Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 141 Season 2 Gadis Pemimpi


__ADS_3

Sebelumnya othor ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada para readers tersayang karena tetap setia dan masih dengan senang hati mengikuti alur kisah Gadis Pemimpi sampai sejauh ini.


Mimpi-mimpi sang tokoh utama yakni Vita Maharani dan Gala Putra Raditya sudah menjadi nyata dan telah bahagia, makanya atas permintaan readers setia, sekarang kita memasuki babak baru untuk putra dan putri mereka di season 2 ini. Tetap nikmati alurnya ya, semoga kisah ini semakin betah di hati para readers tersayang.


🍁


Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pukul 10.00 pagi.


"Hey, jangan mentang-mentang kamu cakep ya kamu bisa langsung nyerobot kayak gitu!" gerutu seorang gadis dengan penampilan sangat jauh dari kata cantik. Urakan, ya itulah kesan pertama setiap orang setiap kali melihatnya. Hanya karena mendengar suaranya saja ia dikenal sebagai seorang gadis. Rambut kriwil yang mungkin jarang kena shampoo itu ia kibaskan karena gerah menunggu. Topi yang ia gunakan ia pakai mengipas wajahnya. Matanya yang bulat indah melotot tajam dengan bibir mengerucut kesal.


Pria yang ia keluhkan itu tidak meladeninya. Ia sibuk mengambil troley yang sempat dipegang oleh gadis kriwil urakan itu untuk menyimpan barang-barangnya agar lebih mudah dibawa keluar dari terminal kedatangan khusus penumpang penerbangan internasional.


"Ih sebel." gerutunya lagi. Pandangannya ia arahkan ke seluruh penjuru ruangan mencari troley kosong agar barang bawaannya bisa diangkut tanpa harus mengangkatnya pakai tangannya sendiri.


"Sebel sebel sebel." ujarnya sambil menghentakkan kakinya di lantai yang sangat bersih itu.


"Gini nih kalau punya granny rempong. Semua oleh-oleh dari negara sana di suruh bawa semua ke sini. Jadinya kan repot. OMG." ia mengusap wajahnya kasar. Rasa kesal masih saja mendominasi hatinya. Apalagi mengingat pria yang tadi. Uh rasanya ia ingin mengulek orang itu jadi campuran sambal setan.


"Dasar pria arogan. Tidak punya hati. Huaaaa. Harusnya kan dia mengalah sama cewek. Oh ya ampun bikin keki aja. Semoga aku gak ketemu sama cowok seperti itu, Tuhan. Plis kabulkanlah doaku." ia terus mengoceh di depan barang bawaannya yang setinggi gunung.


"Mba, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pria tampan dan rapi berseragam petugas bandara karena melihatnya duduk di lantai menselonjorkan kakinya seperti pengemis yang baru kena razia satpol.


"Aku tidak bisa ngangkut barang-barang itu." tunjuknya pada kumpulan koper dan berbagai macam kardus oleh-oleh setinggi gunung di hadapannya.


"Oh itu. Nanti petugas kami akan membantu mba untuk membawanya keluar. Tapi jangan duduk seperti itu. Nanti dikirain kami tidak tegas menindak para tuna wisma yang mau numpang tidur di bandara."


"Huaaaaa kalian jahat." teriaknya semakin membuat petugas itu pusing. Ia lalu menelpon staff yang lain agar segera mengamankan gadis yang tak berbentuk gadis ini ke ruangan khusus. Sepertinya ia masih terkena jetleg. Masih kena mabuk perjalanan udara.


🍁


"Ma, kakak udah datang." teriak Sovia gembira. Vita Maharani langsung menghentikan kegiatannya di dapur dan segera menyusul Sovia menjemput putra pertamanya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Oxford University.


"Assalamualaikum ma." sapa Rama dan langsung memberikan pelukan hangat untuk melepaskan rasa rindu yang menggunung.


"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab Vita sembari menyusut cairan bening yang tiba-tiba saja menyeruak dari pelupuk matanya.


"Mama nangis?" ujar Rama sembari menatap wajah mamanya yang dirindukannya selama ini.

__ADS_1


"Mama bahagia kamu sudah pulang." jawab Vita dengan suara bergetar.


"Sekarang peluk aku kak." Sovia segera menarik tangan kakaknya Rama Putra Tama sesaat setelah pelukan mamanya dan pria muda itu terlepas.


"Ah, males meluk kamu." jawab Rama santai.


"Ih kenapa? aku kan juga kangen sama kakak." Sovia mulai merajuk.


"Kamu belum mandi, asem." jawab Rama yang langsung dibalas dengan wajah cemberut dari Sovia adiknya. pucuk kepalanya langsung diacak dan oleh Rama sampai rambutnya jadi berantakan.


"Ih, kakak.Sebel deh." Rama tidak menggubris gerutuan Sovia. Ia langsung menatap mamanya dan menanyakan keberadaan eyang putrinya.


"Ma aku mau nemui eyang dulu ya?"


"Iya sayang, eyang putri ada di kamarnya." Vita menatap punggung tegap putranya itu yang semakin menjauh. Ia menghela nafas panjang. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Usia Rama sekarang sudah 21 tahun dan telah menamatkan magisternya dengan nilai yang sangat bagus. Sekarang pulang ke rumah ini setelah cita-citanya belajar di luar negeri tercapai.


"Ma, kakak tambah ganteng ya. Mirip artis Hollywood gitu." ujar Sovia yang langsung membuyarkan lamunan mamanya.


"Baru nyadar kamu kalau kalian itu dari keturunan terbaik. Papa super ganteng dan mama super cantik."


"Ih, mama gaje. Anaknya yang dipuji malah lebih sombong dan narsis lagi."


"Mama udah minum obat kan?" tanya Sovia disela-sela tawanya.


"Ia udah, obat anti mainstream menolak tua hahahaha." mereka berdua saling berpelukan sambil tertawa. Vita Maharani bersama suaminya selalu menghadirkan diri sebagai teman maupun sahabat bagi putra putrinya. Agar mereka bisa saling berbagi rasa tanpa ada sekat antara anak dan orang tua.


🍁


Makan malam yang cukup ramai lagi setelah sekian lama. Semua keluarga berkumpul untuk merayakan kedatangan Rama Putra Tama, salah satu pewaris TGR Global Company.


"Gimana sayang udara negara kita?" tanya Vita sembari mengisi piring Rama dengan makanan kesukaannya.


"Panas ma." jawab Rama singkat.


"Jadi besok udah langsung masuk ke Perusahaan kan?" timpal Gala sang papa.


"Iyya pa, insyaallah."

__ADS_1


"Eh, jangan dulu dong pa, masak kakak baru datang langsung disuruh kerja sih. Kita kan mau jalan-jalan dulu healing-healing gitu lah." ujar Sovia menolak ide papanya. Ia sudah membayangkan akan mengajak kemana kakaknya yang baru menginjakkan kaki di tanah air ini.


"Iyya kak. Aku mau ngajakin Kakak ke sekolah aku. Mau pamer punya kakak ganteng." ujar Sarah tak mau kalah. Ia cekikikan sendiri membayangkan teman-teman kelasnya akan histeris melihat penampilan kakaknya yang ganteng maksimal.


"Hush makan dulu." timpal Vita sang mama karena mereka dari tadi ribut saja mengobrol dan tidak memulai makannya.


"Iyya ma," jawab Rama kemudian memulai makannya.


"Ayo makan, bunda ratu penguasa dunia dapur nanti marah." bisik Sovia ke telinga Sarah sambil cekikikan tidak jelas


"Sovia?" tegur papa Gala mengirimkan pesan agar diam.


"Iyya Pa. Aku makan." ujar Sovia akhirnya dan mulai menyendok nasi ke mulutnya. Semua kembali tenang dan menikmati makan malam itu. Hingga yang terdengar hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Setelah makan malam selesai. Rama dipanggil menghadap di ruang kerja papanya.


"Ram, selamat ya. Kamu sudah membanggakan nama baik keluarga." ujar Gala saat mereka sedang duduk santai di ruangan itu.


"Makasih Pa, ini berkat doa papa dan mama."


"Gimana besok? mau langsung kerja atau mau nyantai dulu?"


"Langsung kerja aja pa. Aku sudah banyak bersantai setelah ujian. Dan sekarang waktunya bekerja."


"Kamu tidak mau menerima ajakan adikmu?"


"Tidak Pa. itu tidak perlu. Lagian kan ada weekend."


"Oh iya baiklah kalau itu maumu. Istirahat lah."


Rama pun pamit dan menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia butuh tenaga dan otak yang fresh untuk memulai kerja pertamanya di Perusahaan keluarganya TGR global Company.


---Bersambung---


🍁


Dukung terus karya ini ya gaess, like, komentar, dan kirim hadiah bunga sekebon. Atau kopi segentong agar othor semakin semangat update nya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2