Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 217 Selamat Jalan Mawar Raditya


__ADS_3

Semua anggota keluarga Raditya yang ada di selasar ruang ICU berlari dan menghambur masuk ke ruangan dingin khusus untuk pasien yang sedang dalam kondisi gawat dan memerlukan perawatan ekstra.


Mereka baru saja diberi kabar oleh dokter kalau Nyonya Mawar Raditya telah menghembuskan nafasnya yang terakhir pukul sekitar pukul 12 siang itu.


Rama memeluk tubuh kaku sang eyang dengan tangis yang tak bisa ia tahan. Ia sungguh menyesal meninggalkan eyangnya beberapa menit yang lalu.


"Eyang maafin Rama. Harusnya Rama tidak keluar dari ruangan ini. Harusnya Rama tidak meninggalkan eyang. Maafin Rama eyang, huuu." ia terus menangis bagai seorang anak kecil yang sedang ditinggalkan oleh orang tuanya dengan segala kesedihan dan penyesalannya.


"Rama, yang sabar sayang. Kami juga merasa kehilangan. Insyaallah eyang memaafkan kesalahan kita semua." ujar Vita sembari menghapus air matanya.


"Mama telah pergi dengan tenang dan meninggalkan penyakitnya yang telah lama di deritanya." lanjutnya lagi.


"Ia sudah tenang sayang, do'a kan saja semoga Husnul khotimah."


"Tapi kan cuma beberapa menit aku keluar dari ruangan ini Ma, harusnya aku disini melihatnya pergi, huuu." Rama terus mengoceh dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Mas, bukan salah kamu. Memang sudah diatur seperti itu oleh Tuhan." ujar Rara menghibur. Ia memeluk tubuh sang suami yang selalu menyalahkan dirinya karena tidak berada di tempat saat sang eyang menghembuskan nafasnya yang terakhir.


"Mas, ayok. Kita urus segera kepulangan jasad mama ke rumah." ujar Vita menyentuh bahu sang suami yang masih memeluk tubuh sang mama. Gala menciumi keseluruhan wajah nyonya Mawar Raditya dengan penuh sayang.


Sungguh perpisahan dengan orang terkasih karena kehilangan nyawa adalah hal yang sangat menyedihkan. Dan Bagian tersulit dalam hidup adalah menyaksikan seseorang yang kita cintai meninggal di depan mata kita sendiri.


Gala pun berdiri dan melepaskan pelukannya pada sang mama kemudian meminta Andika sang menantu mengurus administrasi dan segala hal yang berhubungan dengan kepulangan mereka semua ke rumah kediaman Raditya tempat terakhir jenazah akan disemayamkan.


Beberapa menit berikutnya mereka semua pulang dari Rumah Sakit dengan tangis pilu dan sedih yang menyayat hati.


Bunyi sirine ambulan yang membawa jenazah nyonya Mawar Raditya semakin menjadi musik pengiring yang mengaduk-aduk perasaan mereka yang tengah ditinggalkan selama-lamanya oleh sosok terkasih.


Perempuan tangguh yang selama ini berjuang membesarkan putra-putranya sendiri di tengah kerasnya kehidupan. Selamat Jalan Mawar Raditya.


Bagaimana kau merasa bangga


Akan dunia yang sementara?


Bagaimanakah bila semua


Hilang dan pergi meninggalkan dirimu?

__ADS_1


Bagaimanakah bila saatnya


Waktu terhenti tak kau sadari?


Masihkah ada jalan bagimu


Untuk kembali mengulang ke masa lalu?


Dunia dipenuhi dengan hiasan


Semua dan segala yang ada


Akan kembali pada-Nya


Bila waktu telah memanggil


Teman sejati hanyalah amal


Bila waktu telah terhenti


Bila waktu telah memanggil


Teman sejati hanyalah amal


Bila waktu telah terhenti


Ho-oo-ooo-ooo


Bila waktu telah terhenti


* Lirik lagu ‘Bila Waktu T’lah Berakhir’ – Opick.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Salam Gala Putra Raditya yang didampingi oleh anak dan istrinya di depan semua para pelayat yang hadir.


"Terima kasih atas kedatangan para keluarga, sahabat, dan teman sekalian."


"Saya atas nama putra Almarhumah Mawar Raditya binti Roland mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika selama ini mama kami ada kesalahan kata atau perbuatan kepada para pelayat yang hadir."

__ADS_1


"Semoga dengan maaf yang anda berikan bisa meringankan perjalanan almarhumah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aamiin. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Gala menutup pidato singkatnya dengan hati yang seperti diremas karena sedih. Ia kembali duduk dibarisan terdepan menerima semua ucapan doa dan belasungkawa dari para kerabat.


Setelah rangkaian kewajiban mereka yang hidup kepada almarhumah diantaranya yaitu memandikan, mengkafani, dan mensholati selesai, Mereka pun bersiap mengantar jasad Nyonya Mawar untuk dikuburkan sebagai rangkaian terakhir kewajiban mereka.


Sore itu jenazah di semayamkan di tempat pemakaman keluarga di samping kuburan almarhum Raditya. Mereka semua melantunkan doa sebelum meninggalkan tempat itu.


Rama yang paling terakhir pulang bersama istrinya tanpa sadar matanya tertumbuk pada dua kuburan tak jauh dari kuburan eyang putri dan mbah Kakungnya.


"Tama Putra Raditya dan Gita Prameswari." ia membaca pelan tulisan yang ada di tembok nisan kembar itu. Entah kenapa hatinya tergerak untuk duduk di sana dan mengirimkan do'a.


"Siapa mas?" tanya Rara yang ikut mengaminkan do'a-do'a suaminya.


"Putra pertama eyang putri dan juga ini pasti istrinya." jawab Rama kemudian menyentuh nisan itu dengan perasaan yang tak bisa ia lukiskan. Ada haru dan rindu tiba - tiba menyeruak dalam hatinya.


"Ayok mas, udah mau magrib." ajak Rara kemudian berdiri dan bersiap untuk pulang.


"Mas." panggil Rara lagi karena Rama belum juga berdiri dari dua kuburan itu.


"Mas." sekali lagi Rara memanggil.


"Eh, iya. Ayok. Kita akan sering-sering ke sini Ra'." jawab Rama sambil menyambut pegangan tangan sang istri.


"Kami pulang dulu ya eyang, om dan Tante." pamit Rama pada semua anggota keluarga yang ada di sana seolah berpisah dengan orang yang masih hidup.


"Ah, ajal memang tidak melihat tua atau muda. Jika sudah tiba waktunya, maka tak ada yang mampu menghentikannya, barang sedetik pun. Ajal akan menjemput siapa saja, makhluk di atas dunia. Dan termasuk aku" ujar Rama dengan suara pelan. Rara menatap suaminya kemudian tersenyum lembut.


"Kita semua akan kesana mas, pasti." ujarnya kemudian mengikuti langkah suaminya.


Firman Allah SWT : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa’: 78)


Sore menjelang malam yang di warnai cahaya jingga dari ufuk barat itu, mereka berdua meninggalkan area pemakaman dengan hati yang masih sangat sedih.


"Kematian tidak lain adalah pulang kepada Tuhan, ikatan cinta tidak akan terputus untuk selama-lamanya." - Bunda Teresa


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2