Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 129 Kabar Gembira Di Tengah Kepanikan


__ADS_3

Hany mengikuti perawat yang mendorong brangkar dimana Vita Maharani ada diatasnya. Kepanikan semakin melandanya saat melihat Vita berteriak kesakitan.


"Vita maafkan aku ya," ujar Hany disela-sela langkahnya di samping Vita yang berbaring pucat. Ia sampai meneteskan air mata karena merasa kasihan dengan penderitaan ibu hamil ini. Langkahnya berhenti ketika sampai di ruang tindakan. Ia tidak diperbolehkan masuk.


"Maaf nona. Anda di sini saja." ujar salah seorang perawat yang akan melakukan tindakan kepada sahabatnya itu. Ia hanya mengangguk pasrah dengan sejuta doa dan harapan agar Vita baik-baik saja di dalam sana.


"Han!" mana istriku!" suara Gala yang menggelegar dari ujung lorong membuatnya semakin merasa takut dan bersalah.


"Ada di dalam pak." jawab Hany dengan suara bergetar. Deka Roland sang asisten juga ada disana menatapnya tajam.


"Apa yang terjadi sebenarnya, katakan padaku!" teriak Gala dengan wajah tegang. Estimasi waktu melahirkan bagi Vita masih ada seminggu lagi. Ia takut terjadi hal besar pada istri dan calon bayinya itu. Papa dari Sovia itu sampai meninju tembok berkali-kali hingga membuat Hany semakin tak sanggup bercerita. Gadis itu hanya bisa menunduk dan menangis.


"Pak GM tenang dulu. Kita tunggu apa kata dokter." Deka berusaha menenangkan Gala yang seperti kesetanan. Ia melihat Hany yang semakin takut denga keadaan Gala seperti itu. Tak lama setelah itu pintu ruangan tindakan terbuka dan menampilkan seorang dokter perempuan keluar dari sana.


"Suami pasien yang mana?" tanya dokter itu ramah.


"Saya dokter." jawab Gala dengan cepat. Ia segera menghampiri dokter itu dengan langkah cepat.


"Istri anda akan kami bedah atau Caesar pak karena ketuban sudah lama pecah dan sudah mengering yang akan menyusahkannya melahirkan jika harus normal pak." ujar dokter itu yang membuat Gala meraup wajahnya kasar. Ia semakin tegang dan takut dibuatnya. Bayangan hal-hal buruk menghantui pikirannya.


"Lakukan yang terbaik dokter. Selamatkan keduanya." lanjut Gala dengan wajah memohon.


"Mohon doanya ya pak semoga kami bisa bekerja dengan baik."


"Iyya dokter. Aamiin."


"Baik pak, silahkan mengisi formulir kesediaan anda akan tindakan kami ini." Gala dengan cepat mengikuti instruksi dokter itu. Ia tak ingin menunda. Ia tahu istrinya pasti sangat kesakitan di dalam sana.


"Han, ceritakan bagaimana kejadiannya." ujar Deka pelan sambil menghampiri Hany yang masih saja terisak karena takut dan kasihan pada sahabatnya itu. Melihat orang yang akan melahirkan untuk pertama kalinya membuatnya merinding dan mengutuki terus dirinya yang menyebabkan Vita mengalami hal buruk seperti ini.


"Aku yang salah. hiks" ujar Hany diantara isakannya.


"Aku yang melepaskan tanganku saat ia ingin berdiri dan akhirnya terjatuh. Huaaaa." Hany semakin menangis menjadi-jadi.


"Aku sudah cek restoran itu. Aku lihat ada pria diantara kalian berdua. Siapa itu Han?" tanya Deka lagi masih dengan suara datar. Hany langsung mendongak dan menatap Deka.


"Jadi bapak sudah lihat semuanya?" tanya Hany dengan perasaan berkecamuk.

__ADS_1


"Aku sudah memerintahkan orang untuk membawa pria itu kemari. Tapi sebelumnya bisa kamu jelaskan ada apa sebenarnya."


"Seperti yang bapak lihat di sana. Itulah yang terjadi. Dia mantan saya pak. Dan dia memaksa supaya saya kembali padanya dan selanjutnya bapak pasti sudah tahu apa yang terjadi." ujar Hany takut-takut, ia meremas ujung kemejanya sambil menunduk.


"Kita lihat apa hukuman yang cocok untuk pria pecundang seperti itu." ujar Deka sembari menyeringai. "Kamu ikhlaskan kalau saya merusak sedikit wajahnya." lanjut Deka berusaha menghibur gadis yang sudah lama menangis itu. Matanya sampai bengkak karena kebanyakan mengeluarkan air matanya. Hany dengan cepat mengangguk. Ia bersyukur ada yang mau berbaik hati membalaskan sakit hatinya pada Arman.


Didepan ruangan tindakan. Gala mondar-mandir dengan wajah tegang. Ia berharap bisa segera mendengar kabar baik dari dalam sana. Sementara itu seorang pria pecundang sedang digiring dengan paksa ke sebuah ruangan sepi di rumah sakit itu. Pria itu adalah Arman.


"Hei kenapa aku dibawa ke sini Bodoh!" teriaknya marah pada beberapa pria berbadan tegap yang menyeretnya tadi.


"Kami hanya melakukan perintah." jawab salah seorang bodyguard berkacamata hitam itu.


"Siapa yang memerintahmu. Ia tidak tahu siapa saya hah!" Arman berusaha memberontak tetapi ikatan ditangannya terlalu kuat hingga ia lelah sendiri.


"Aku yang memerintahkan mereka." jawab Deka dengan pandangan tajam.


"Deka Roland!" ujarnya pelan. Ia kenal pria dingin ini. Asisten setia pimpinan tertinggi TGR Global Company.


Bugh


"Ada apa ini?" tanyanya frustasi. Ia tiba-tiba diseret paksa oleh orang-orang yang tak ia kenal dan sekarang malah mendapat hadiah bonus dari seseorang yang ia kenal sebagai partner bisnisnya.


"Kamu belum tahu kesalahanmu brenggsek!" umpat Deka dengan tangan yang sudah mengepal ingin melanjutkan pukulan telaknya.


"Apa! aku tidak mengerti. Kita bisa bicara baik-baik." ujarnya berusaha menahan rasa sakit di rahangnya. Ia seketika keder melihat tangan Deka yang sudah terkepal, takut tangan itu akan mendarat lagi di tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan pada nyonya muda Raditya!"


"Nyonya muda? siapa yang kamu maksudkan!"


"Perempuan hamil yang bersama Hany tadi di restoran."


"Oh itu nyonya muda siapa?" tanya Arman semakin bertampang bodoh.


"Dia istri Gala Putra Raditya. Dan karena kesalahanmu ia sekarang dalam ruang tindakan operasi." jawab Deka dingin.


Seketika wajah Arman memucat. Ia tahu sebesar apa kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki Gala Putra Raditya. Perusahaannya saja masih seujung kuku dibanding dengan Perusahaan multi raksasa itu.

__ADS_1


"Jadi kamu sekarang sudah sadar?" tanya Deka setelah melihat Arman lama terdiam.


"Kamu pecundang yang tak tahu malu, memaksakan kehendak pada perempuan hingga menyakitinya seperti itu."


"Mulai sekarang kerja sama kita berakhir."


"Tapi pak Deka, aku akan berlutut minta maaf pada Nyonya muda. Itu bukan kesalahan saya. Itu adalah kesalahan Hany Pak Deka." suara angkuh Arman menguap sudah ke udara. Ia sekarang berlutut agar kerjasamanya dengan TGR tidak dibatalkan oleh Deka Roland. Cuma itu bisnisnya yang menguntungkan dan membawanya jadi pengusaha sukses seperti sekarang.


"Kamu sudah salah malah melemparkan kesalahan pada orang lain. Hebat!" ujar Deka mencibir.


"Kamu harus minta maaf pada Hany!"


"Cih untuk apa? dia yang bersalah padaku. Dia gadis murahan!"


Bugh


Sekali lagi Deka melayangkan tinjunya ke arah perut Arman. Ia paling anti pada laki-laki yang tidak menghargai perempuan.


"Sekali lagi kata-kata itu keluar dari mulut kotormu itu aku pastikan dirimu akan menjadi samsak di sini."


Drrrrt


Drrrtt


Bunyi handphone Deka memaksanya menghentikannya menghakimi Arman si pecundang.


"Bersyukurlah karena nyonya muda sudah melahirkan dengan selamat." ujar Deka dengan wajah cerah setelah menerima kabar baik dari Gala putra Raditya.


"Pikirkan bagaimana caramu meminta maaf." lanjut Deka kemudian berlalu dari hadapan Arman yang sudah babak belur. Ia segera melangkah cepat menuju ruang operasi.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya untuk karya receh ini ya dengan cara like, komen dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya, okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2