Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 82 Ada Duka Di Balik Bahagia


__ADS_3

Ibu Dewi membuka pintu malam itu dengan ekspresi tak terbaca. Ia menatap Vita Maharani yang berdiri di sana dengan mata sembab yang sedang didampingi oleh Pandu Gemilang sahabatnya. Pria muda itu memberi kode padanya agar tidak bertanya kenapa.


"Masuk, Vit," ujar Ibu Dewi dengan perasaan khawatir. Untunglah tadi sewaktu Vita pulang ia sempat membersihkan kamarnya hingga perempuan itu bisa langsung masuk dan beristirahat.


Pandu tidak langsung pulang. Ia masih duduk di ruang tamu itu bersama Ibu Dewi. Ia ingin memastikan Vita sudah dalam keadaan baik-baik saja baru ia meninggalkan tempat itu. Dan ternyata tebakannya betul Vita keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu mencari Pandu.


"Aku lapar, Ndu." ujar Vita dengan wajah polosnya. Ia terlihat sangat lucu dimata Pandu. Apalagi matanya yang masih merah membengkak itu. Akan nampak sekali ia menangis karena kelaparan.


"Mau makan di sini atau di luar?" tanya Pandu penuh perhatian.


"Hemm, enaknya di mana yah?" Vita kelihatan berpikir.


"Di luar aja deh, "


"Okey, baik tuan putri..." Vita tertawa melihat Pandu yang membungkuk kepadanya seperti seorang pelayan.


"Aku ambil dompet dulu ya,"


"Untuk apa?"


"Yah untuk jaga-jaga kali aja kamu gak kuat bayar, makanku kan banyak." Pandu tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan alasan Vita.


Ibu Dewi yang melihat keakraban mereka jadi takut sendiri. Ia takut kalau suami Vita akan berprasangka yang tidak-tidak tentang hubungan mereka.


"Ibu kami berangkat ya..."


"Mau nitip dibelikan apa ibuku sayang," tanya Vita sembari memeluk tubuh gendut Ibu Dewi.


"Terserah saja, yang penting kamu kembali dengan selamat."


"Woke!" jawab mereka kompak sembari tertawa bersama.


Di sebuah restoran 22.00


"Jefri melihat Vita keluar dari dalam Salon dan Spa itu sebelum kami pulang. Tapi ia tidak yakin gitu, katanya sih mirip," ujar Deka ketika Gala baru saja sampai. Rupanya ia lebih dulu berada di sana setelah menghubungi Gala beberapa menit yang lalu.


"Kita cek ke dalam salon." jawab Gala cepat. Ia tak mau berspekulasi lagi. Mereka bergegas ke dalam walaupun tempat itu sudah tertulis kata CLOSE pada pintu nya.

__ADS_1


"Maaf mba, bisa saya cek nama-nama pengunjung hari ini?" tanya Deka dengan sopan kepada seorang resepsionis yang sudah bersiap untuk pulang.


"Duh maaf pak, tapi kita sudah tutup." jawab sang resepsionis dengan sopan.


"Ini penting sekali mba, kami butuh informasi itu," ujar Deka lagi masih menampakkan keramahannya.


Gala sudah tidak sabar dengan basa-basi mereka berdua sehingga ia langsung memukul meja di hadapannya.


"Apa susahnya buka buku pengunjung itu, atau saya hancurkan tempat ini!" ujarnya dengan tak sabar. Gadis resepsionis yang tahu pria itu siapa langsung membuka buku album besar yang ia ambil dari dalam lemari di belakangnya.


"Eh, iya pak. Ini pengunjung kami hari ini." Ia menyodorkan buku itu kehadapan Deka yang langsung dibuka olehnya.


"Betul. Vita Maharani ada di sini tadi sore," ujar Deka dengan semangat. Setidaknya Nyonya muda itu masih dalam keadaan sehat sampai sore tadi.


"Berikan rekaman CCTV di tempat ini!" perintah Gala pada gadis itu lagi.


"Bapak bisa lihat di ruangan itu, silahkan."


"Vita sempat mengobrol dengan Nona Shasi," ujar Deka saat melihat rekaman dalam loby.


Pandu dengan sabar mengantar Vita ke tempat mereka sering makan pada saat SMA dulu yang tak jauh dari lokasi sekolahnya.


"Ternyata masih buka, ya," ujar Vita sumringah. Dulu mereka sering makan di tempat ini di siang hari. Pandu sebenarnya tahu betul warung ini buka 24 jam. Makanya dia mau saja ketika Vita minta makan di tempat ini.


"Pesan yang cepat ya, gak baik lho terlalu malam masih di luar begini," ujar Pandu setelah melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 24. malam.


"Kamu gak iklhas ya nganterin aku," jawab Vita cemberut.


"Tidak, cuma saya gak enak aja temenin istri orang di jam seperti ini." ujar Pandu lagi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andai ia adalah suaminya Vita tentu saja hatinya tidak akan resah seperti ini. Vita hanya mendengus kemudian mulai melahap makanannya. Yaitu cumi bakar sambel pedas.


"Kamu gak makan, dan jadi penonton saja?" ujar Vita disela-sela suapannya yang sangat lahap.


"Saya diet supaya tetap ganteng," jawab Pandu narsis.


"Ish, untuk apa ganteng kalau gak punya pacar, mubazir, hahahahah," Pandu ikut tertawa keki. Ia tentu ingin mempunyai pacar seperti Vita tapi apa boleh buat mereka tidak berjodoh.


Entah Pandu yang sudah sangat lelah atau Vita yang tidak mau pulang. Mereka berdebat sampai lama di warung itu.

__ADS_1


"Kalau kamu gak mau pulang, aku akan hubungi satpol PP agar menjemputmu di sini," ujar Pandu akhirnya ketika sudah tidak punya alasan lagi agar Vita bisa pulang untuk Istirahat.


Vita takut pulang dan berakhir sendiri di dalam kamar. Ia tak mau mengingat sakit hatinya pada Gala. Ia takut bermimpi buruk.


"Pulang yah, Handphoneku juga aku lupa di kosan kamu. Kali aja ada yang cari bujangan tinting ini kan bisa repot tuh," ujar Pandu pasrah dan akhirnya Vita pun mau pulang ke kosannya.


Lima belas menit berkendara karena jalan begitu sepi di tengah malam itu, akhirnya mereka berdua sampai di depan gerbang kosan Vita yang terlihat ramai oleh banyak mobil mewah yang terparkir. Vita turun setelah dibukakan pintu oleh Pandu.


Bugh


Bugh


Tubuh Pandu terpental ke bamper mobilnya. Sebuah pukulan telak secara tiba-tiba ke arah perut dan wajahnya berhasil membuatnya kewalahan hingga tersungkur.


"Astaga, Pandu..." teriak Vita saat melihat tubuh Pandu sudah jatuh tak berdaya. Ia menghampiri tubuh Pandu yang meringis dan berniat memapahnya.


"Lepaskan tanganmu!" suara Gala menggelegar di malam sepi itu. Vita sontak mendongak melihat siapa pelaku pemukulan itu.


"Mas...,"ujar Vita tercekat. Ia tak menyangka suaminya tega membuat Pandu babak belur seperti itu. Gala kembali merangsek maju tetapi ditahan oleh tubuh Vita hingga tak sadar tangannya yang sudah terkepal emosi malah menghempaskan tubuh istrinya hingga menabrak body mobil Pandu.


"Awwww," teriak Vita nyaring karena perutnya mengenai pintu mobil yang masih terbuka itu. Gala sejenak tersadar dari amukannya. Ia melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari pangkal pahanya.


"Vita!" raungnya keras dan langsung menggendong tubuh lemas itu ke dalam mobil dan meminta Deka membawa mereka ke rumah sakit terdekat Meninggalkan Pandu yang masih sangat shock atas apa yang menimpanya secara tiba-tiba itu. Ia meringis dan membuang ludahnya yang terasa asin karena bercampur dengan darah dari robekan bibirnya.


"Bangsaaat! aku tak akan mengampunimu kalau terjadi sesuatu kepada Vita," Ia pun berdiri sembari memegang perutnya yang terasa sakit.


Sementara itu, di dalam mobil.


"Ayo cepat!" teriak Gala panik melihat istrinya tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat. Deka sudah berusaha memakai kecepatan maksimal.


🍁🍁🍁🍁🍁


Eng ing eng apakah yang akan terjadi selanjutnya???


Tetap Ikuti terus Kisah Gadis Pemimpi ini...


Jangan lupa like, Komen, dan kirim hadiahnya agar othor semakin bersemangat !!!

__ADS_1


__ADS_2