
Gala Putra Raditya memasuki ruangan ibu Presdir dengan langkah gontai. Ia tidak tau kenapa pimpinan tertinggi di Perusahaan ini memanggilnya.
Sesampainya di dalam. Pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan yang tampak ramai. Ia tidak menyadari kalau ialah tamu terakhir yang ditunggu-tunggu.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan wajah bingung. Semua orang menatapnya dengan wajah sumringah.
"Silahkan duduk Pak General Manager" ujar Edwin dari divisi marketing. Gala mengambil tempat duduk yang sudah disiapkan di samping ibu Presdir.
"Baiklah, karena Pak General manager sudah hadir bersama-sama dengan kita di sini. Saya sebagai manager marketing ingin menyampaikan bahwa aplikasi M&G sangat laku dipasaran. dan itu sangat membawa keuntungan yang besar bagi perusahaan" ujar Edwin panjang lebar.
Semua yang ada di situ bertepuk tangan bahagia tak terkecuali Gala Putra Raditya. Ia ingin menyampaikan berita gembira itu langsung pada Vita Maharani. Ia tak ingin kalau orang lain atau bahkan Edwin yang melihat kebahagiaan gadisnya.
"Saya kira kita patut merayakan ini secara besar-besaran" Ujar Edwin lagi merasa bersemangat.
"Tentu saja, silahkan kalian atur kapan waktunya" jawab Ibu Presdir mempersilakan.
"Dan ingat pastikan Vita Maharani harus ada di sana menerima sebuah penghargaan" lanjutnya lagi.
"Baik Bu. Saya akan atur sedemikian rupa agar pestanya meriah dan berkesan bagi semua karyawan kita"
"Siapkan beberapa undangan untuk para pengusaha muda dan relasi-relasi kita" ujar Gala tenang.
"Baik pak, akan saya laksanakan" jawab Edwin mantap.
"Saya percayakan acara ini sukses di tanganmu!" ujar Gala sembari menjabat tangan manager baru yang masih sangat muda itu. Edwin tersenyum senang. Ia akan buktikan ditangannya Divisi Marketing akan lebih maju lagi.
Setelah meeting singkat itu selesai, Gala Putra Raditya segera undur diri. Ia ingin menyampaikan kabar gembira ini ke Vita Maharani secara langsung.
Langkahnya yang panjang ia arahkan ke Daycare Perusahaan.Terakhir kali dari pantauan kamera CCTV Vita Maharani berada di sana bersama putranya. Ia yakin gadisnya masih di sana.
Bunda Tika sebagai ketua pengelola Daycare menyambutnya dengan antusias.
Seorang pimpinan kedua tertinggi setelah Nyonya Mawar Raditya Presdir TGR Global Company menyempatkan mampir di tempatnya bekerja adalah suatu hal yang istimewa.
"Selamat siang Pak" Bunda Tika langsung menyapa dengan sopan ketika Gala sudah berdiri di depan pintu Daycare tanpa bisa menutupi wajah tampan dan berwibawanya.
"Siang, mba" jawab Gala ramah. " Apa ibu Vita Maharani masih ada di dalam?" tanya Gala langsung. Ia sudah tidak sabar bertemu dengannya.
"Maaf, Pak. tapi Ibu Vita baru saja pulang membawa Rama putranya" Bunda Tika menjawab dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia terlalu senang bertemu langsung dengan General Manager yang cukup terkenal dengan kecerdasan dan ketampanannya.
Gala tiba-tiba menampakkan wajah kecewa. Senyum yang tadi mengembang kini sedikit layu. "Baiklah, terima kasih" Gala berbalik dan segera kembali ke ruangannya. Hatinya belum bisa menerima perubahan drastis yang terjadi pada Vita Maharani.
"Apa aku melakukan kesalahan padanya?" tanya hatinya berkali-kali.
"Apa aku tadi tidak membuatnya nyaman?" pertanyaan lain bermunculan di otaknya yang cerdas tetapi kadang tidak bisa mengerti perasaan perempuan.
Dengan cepat ia menghubungi nomor handphone Vita. Ia hanya ingin tahu dimana gadis itu berada sekarang.
Tut
__ADS_1
Tut
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan silahkan coba lagi beberapa saat lagi" hanya suara operator yang menjawab panggilannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu, Vita Maharani yang ingin berusaha melupakan kejadian yang sangat memalukan buatnya. Ia mengajak Rama ke supermarket untuk membeli bahan-bahan kue. pikirnya mungkin dengan memasak itu akan membuatnya lebih baik.
Rama yang ia letakkan di atas trolley belanjaannya ikut memilih dan memasukkan barang apa saja yang dijangkau oleh tangan mungilnya.
"Sayang, ini kita kembalikan ya"
"Kita belum butuh ini" Vita mengembalikan beberapa barang kembali ke rak, begitu seterusnya. Karena Rama akan selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang.
"Hey, Rama cucunya Oma..." Vita mencari sumber suara yang sepertinya ia kenal. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedikit. Ternyata Tante Ninick sedang berbelanja juga. sudah lama mereka tidak bertemu sejak acara makan malam waktu itu.
"Tante, apa kabar?" tanya Vita sembari mencium punggung tangan Tante Ninick.
"Alhamdulillah sangat baik" jawab Ninick dengan senyum mengembang sempurna. Ia sudah lama ingin bertemu dengan Vita dan Rama.
"Eh, kamu sedang bolos kerja ya?" Ninick bertanya sembari menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Vita.
"Ini kan masih jam kerja ko' pada ada di sini?" tanya nya lagi secara beruntun. Vita segera menjawab, takut Tante Ninick bertanya macam-macam lagi.
"Lagi minta cuti sehari Tante, mau bikin kue enak sama Rama"
"Tapi, peralatan masak di rumah kost sangat sederhana Tante. Takutnya Tante gak nyaman"
"Kalau gitu kita masak di rumahnya Tante, gimana?"
"Mau ya?" bujuk Ninick sembari memegang tangan Vita seperti anak kecil. Vita akhirnya mengangguk setuju. Ia memang butuh kesibukan dan seorang teman agar sesak di dadanya bisa segera hilang.
Mereka berdua memilih bahan-bahan yang akan mereka buat sebentar. Mereka layaknya seorang ibu dan anak perempuannya.
Sesampainya di rumah keluarga Sebastian. Vita menidurkan Rama terlebih dahulu. Setelah itu mereka berdua berkutat di dapur membuat aneka macam kue.
"Kue buatanmu sangat enak, Vit" ujar Ninick setelah mencoba brownies buatan Vita. Ia mengunyah dan terus mengeluarkan kata-kata pujian.
Vita hanya tersenyum sambil terus membuat adonan kue lain.
"Kamu belajar darimana bikin kue seenak ini?"
"Dulu Saya menjual kue tante, bersama almarhumah kakak saya" jawab Vita pelan. Ia tiba-tiba rindu sama sosok Gita sang kakak yang sudah mengajarnya banyak hal.
"Oh, maafin Tante sayang, jangan bersedih ya" ujar Ninick sendu.
"Gak papa Tante, Vita sudah ikhlas ko'" ujar Vita dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Assalamualaikum ma" Reno memberi salam kepada mamanya tetapi matanya berbinar bahagia melihat seseorang yang berada di dapurnya.
__ADS_1
"Waalaikumussalam" jawab Ninick dan Vita bersamaan.
"Hai, Vit udah lama?" tegur Reno sembari menarik kursi dan ikut menikmati kue buatan Vita.
"Tidak juga" jawab Vita singkat. Ia tidak memperhatikan Reno yang menatapnya. Ia sibuk menuang adonan ke dalam cetakan-cetakan kecil.
"Ini semua buatan Vita lho Ren" Ninick menunjukkan semua kue buatan Vita di atas meja.
"Mama sudah lama lho pengen punya mantu yang pintar masak kayak Vita" ujar Ninick lagi dengan suara ia arahkan ke depan Microwave di mana Vita berada.
"Uhuuuuk" Reno tersedak kue yang sedang dimakannya.
"Nih minum!" Ninick memberi segelas air pada putranya. Ia menatap tajam pada Reno yang menurutnya kurang berusaha mendapatkan Vita. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Vita yang masih sibuk dan seolah-olah menulikan kupingnya.
"Vit, mau gak jadi menantunya Tante?" ujar Ninick yang langsung membuat Vita ikut-ikutan tersedak.
"Uhuuuuk, maaf" Vita langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dapur itu. Ia ingin menghindari tatapan dua Pasang mata yang sedang menunggu jawabannya.
"Kamu ko' diam saja sih" Ninick memukul bahu putranya dengan keras.
"Pepet terus, perempuan itu akan meleleh jika perhatian laki-laki tumpah ruah padanya" ujar Ninick mendelik kesal. Ia sedikit tidak sabar dengan Reno yang berjalan seperti siput.
"Siap ma" jawab Reno mantap. Ia pernah akan memakai kekerasan jika Vita menolak. Tetapi sekarang ia berubah pikiran. Ia akan pakai perasaan yang dipaksakan eh🤭 untuk mendapatkan hati Vita sesuai ajaran mamanya tersayang.
Vita Maharani akhirnya keluar dari kamar mandi setelah yakin dua orang itu sudah tidak berada di dapur. Ia berniat pamit setelah adonan yang terakhir ini matang. Rama juga sudah bangun dari tidurnya.
"Vita mohon pamit Tante" ujar Vita setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Kamu diantar Reno ya"
"Dan ini oleh-oleh untuk Bu Dewi. sampaikan salam Tante padanya"
"Makasih Tante, "
"Sering-Sering main kemari ya, biar Reno yang jemput"
"Insyaallah, kalau Vita ada waktu, assalamualaikum" Vita pamit sembari menenteng tangan mungil Rama yang ingin berjalan sendiri.
"Da da da Oma" ujar Rama lucu setelah mencium punggung tangan Ninick. Rama sudah diwanti-wanti olehnya agar memanggilnya Oma saja bukan nenek.
Ninick melambaikan tangan mengantar kepergian tiga orang itu, dalam hati ia berdoa semoga mereka bisa bersatu dalam pernikahan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Part ini spesial untuk Mam Ninick Wahyuni Amalia. Tetap jadi mama yang baik ya sayang...
And untuk readers tersayang nya othor, jangan lupa like, komen, n kasih hadiah bunganya yah..
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1