Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 237 Adam Sang Bintang


__ADS_3

Adam Roland mendapatkan predikat cumlaude dan diundang untuk mewakili para wisudawan untuk memberikan sebuah pidato singkat di sebuah gedung yang dipenuhi oleh ribuan undangan.


Semua orang yang hadir merasa bangga akan prestasi dan kecerdasan pria muda yang masih berusia 22 tahun itu.


Banyak orang tua wisudawan memberi selamat kepada Deka Roland dan Risma Yanti karena telah melahirkan seorang putra yang membanggakan.


"Selamat Pak Deka, putra anda memang jenius." ujar salah seorang orang tua wisudawan yang kebetulan mengenal Dekat Roland sebagai orang kepercayaan TGR Global Company.


"Terima kasih banyak Pak. Aku yakin putri anda juga punya kemampuan dan kecerdasan yang tak bisa dipandang enteng." jawab Deka dengan senyum diwajahnya. Ia tahu putri dari pria yang bernama Wawan ini juga memperoleh predikat cumlaude seperti putranya.


"Ah, ya mereka anak-anak yang cerdas yang perlu kita dukung dengan memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi." ujar Wawan dengan senyum bangga.


"Selamat siang Pak Wawan." sapa Gala yang baru bergabung di tempat ramah tamah setelah acara wisudah itu selesai.


"Selamat siang Pak Gala Putra Raditya. Senang berjumpa dengan anda." jawab Wawan dengan wajah antusias. Ia termasuk pengusaha yang banyak dibantu oleh Gala Putra Raditya.


"Apa putri anda mengikuti acara ramah tamah juga Pak?" tanya Wawan kepada Gala yang sedang duduk berdampingan dengan Vita Maharani sang istri.


"Iya, putri bungsu saya juga selesai tahun ini bersama Adam dan tentunya dengan putrimu kan?"


"Iya Pak, lihat itu mereka."


"Selamat siang Om." sapa Adam sambil menyalami tangan Gala dan Vita kemudian berpindah ke tangan Wawan orang tua Eci Karin.


Sarah dan gadis itu juga ikut menyalami semua orang tua yang ada di sana.


"Oh ini putri anda Pak Wawan, yang katanya dapat predikat cumlaude dan banyak membuat penelitian yang bermanfaat untuk Universitas." ujar Gala sembari memperhatikan seorang gadis manis dalam balutan kebaya modern.


"Iya Pak, ini putri saya satu-satunya. Yang saya harapkan bisa menuntut ilmu lebih tinggi lagi sampai bergelar doktor." jawab Wawan dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Nampak sekali kalau hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.


"Selamat nak Eci, kamu hebat, Tante sering baca jurnal kamu lho di Internet." timpal Risma Yanti sembari menyentuh bahu sang bintang hari ini selain Deka.


"Terima kasih banyak tante atas pujiannya. Adam yang paling hebat kok, sampai didaulat jadi pembicara di banyak acara." jawab Eci dengan pandangan tak biasa pada Adam.


Sarah langsung merasa tidak nyaman berada diantara mereka semua yang saling memuji kehebatan yang mereka punya sedangkan ia tak punya prestasi apa-apa.

__ADS_1


"Meskipun putri kami tidak mendapatkan prestasi seperti putra dan putri kalian, tetapi kami berdua bangga juga lho karena Sarah juga berhasil selesai dengan waktu cepat." ujar Vita cepat.


Ia sudah bisa melihat wajah putrinya berubah tidak nyaman karena semua orang saling memuji sedangkan putrinya yang juga ada di sana seolah-olah dianggap tidak ada.


Sarah langsung duduk disebelah mamanya dan bergelayut manja di lengan sang mama. Ia merasa bersyukur mempunyai mama yang sangat peka akan perasaannya.


"Ah, iya tante, Sarah juga hebat. Nilainya tak jauh beda dengan kita, iya kan Dam?" ujar Eci sembari menyentuh tangan Adam. Dan itu tak lepas dari perhatian Sarah. Hatinya tiba-tiba merasa kesal.


"Iya betul. Sarah itu hebat kok." jawab Adam singkat. Ia menatap wajah gadis yang sangat dicintainya itu dengan pandangan tak biasa. Tapi hanya dibalas dengusan kasar oleh Sarah. Ia kenal betul siapa Sarah. Gadis itu pasti sangat tak nyaman sekarang.


"Kalian nampak serasi sekali. Gimana kalau kita atur perjodohan kalian berdua." ujar seorang perempuan paruh baya yang masih sangat cantik diusianya itu. Ia adalah Suriya mamanya Eci Karin yang baru datang dari toilet. Matanya begitu berbinar bahagia menatap Adam dan Eci putrinya.


Adam langsung terbatuk dan melirik sekilas ke arah Sarah yang sama sekali tidak bereaksi.


"Ah, itu betul sekali, Saya sangat setuju dengan ide istri saya, mereka berdua sama-sama anak-anak yang cerdas pasti akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Bagaimana Pak Deka?" Wawan dan istrinya begitu bersemangat hingga orang-orang yang berada di saja hanya bisa diam dengan pikiran masing-masing.


"Kita beri kebebasan pada putra-putri kita pak Wawan. Biarkan mereka memilih sesuai dengan kehendak hatinya masing-masing." jawab Deka dengan suara pelan. Ia tahu betul bagaimana Putranya sangat akrab dengan Sarah, yang ia curigai mereka berdua punya sebuah hubungan istimewa.


"Eci putriku pasti setuju kan? Adam juga." ujar Suriya masih mempertahankan pendapatnya.


"Oh, tidak apa kalau begitu. Kalian kan mau lanjut Master kan. Dengan begitu kalian pasti akan lebih dekat." ujar Suriya lagi.


"Eh iya tante." jawab Adam tak enak hati. Pasalnya keluarganya sendiri pada diam dan seolah-olah menyerahkan semua urusan tersebut padanya.


"Ma, Pa, kita pulang yuk. Acara kan sudah selesai. Aku sedikit pusing." ujar Sarah dengan suara pelan. Adam yang sedari tadi memperhatikan sepupunya itu bertingkah tak biasa, segera menghampirinya tapi keburu ditarik oleh Eci.


"Dam, kita dipanggil ke Panggung tuh. Mereka kayaknya sudah ingin memulai talk shownya." ujar Eci berusaha mengalihkan perhatian Adam dari Sarah.


"Iya, mas kita pulang saja. Sarah sepertinya sudah sangat lelah." ujar Vita sembari berdiri dari duduknya. Ia juga mengajak Gala sang suami untuk segera kembali ke rumah.


"Deka, Risma kami pulang duluan yah, Pak Wawan dan jeung Suriya, Maafkan kami." ujar Vita berpamitan.


"Oh iya silahkan jeung Vita. Kami masih ingin menyaksikan Adam dan Eci diacara talkshow ini." jawab Suriya cepat.


Adam dengan wajah datar memandang punggung Sarah semakin menjauh. Padahal rencananya sehabis acara talkshow. Ia ingin mempersembahkan sebuah lagu yang sudah ia aransemen sendiri khusus untuk gadis itu.

__ADS_1


"Ayok Dam, kita udah dipanggil tuh." ajak Eci sembari menarik tangan Adam ke arah panggung.


Sedangkan Risma dan Deka hanya bisa berpandangan dan saling mengangkat bahu mereka masing-masing.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Sarah yang biasanya banyak tanya ini dan itu kini diam tak bersemangat. Vita sang mama sampai khawatir dibuatnya.


"Sarah, kamu masih merasa pusing ya sayang?" tanya Vita sembari menyentuh dahi putrinya. Ia ingin tahu apakah sang putri juga sedang demam atau tidak.


"Iya ma, aku pengen tidur cepat." ujar Sarah dengan suara pelan.


"Kamu jangan mikirin apa yang orang-orang katakan ya. Bagi kami, kamu udah bisa selesai dengan nilai yang sangat bagus itu sebuah kebanggaan lho sayang."


"Iya, Ma. Aku gak apa-apa kok. Sudah bersyukur telah menempuh Strata satu ini tanpa kendala yang cukup berarti." jawab Sarah kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran jok."


"Kamu mau lanjut S2 juga SAR?" tanya Gala yang sedari tadi cuma diam menyimak pembicaraan orang-orang di dalam gedung tadi.


"Aku mau kerja aja deh Pa. Bolehkan kalau aku jadi sekretaris Papa, hehehe." ujar Sarah dengan nada gembira. Ia sudah malas melanjutkan kuliah. Ia ingin langsing terjun ke dunia kerja.


"Hem, boleh juga. Tapi kamu harus lolos tes dari mamamu." jawab Gala tersenyum.


"Kalau mama sih gampang. Aku temanin dia nonton film Bollywood kesukaannya pasti udah lolosin, iyya kan Ma?"


"Ada ya model tes seperti itu?" tanya Vita dengan wajah berpura-pura bingung. Gala langsung tertawa melihat ekspresi istrinya.


"Ih, mama belain napa?" Sarah pura-pura merajuk.


"Iya, sayang. Apapun maumu akan kami kabulkan."


"Terima kasih Ma, Pa. Aku sayang kalian." Sarah memeluk tubuh mamanya dan menciumnya. Rasa kecewa tadi pada Adam sedikit terobati. Ia juga ingin membuktikan dirinya juga bisa berprestasi.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2