Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 145 Kekacauan Hati Rama


__ADS_3

"Hey, kamu kan???" tunjuk Rara sambil menghadang langkah Rama. Ia memasang wajah siap perang. Matanya yang bulat indah melorot seakan ingin melompat dari tempatnya. Rama yang juga baru ingat kalau gadis kriwil di depannya itu adalah gadis yang ia jumpai kemarin di bandara langsung membalas tatapan gadis itu dengan bibir berkedut menahan senyum yang ingin muncul. Ditatap seperti itu Rara langsung kicep.


"Kau?" sekali lagi Rara mengucapkan kata itu karena lidahnya terasa kelu tidak tahu memulai dari mana.


"Ayo makan!" seru Rama dengan suara datar. Ia memimpin langkah di depan kedua gadis itu tetapi Rara langsung menghentikan langkahnya melihat di meja makan itu ada om Pandu dan keluarganya sedang bersenda gurau dengan para tamu lainnya.


"Sovi! aku gak jadi ikut makan." bisiknya pelan ditelinga Sovia yang sebenarnya bingung dengan kakaknya yang ternyata telah mengenal Rara dilihat dari interaksi kedua orang itu tadi.


"Kenapa?" tanya Sovia balas berbisik. Ia takut Rama didepannya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ada om Pandu di sana. Aku takut ia akan memberitahu pada mama dimana aku berada sekarang. Kamu tahu kan masalahku." Rara masih berbisik.


"Kalau begitu, kamu balik aja ke kamar nanti aku suruh bibi ngantar makanan untukmu, okey?" ujar Sovia memberi ide.


"Okey!" Rara langsung kabur dengan langkah seribu menuju kamar Sovia di lantai atas. Sedangkan Sovia melanjutkan langkahnya ke ruang makan dimana semua keluarga sudah lama menunggunya.


"Kok lama sekali sih sayang." tegur Vita sama Rama dan Sovia yang baru menarik kursi untuk duduk. Ia merasa tidak enak sama tamunya karena tuan rumah yang sengaja mereka kunjungi justru sibuk dan membuat para keluarga tidak nyaman.


"Maaf, ma. Bukan salah kak Rama, ini karena Sovia yang ada urusan sedikit." jawab Sovia dengan wajah menunduk. Rama langsung menatap adiknya itu dan mencari sosok cantik yang ternyata tidak ada diantara mereka. Ia berusaha menahan rasa ingin tahunya akan keberadaan gadis kriwil yang sudah cukup menarik perhatiannya itu.


"Iya ma. Mohon maaf eyang, papa, om dan tante. Sovia tadi ada urusan sedikit dengan kucing kriwil di kamarnya. Mari kita mulai makan malamnya." ujar Rama dengan sikap berwibawa. Gala langsung tersenyum bangga dengan gaya putranya itu.


"Kucing kriwil?' bisik Sarah di samping Sovia.


"Apa kakak punya kucing?" tanya Sarah lagi. Sovia tersenyum penuh arti dengan ucapan kakaknya itu. Ia berharap kucing kriwil itu sekarang sedang makan dengan lahap.


Setelah makan malam selesai dan dilanjutkan dengan acara nyanyi dan karaokean bersama di ruang keluarga, para tamu langsung pamit pulang meskipun kamar-kamar telah disiapkan oleh tuan rumah agar supaya yang mau menginap bisa langsung istirahat di kamar itu.


"Kami balik ya Vit," ujar Hany kemudian mencium pipi kiri dan kanan nyonya rumah.


"Gak nginap dulu, masih kangen nih." jawab Vita dengan senyum manisnya.


"Gak ah, papanya anak-anak maunya tidur di kamar sendiri." ujar Hany sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hem, semua kamar di sini ada peredam suaranya kok, jadi gak udah sungkan." Hany langsung menepuk lengan Vita pelan karena nyonya muda itu tahu maksudnya.

__ADS_1


"Pamit ya, lagian tadi mas Pandu baru dapat kabar kalau putri mbak Dyah hilang atau kabur gitu dari rumah. Kami ingin membantu mencari sebisa kami."


"Oh ya ampun. Kasihan sekali. Semoga segera ditemukan ya. Apalagi kan anak gadis." jawab Vita berubah khawatir ia membayangkan kedua anak gadisnya jika ditimpa kemalangan seperti itu.


"Baiklah Vit. Assalamualaikum. Salam sama Pak GM aku gak sempat pamit sama beliau."


"Oh nanti aku sampaikan.Tiba-tiba saja ada urusan perusahaan yang akan ia bahas lewat Zoom meeting. Maaf ya." ujar Vita tidak enak hati.


Reno, Miska, dan kedua putrinya Andira dan Antika serta tamu yang lain ikut berpamitan. Sisa Adam dan Andika yang berniat menginap di sana. Sejak kecil mereka memang sering saling mengunjungi dan terkadang menginap di rumah mewah itu.


"Dam, ke taman yuk." ajak Sarah pada sepupunya itu. Ia ingin sekali mendengar pria muda yang hanya bertaut usia 5 jam itu dengannya menyanyi dengan diringi gitar. Adam jago menyanyi.


Sementara itu Rama sedang uring-uringan di kamarnya. Ada rasa penasaran dimana kucing kriwil itu sekarang berada bahkan sampai makan malam selesai gadis urakan nan manis itu belum menampakkan lagi batang hidungnya.


Entah apa yang ia pikirkan tetapi ia ingin sekali melihat kucing kriwil yang sempat menarik perhatiannya itu, tetapi ia malu jika harus menanyakannya pada Sovia.


"Atau aku pura-pura ke kamarnya Sovia saja." ujarnya dalam hati. Ia kemudian keluar dari kamar dan berniat melangkah ke lantai atas. Tetapi telinganya menangkap percakapan Sovia yang sedang mengobrol dengan seseorang yang ia pastikan adalah si kucing kriwil itu. Ia pun mengikuti kemana suara-suara itu dan ternyata mereka sedang menuju ke arah taman di samping rumah yang cukup luas itu. Cahaya rembulan tampak menyinari kegiatan anak-anak muda itu di sana. Andika dan Adam sedang menyanyi dan memetik gitar untuk Sarah.


"Adam!" teriak Rara ketika melihat pria yang sedang memetik gitar itu adalah salah satu temannya sewaktu ada pertukaran pelajar antara Indonesia dan Inggris.


"Kamu ada di sini? di rumah ini?" tanya Adam masih tidak percaya akan penglihatannya. Ia langsung berdiri dan menyambut gadis kriwil yang sedang berlari menghampirinya. Sarah langsung memasang wajah cemberut karena ditinggal begitu saja.


Sementara itu Rama yang melihat kejadian itu tanpa sadar mengepalkan tangannya dan berbalik ke kamarnya. Ia merasa tiba-tiba merasa tidak nyaman berada di sana.


"Az-Zahra, coba ceritakan kenapa kamu ada di sini?" tanya Andika meminta penjelasan akan rasa tidak percayanya.


"Sovia ini temanku dan aku lagi main ke sini." jawab Rara dengan senyum cerahnya. Bahkan lebih cerah daripada sinar bulan malam itu.


"YUp benar banget. Sekarang lanjutkan nyanyinya dong." jawab Sovia dan mendorong kedua orang itu untuk kembali ke gazebo tadi untuk melanjutkan acara main gitar dan nyanyi-nyanyinya.


"Bisa request lagu gak?" tanya Sovia pada pada Andika yang sedang sibuk mencari nada yang pas.


"Boleh, lagu apa?" tanyanya tanpa melihat wajah sang pe request.


"Janji Putih milik Doddy Latuharhary!" jawab Sovia mantap. Ia sangat suka lagu itu apalagi kalau Andika yang menyanyikannya.

__ADS_1


Jreng


Dangke banya Lai Tuhan


Su Kasih dia par Beta


Inikah Tulang tusuk


Yang Tuhan ambel dar Beta?


...


Beta janji, Beta jaga


Ale untuk selamanya


Beta janji akan setia


Hanya untuk satu cinta


Ini cinta Beta punya


Dari relung hati jiwa


Cuma per ate sajalah


Cinta ini abadi selamanya


Sovia sampai memejamkan matanya menikmati suara Andika yang begitu syahdu di telinganya.


---Bersambung---


🍁


Jangan lupa like dan komentar ya gaess, biar othor tambah semangat update nya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2