
Andika mendorong pintu ruangan khusus untuk manager Resto D'Sov itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan sungguh ia sangat kaget karena apa yang ia lihat begitu mengganggu penglihatannya. Sovia sedang duduk di kursi kebesarannya dan seorang pria muda sedang berdiri di sisi kanannya dengan jarak yang begitu sangat dekat. Tangannya tiba-tiba mengepal kuat disisi kiri kanannya.
Sovia mendongak dan melihat kalau sosok yang baru datang itu adalah orang yang selama ini ia rindukan. Ia segera meminta Arya asistennya untuk keluar dari ruangan itu.
"Makasih ya Arya, bentar aku panggil lagi kalau ada yang aku gak ngerti." ujar Sovia dengan suara yang begitu mengganggu telinga Andika. Hanya dia yang harusnya dibutuhkan oleh Sovia seperti itu.
"Dika, silahkan duduk." lanjut Sovia ketika pria muda yang bernama Arya itu keluar dari ruangan. Ada banyak perubahan yang ia lihat dari Sovia, cara ia berbicara juga tidak manja lagi padanya. Ia seakan menjadi orang yang tak ia kenal hanya dalam waktu kurang lebih sebulan.
"Maaf ya Sovi aku datang terlambat." ujar Andika sembari memandang keseluruhan ruangan milik gadis itu. Sovie tersenyum berusaha menahan debaran di dadanya. Ia pikir setelah lama tak berjumpa dengan Andika perasaannya akan terkikis pelan-pelan tetapi ternyata tidak, rasa rindunya semakin menggunung. Perlahan ia berdiri dari duduknya ingin menyapa pria itu lebih dekat tetapi ucapan mamanya terngiang-ngiang secara tiba-tiba.
"Jadilah perempuan bernilai tinggi sayang, jangan mudah menunjukkan perasaanmu agar kamu tidak gampang dipermainkan oleh laki-laki." kembali ia duduk dan menunggu Andika mengatakan sesuatu.
"Sovi, ruangan ini bagus, siapa yang rancang?" ujar Andika berbasa-basi. Ia merasa risih sendiri karena Sovia begitu dingin padanya. Biasanya gadis itu akan datang dan bergelayutan manja di lengannya.
"Arya Gemilang, putranya om Pandu." jawab Sovia dengan nada gembira.
"Oh, cowok yang tadi?" tanya Andika dengan wajah langsung berubah warna, ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya.
"Dia baru bekerja seminggu yang lalu. Kerjanya bagus anaknya rajin, dan apa ya...hmm baik dan juga gak suka ngeluh so pasti paling ngerti diriku." Sovia terus memuji Arya di depan pria itu yang tak ia sadari telah mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras.
"Aku pamit deh, kalo gitu. Aku kayaknya gak dibutuhkan disini." ujar Andika kemudian berbalik ke arah pintu.
"Hey, tunggu dong. Masak gak mau makan dulu. Coba menu andalannya D'Sov." Andika menghentikan langkahnya kemudian menarik nafas dalam. Ia berusaha menahan perasaannya.
"Baiklah. Aku mau kamu sendiri yang masak." ujar Andika akhirnya kemudian kembali duduk di sofa yang terdapat dalam ruangan itu.
"Enak saja, hari ini aku capek sekali. Ada banyak pengunjung sejak tadi pagi. Tunggu sebentar ya." Sovia menghubungi seseorang dan meminta dibawakan makanan kesukaan Andika. Setelah menunggu dalam diam. Makanan pun tiba diantar oleh Arya.
"Ini dia cheff andalan D'Sov Arya Gemilang." ujar Sovia ketika pria muda itu mengantarkan makanan bersama seorang waiters yang mendorong troley berisi makanan. Seketika nafsu makan Andika menguap. Ia sangat tidak suka gadis manjanya memuji orang lain di hadapannya.
"Kenapa kok gak dimakan?" tanya Sovia bingung, padahal itu makanan Favoritnya Andika.
__ADS_1
"Gak lapar." jawab Andika singkat. Sovia langsung mengambil piring dan mulai mengisinya.
"Aku yang makan ya, seharian belum makan. Ini menu andalannya D'Sov lho Dik, sekali aku kasih tahu resepnya sama Arya ia langsung eksekusi, hebat kan dia?" ujar Sovia sembari terus mengunyah tanpa lupa memuji Arya setinggi langit. Andika berasa orang asing yang tidak ada apa-apanya dibandingkan cowok itu. Ia berusaha bersabar karena merasa telah kehilangan Sovia yang dulu yang selalu mengandalkan nya dalam hal apapun.
🍁
Sovia heran karena sampai malam Andika masih setia menunggunya di Resto D'Sov. "Kamu masih di sini?" tanya Sovia ketika masuk di ruangannya dan mendapati Andika masih di sana bermain gadget.
"Hem, iya." jawab Andika singkat. Tadinya ia sudah pamit pulang setelah melihat pemilik restoran ini sudah makan dan istirahat sejenak tetapi setelah membayangkan keadaan Resto nanti malam yang mungkin berbeda dari siang ini yang cukup ramai ia akhirnya memutuskan untuk menunggu gadis itu sampai selesai.
"Lho biasanya kamu kan sibuk jam-jam begini?" ujar Sovia sambil membereskan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya. Andika hanya diam mendengarkan. Ia mulai menyimpan gadgetnya di dalam tas kecil yang selalu ia bawa.
"Kalo malam begini biasanya kamu pulang sama siapa?" tanya Andika sambil berdiri menghampiri Sovia yang masih sibuk beberes.
"Biasanya sih pak Min yang datang menjemput tapi sekarang ada Arya jadi aku pulang sama dia." jawab Sovia dengan senyum teduh di wajahnya yang sudah tampak lelah. Ia tak sadar kalau Andika akan cepat merespon jika ia menyebutkan nama cheff muda itu.
"Arya?"
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Sovia bingung apalagi pandangan mata tajam Andika seolah menusuknya dalam.
"Karena Arya yang ada di sini. Lagian masak iya aku menghubungimu padahal Arya lebih cepat bisa berada di sini." jawab Sovia dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak kuat menerima tatapan tajam seperti itu dari seorang Andika, yang meskipun ia tahu pria itu selalu saja marah padanya jika ia merajuk dan memaksa tetapi sekarang pria itu berbeda.
"Sovi dengarkan aku. Aku tidak suka kalau kamu bergantung sama orang lain." ujar Andika lagi sembari menyentuh tangan gadis itu.
Tok
Tok
Tok
"Masuklah!" seru Sovia mempersilahkan orang yang sedang mengetuk pintu itu masuk.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Bisa kita pulang sekarang?" tanya Arya dengan nada sopan.
"Pulang saja sendiri. Aku yang antar Sovia pulang." jawab Andika datar. Arya tak langsung pergi ia menunggu respon dari Sovia sang bos. Setelah gadis itu mengangguk barulah ia menutup pintu dan pulang terlebih dahulu.
"Okey, bapak Andika yang terhormat mari kita pulang sekarang." ujar Sovia sambil meraih tas nya dan menyampaikannya di pundak. Andika mengikutinya keluar dari ruangan itu setelah menguncinya dari luar.
Sepanjang perjalanan Andika hanya diam begitupun dengan Sovia sampai tiba-tiba Andika menghentikan kemudinya dan menatap dalam mata Sovia yang sedang menatapnya bingung.
"Kok berhenti?"
"Aku minta maaf Sovi. Karena selama ini suka kasar sama kamu." ujar Andika dengan suara pelan.
"Ah, baru nyadar ya, untungnya aku sudah maafkan." jawab Sovia sambil tersenyum.
"Aku mau kita kayak dulu lagi." lanjut Andika tanpa mengalihkan pandangannya pada mata Sovia.
"Emang dulu kita kayak gimana sih, kan sama aja kayak sekarang."
"Sovi, aku serius."
"Emangnya aku kayak gak serius ya." jawab Sovia menahan senyumnya. Andika yang dulu beda dengan Andika yang sekarang. Sekarang tampak lebih dewasa. Perlahan pria itu meraih tangannya kemudian mengecupnya pelan. Sovia serasa tersihir. "Aku tak suka kalau ada laki-laki lain yang membuatmu nyaman, cukup aku saja. Ngerti kamu putrinya Gala Putra Raditya?" tanya Andika mencoba bercanda.
"Eh, papaku juga laki-laki. Ia sangat membuatku nyaman. Kamu mau kena smack down ya." jawab Sovia sambil tertawa.
"Pokoknya mulai sekarang hubungi aku kalau kamu ada perlu, okey?"
"Siap boss." jawab Sovia masih dengan tawa renyahnya. Ia tak tahu hubungan apa yang ditawarkan oleh Andika padanya yang jelasnya ia akan menjalaninya dengan batas-batas yang sewajarnya saja.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Hai, readers tersayangnya othor mohon dukungannya terus untuk karya ini. Jangan bosan klik like, komentar ya supaya othor tetap semangat update nya
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍