
"Ma, mau ada acara ya, kok masaknya banyak sekali sih." tanya Sovia saat melihat begitu banyak makanan yang ada di atas meja di dapur. Hampir semua menu spesial keluarga Raditya ada di sana.
"Cuma acara makan malam biasa, Kakakmu kan baru datang jadi semua anggota keluarga pada mau mampir sekalian pada liburan weekend." jawab Vita sembari menata masakan yang sudah siap dibantu oleh para ART yang lain.
"Sovi, kamu siap-siap gih. Mereka semua sudah hampir tiba." ujar Vita lagi memintanya segera ke kamar untuk bersiap.
"Aku ma, bisa bantuin apa?" tanya Sarah ikut nimbrung setelah lama diam saja sambil memakan buah anggur yang sudah tertata cantik di atas meja.
"Gak usah sayang, kalian semua bersiap aja. Dandan yang cantik." Vita tersenyum penuh arti.
"Okey mama sayang." jawab mereka kompak. Setelah itu Vita pun segera menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap. Ia tampil paripurna sebagai nyonya rumah yang mengundang para anggota keluarga Raditya yang lain.
🍁
"Ra, bangun." ujar Sovia sembari mencipratkan air ke wajah temannya itu yang masih tidur dengan lelapnya.
Gadis itu langsung melompat kaget.
"Wih hujan, banjir!" teriaknya latah.
"Hahahaha, bukan hujan sayang tapi badai, ayo cepetan mandi dan siap-siap." ujar Sovia yang ternyata sudah tampil segar dan cantik. Ia berdiri berdampingan dengan Sarah yang juga tampil tak kalah cantiknya. Dua gadis milik Gala Putra Raditya.
"Kalian gak sedang jadi tamu pernikahanku kan?" tanya Rara dengan tampilan wajah bingung dengan suasana baru di depan matanya. Kamar mewah yang ia tempati terasa asing di benaknya. Dan rupanya nyawanya pun belum terkumpul dengan benar.
"Oi sadar! ini bukan dunia mimpi, nikah nikah aja yang kamu pikirin." teriak Sovia keras agar teman gesreknya itu cepat sadar. Rara menggelengkan kepala keras dan seketika tersadar kalau ia sudah ada di dunia nyata.
"Maaf aku tadi mimpi buruk, Orang tua itu maksa aku menikah dengan cucunya yang tidak aku kenal." ujar Rara pelan. Hatinya yang takut dan sakit masih terbawa ke dunia nyata.
"Udah ah, kata mama kalau lagi mimpi buruk cepat meludah kesamping supaya gak kejadian." timpal Sarah yang merasa kasihan juga dengan gadis kriwil di depannya ini.
"Ayo buruan mandi biar kamu segar," Sovia mendorong tubuh Rara ke kamar mandi agar gadis itu cepat baik lagi perasaannya. Mungkin dengan diguyur air dingin otak temannya itu tidak akan kusut lagi seperti rambutnya.
__ADS_1
"Sovi, aku pakai baju apa? pakaianku tadi udah asem banget dan keringatan." ucap Rara sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Sedangkan tubuhnya hanya berbalut handuk putih pendek yang hanya menutupi dada sampai pahanya. Tanpa sadar seseorang sedang memperhatikannya sejak tadi tanpa berkedip. Rara yang baru sadar telah ditelanjangi oleh mata elang seseorang langsung lari lagi ke kamar mandi karena ternyata bukan Sovia yang ada di dalam kamar itu tetapi Rama sedang berdiri di sana menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Huh, siapa itu? Kok Sovia berubah jadi cowok sih?" Rara memukul kepalanya pelan. Kemudian menyiram lagi rambutnya dengan air dari shower. Ia yakin ia sekarang masih di dunia mimpi karena tak mungkin seorang cowok bisa langsung ada di sana seperti itu.
Sementara di luar sana.
"Siapa itu tadi?" ujar Rama pelan. "Apa Sovia dan Sarah menyembunyikan seseorang di dalam sini?" tanyanya dalam hati. Kemudian mengambil sesuatu di atas nakas yang tadi diminta ambilkan oleh adiknya itu kemudian keluar dari kamar itu tetapi ekor matanya masih berada di pintu kamar mandi itu berharap sosok cantik dan itu keluar dari sana.
🍁
"Selamat malam tante Risma." sapa Sovia dan Sarah berbarengan sambil mencium punggung tangan Risma Yanti istri dari om Deka Roland itu.
"Selamat malam sayang, tambah cantik aja nih." jawab Risma sambil cipika cipiki sama kedua gadis kesayangan keluarga Raditya itu.
"Ah Tante bisa aja, Adam ikut kan?" tanya Sovia antusias. Ia ingin sekali bertemu dengan Adam yang kemarin ikut pertukaran pelajar ke Inggris.
"Ikut kok, masih di luar. Dia juga kangen sama kalian."
"Ih Om Deka sombong."
"Gak negur kita." Sarah merajuk manja. Ia memang sangat akrab dengan Omnya yang satu ini.
"Halo Sarah sayang, " Deka tersenyum kemudian mengelus lembut kepala ponakannya itu.
Setelah berbasa-basi sebentar Deka dan Risma melangkah menuju ruang keluarga dimana semua tamu sudah ada di sana. Ada Reno bersama anggota keluarganya. Pandu dan Hany beserta putri semata wayangnya. Dan tentu saja sang bintang Rama Putra Tama cucu tertua Tuan Raditya.
"Selamat datang om Deka dan tante Ris." sapa Rama dengan sopan. Ia mencium punggung tangan keduanya kemudian mempersilahkan dua orang yang sangat disayanginya itu untuk duduk disamping mama dan papanya. Sedangkan ia sendiri pamit sebentar untuk mencari Sovia dan Sarah yang sedang ada di halaman rumah sedang mengobrol dengan Adam putra Om Deka serta Andika putra om Reno.
"Ayok semuanya masuk, makan malamnya mau dimulai." ujar Rama memanggil adik-adiknya itu ke dalam. Semuanya ikut masuk tetapi di tengah jalan Sovia langsung berlari ke lantai dua. Ia baru ingat kalau telah meninggalkan temannya di atas sana.
"Sovi! mau kemana?" tanya Rama dengan suara menggelar. Ia paling tidak suka kalau acaranya tertunda hanya karena masalah sepele.
__ADS_1
"Bentar kak, 5 menit aja," ujar Sovia sembari melipat tangan di depan dada kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Rara!" teriak Sovia karena tidak melihat gadis kriwil itu dimanapun. Ia lantas menuju kamar mandi dan menemukan temannya itu masih berada di dalam dengan kondisi seperti tadi, tubuhnya masih terbalut handuk putih dengan rambut yang sudah mengering.
"Kok belum siap-siap sih?" tanya Sovia sedikit kesal. Ia takut kakaknya akan memarahinya karena terlambat.
"Aku kan gak punya pakaian Sov." jawab Rara sembari meremas ujung handuknya.
"Astagfirullah. Aku lupa maaf yah?" ujar gadis itu kemudian mengajak Rara keluar dari kamar mandi itu dan memulihkannya pakaian dari walk in closetnya.
"Silahkan mau pilih yang mana?" ujar Sovia sambil memamerkan semua koleksi gaunnya.
"Aku ambil ini deh" Rara mengambil satu gaun hitam sederhana.yang panjangnya dibawah lutut dan cukup tertutup di bagian atasnya. Karena diburu waktu yang sangat singkat. Sovia akhirnya menyisir rambut kriwil Rara yang cukup lembut dan halus karena sudah diberi sampo yang cukup banyak oleh gadis itu. Ia kemudian memberi jepitan pita kecil di bagian atas sisi kiri dan kanannya.
"Nah, ini baru teman aku, udah cantik dan gak urakan lagi." ujar Sovia tersenyum senang melihat hasil make-upnya pada wajah dan rambut Rara.
"Hayuk kita turun." ujar Sovia dan membawa Rara turun ke lantai satu di mana semua tamu berkumpul.
Mereka berdua pun turun melewati tangga. Rama yang masih berdiri di bawah tangga menunggu adiknya sudah tidak sabar karena waktu 5 menitnya sudah lewat. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sosok gadis kriwil yang sangat manis sedang menuruni anak tangga bersama adiknya. Gadis yang ia lihat tadi di depan kamar mandi.
"Kak, maaf aku terlambat." ujar Sovia dengan suara merajuk agar Rama tidak memarahinya. Tetapi Rama bukannya marah malah tersenyum samar dan mengajak kedua orang itu ke meja makan untuk makan malam bersama. Tetapi ekor matanya selalu menempel pada gadis kriwil yang ia rasa sangat tidak asing baginya. Sampai Rara baru menyadari sesuatu.
"Hey, kamu kan???" tunjuk Rara sambil menghadang langkah Rama.
---Bersambung---
🍁
Hai, tunggu kelanjutannya sebentar lagi yah...Like dan komentar dong...Biar rame hehehe
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1