rapat.
Dengan rahang mengetat marah ia segera pergi dari tempat rapat itu. Dengan menggunakan koneksinya ia segera menghubungi Slamet Riyadi agar mengerahkan anggotanya untuk menemukan putri keduanya itu.
"Siapa yang berani bermain-main denganku!" ujarnya dengan emosi tertahan. Ia sudah memberi pesan kepada Deka agar tidak memberi tahu berita ini kepada semua perempuan di keluarga Raditya agar tidak menimbulkan kepanikan lagi. Hanya Rama yang ia hubungi agar segera bertindak juga mencari adiknya.
Setelah mendengar kabar bahwa Sarah diculik di area kampus. Rama segera menuju ke kampusnya Sarah. Hanya tempat ini yang terpikirkan olehnya. Karena menurut informasi dari Adam mobil penculik itu telah membawa Sarah jauh setelah mereka terpisah oleh kereta api yang lewat di depannya tadi.
Rama menanyai beberapa mahasiswa yang mungkin saja melihat kejadian itu beberapa jam yang lalu.
"Maaf dek, mau nanya sebentar." ujar Rama kepada kumpulan mahasiswi yang sedang nongkrong di depan Cafe di dalam area kampus.
__ADS_1
"Silahkan kak." jawab mereka bersamaan dengan saling menebarkan senyum terbaik mereka. Pasalnya tampilan Rama di sore itu cukup menambah vitamin dan energi di mata mereka. Kemeja biru laut yang digulung sampai siku menambah ketampanan pria muda itu.
"Kalian udah lama nongkrong di sini ya?" tanya Rama pada mereka yang sibuk memperbaiki penampilan mereka.
"Iya kak." jawab salah seorang dari mereka.
"Kenal Adam dan Sarah? mahasiswa jurusan Ekonomi." tanya Rama lagi.
"Oh Adam? iya kak tadi ia kena tabrak lari dari orang yang tidak bertanggung jawab, kak." jawab gadis berjilbab biru yang baru nimbrung.
"Oh jadi kamu lihat kejadian itu?"
"Iya kak kebetulan kami lagi ada di sana tapi Adam langsung memburu mobil itu karena sudah membawa Sarah." jelas gadis itu lagi.
"Kalian lihat pelakunya?" tanya Rama lagi dengan serius. Gadis itu tiba-tiba bungkam karena merasa takut menjadi saksi.
"Kakak polisi?" tanya salah satu dari kumpulan mahasiswi itu.
"Bukan. Aku kakaknya Sarah. Dan aku ingin kalian menceritakan apa saja yang kalian lihat boleh kan?"
"Boleh kak. Asalkan jangan bawa kami jadi saksi di kantor polisi. Kami takut."
"Tenang saja, kalian bahkan akan dapat hadiah jika mau memberiku informasi." ujar Rama kemudian menarik kursi dan ikut duduk bersama mereka di Cafe itu.
"Tidak ditraktir pun kami mau kak buka-bukaan informasi." ujar Dela yang terkenal centil.
"Hush, gak sopan." tegur yang lain dan langsung membuat Dela bungkam. Rama tersenyum dan langsung membuat semua gadis itu menutup mata karena tak kuat menatap senyum itu.
Sedangkan Rama sendiri sedang berpikir bagaimana memulai pembicaraan ini.
"Aku tadi bersama Sarah di Cafe ini kak." ujar Seseorang yang baru bergabung dengan mereka.. Rupanya ia mencuri dengar pembicaraan mereka tadi.
"Siapa nama kamu dek?" tanya Rama pada gadis yang baru bergabung itu dan siap memberinya Informasi.
"Saya Fira kak. Kami tadi duduk bertiga di sini sampai Sarah masuk ke toilet kemudian Adam datang dan mereka berdebat memperebutkan Sarah. Mereka sama-sama ingin mengajak Sarah pulang bersama tetapi Sarah menolak." jelas Fira panjang lebar.
"Mereka? siapa mereka itu?" tanya Rama semakin penasaran. Gadis yang bernama Fira itu menyeruput es bobanya Kemudian melanjutkannya.
"Adam dan Ahyan." jawab Fira singkat.
__ADS_1
"Siapa itu Ahyan?" tanya Rama lagi sembari mengingat-ingat nama teman Sarah yang bernama Ahyan.
"Apa dia mahasiswa di sini?" tanya Rama lagi karena Fira belum menjawabnya.
"Dia bukan mahasiswa di sini kak. Katanya sih dia sudah kerja di Perusahaan Double Insurance." jawab Fira lagi dengan wajah santai. Ia tahu semua tentang pria itu karena setiap Ahyan mampir di kampus untuk menarik perhatian Sarah. Pria itu juga rela mentraktir semua teman-teman Sarah di Cafe ini.
"Ahyan?" ulang Rama berusaha mengingat nama Ahyan yang ia kenal di Double Insurance. Dengan cepat ia menekan nomor handphone istrinya dan menanyakan siapa itu Ahyan.
"Halo?" ujar Rara saat sambungan telepon itu terhubung.
"Ra' kamu kenal Ahyan gak, katanya kerja di Double Insurance. Apa benar itu sayang?" tanya Rama dengan hati-hati.
"Iyya, kenal. Ia teman sewaktu SMA dulu. Ia baru beberapa bulan ini bekerja di sana. Emangnya kenapa mas?"
"Oh iya gak apa-apa. Cuma mau tahu aja. Udah ya. Kamu istirahat saja lagi." ujar Rama kemudian menutup panggilan telepon itu. Sebelum istrinya itu bertanya macam-macam.
"Tapi Sarah manggil cowok itu dengan nama Iyan atau Kak Iyan gitu." ujar Fira lagi.
Deg
Rama langsung tersentak kaget. Nama itu sepertinya pernah menjadi pembahasan sewaktu ia baru saja menikah.
"Iyan?"
"Iya kak. Ia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama itu." jawab yang lain.
"Tapi, apa kalian melihat kemungkinan Iyan yang menculik Sarah?" tanya Rama lagi berusaha sampai ke inti investigasinya.
"Kami sih tidak melihat kak. Tetapi setelah Adam membawa pergi Sarah dari Cafe ini. Aku melihatnya menghubungi seseorang dengan marah.
"Oh iya terima kasih banyak atas informasinya, dek." ujar Rama Kemudian menyimpan beberapa lembar uang rupiah bergambar presiden Indonesia pertama itu di atas meja.
"Aku pamit ya. Mohon doanya semoga Sarah cepat ditemukan."
"Aamiin. Makasih banyak kak." ujar mereka kompak kemudian tersenyum senang karena mereka bisa makan dan minum sepuasnya di Cafe itu. Maklumlah mahasiswa, mereka paling suka yang gratisan.
Rama segera menuju mobilnya dan mengarahkannya ke arah Double Insurance. Ia ingin mengenal lebih baik siapa itu Iyan sebenarnya.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍