Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 266 Tak Perlu Obat Kuat


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Adam segera melepaskan tautan bibirnya pada istrinya dengan berat hati. Dengan wajah kesal, ia turun dari ranjangnya dan melangkah cepat ke arah pintu kamarnya.


Tok


Tok


Tok


"Siapa sih, gak sabaran banget." ujar Adam kemudian membuka pintu itu.


"Mama?" Vita tersenyum canggung kemudian berujar,


"Maafkan mama kalau mengganggu istirahat kalian." ujar Vita sembari memperhatikan wajah Adam yang nampak kacau, ia mencurigai telah terjadi sesuatu pada anak dan menantunya itu.


Pakaian suami dari Sarah itu bahkan sudah terbuka sebagian begitupun kaki bajunya sudah diluar dari celana bahannya.


"Eh tidak kok Ma, kita juga baru mau kok," ujar Adam cengengesan.


"Mama boleh bicara sama Sarah ya sebentar aja," ujar Vita meminta izin.


"Tentu saja Ma," ujar Adam kemudian bergeser dari depan pintu itu agar sang mama mertua bisa masuk.


Vita melotot tak percaya pada apa yang ia lihat di depan matanya. Penampilan Sarah tidak lebih berantakan daripada Adam tadi.


"Perbaiki dulu pakaianmu sayang," ujar Vita sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain agar putrinya itu tidak malu.


"Sudah Ma," ujar Sarah dengan senyum malu-malu diwajahnya.


"Gini deh, Papa tadi nitip sesuatu sama Mama, katanya ia juga ingin memberi kalian kado pernikahan seperti Papa Deka kasih ke kamu." ujar Vita sembari memandang bergantian anak dan menantunya itu.


"Ih Papa suka gitu deh, gak pernah mau kalah sama orang lain," ujar Sarah dengan bibir yang dibuat mengerucut sebal. Ia jadi merasa tidak nyaman sama suaminya sendiri. Ini seperti ajang hebat-hebat an atau kuat-kuatan.

__ADS_1


"Mama sudah bilang sayang, tapi papamu ngotot mau ngasih kamu kado juga, ini sih mama juga gak tahu apa isinya." ujar Vita sembari menyerahkan sebuah kotak segi empat yang seukuran dengan kertas folio. Adam dan Sarah saling berpandangan.


"Udah ya, kalian bisa buka sekarang bisa juga nanti saja saat kalian ada waktu." Vita berdiri dari duduknya kemudian berbisik pada putrinya,


"Layani suamimu dengan baik," semburat merah langsung nampak diwajah cantik sang putri.


"Ih Mama, Sarah kan malu," ujar Sarah sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Vita hanya tersenyum kemudian meninggalkan sepasang pengantin baru itu yang jadi tampak canggung satu sama lainnya dan tak tahu akan melakukan apa.


Hasrat yang sempat memuncak tadi hilang entah kemana gara-gara gangguan dari sang mama mertua.


"Aku mau mandi dulu, baru ingat kalau aku belum mandi sore," ujar Adam kemudian mengambil pakaian ganti dari dalam lemari dan segera ke kamar mandi.


Sarah hanya memandang punggung sang suami sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga ingin mandi karena gerah dari perjalanan panjang tadi.


Sarah kembali menatap kado yang dibawa oleh mamanya tadi.


Apa aku buka sekarang aja?


Ah tidak, bentar aja ah


"Sar, ingat waktu kita masih kecil gak?" Sarah mendongak menatap sang suami yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk dipinggangnya yang kuat.


Ini pertama kalinya ia melihat Adam dengan tampilan menggoda seperti itu, meskipun mereka sudah menjalani pernikahan selama beberapa hari.


"Yang mana ya?" tanya Sarah sembari mengalihkan pandangan ke arah lain, ia tak kuat memandang tubuh six pack dari suaminya yang membuat air liurnya menetes.


"Dulu, kita sering main hujan-hujanan di halaman depan, ingat gak?" tanya Adam dengan tubuh semakin didekatkan ke tubuh istrinya yang sedang berusaha menahan diri untuk tidak terpengaruh.


Sarah menutup matanya dan menghirup bau sabun mandi yang menguar keluar dari tubuh Adam. Pria itu tampak sangat segar dengan menampakkan bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya yang basah.


Mengalir ke dada bidangnya dan turun ke perut six packnya. Sarah membuka matanya saat sadar kalau suaminya sedang menyentuhnya dengan lembut.


"Main hujan-hujanan lagi yuks," ajak Adam dan tanpa permisi langsung mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar mandi.


"Adammm! ya ampun aku takut jatuh," teriak Sarah histeris karena begitu kaget dan tak menyangka suaminya langsung menggendongnya ala bridal style ke bawah shower.

__ADS_1


"Awwww, pakaianku basah, Dam!" teriak Sarah lagi saat tanpa izin suaminya langsung menghidupkan shower. Adam hanya tersenyum melihat kepanikan istrinya yang ingin lari dari bawah shower itu.


"Jangan kemana-mana, biar aku yang buka pakaianmu, sayangku." ujar Adam dengan suara pelan. Ia juga masuk ke bawah pancuran shower itu yang airnya sudah diatur menjadi hangat.


"Kamu kan sudah mandi, tunggu aku di luar saja, aku akan buka pakaianku sendiri," ujar Sarah sembari membalikkan tubuhnya ke arah dinding, ia tak kuat memandang tubuh suaminya yang entah sejak kapan sudah tidak menggunakan handuknya tadi, mata sucinya ternodai oleh sesuatu dari tubuh Adam yang membuatnya seketika merinding ngeri.


"Sudah kamu diam saja, kita akan main hujan-hujanan di sini kayak waktu kita kecil dulu," Ujar Adam dengan suara berbeda. Tangannya dengan lincah membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh sang istri kemudian melemparkannya ke sembarang arah.


"Kamu cantik dan seksih Sarah," bisik Adam dikuping sang istri sembari memandang tubuh istrinya yang membuat inti dirinya semakin kuat dan tegak.


Ia mulai menyentuh bibir istrinya lembut dibawah guyuran air yang ia setel tidak terlalu deras, Tubuh mereka merapat tanpa pembatas sedikitpun. Tangan Adam meremass bokong sang istri lembut hingga Sarah melenguh pelan dibawah kendali bibir sang suami.


Dimulai dari bibir hingga ke leher jenjang sang istri, ia menyimpan banyak tanda kepemilikan disana. Hingga semakin turun ke bawah, Sarah mendorong kepala suaminya semakin kedalam dan mulai meracau tak kuat, tubuhnya lemas bagai jelly.


Adam mendorong tubuh sang istri ke dinding dingin itu agar kuat menerima perlakuannya dan tidak lemas serta melebur turun ke lantai karena cumbuannya pada seluruh tubuh yang sangat ia rindukan itu.


"Adammmm," desassah Sarah dengan suara bergetar. Adam mengerti kalau istrinya sudah sangat siap, ia lalu mengecup lembut bibir Sarah lembut dan membawanya ke ranjang. Dan berikutnya saat penyatuan itu terjadi, Sarah merasakan kesakitan yang amat hingga bahu Adam ia cakar dengan sangat keras.


"Aaaaaakh," keduanya berteriak dengan suara tertahan saat Adam benar-benar menembus dirinya dengan sangat kuat disertai rasa perih tak tertahankan.


"Maafkan aku Sar, maafkan aku sayang," ujar Adam berkali-kali saat melihat air mata sang istri keluar dari pelupuk matanya. Sarah hanya mengangguk dengan semburat merah diwajahnya. Ia tak sanggup menatap mata sang suami yang menunjukkan banyak cinta dan juga pemujaan pada dirinya.


"Terimakasih sayang," Adam mengecup lembut bibir istrinya kemudian membawa lagi Sarah ke kamar mandi untuk mandi bersama. Mereka baru ingat kalau belum sholat isya.


"Kita buka apa kado dari papa yuk," ujar Sarah sesaat setelah mereka berdua melaksanakan sholat isya. Adam setuju, ia mengambil kotak tipis sebesar ukuran kertas folio itu dan memberikannya pada istrinya.


"Astaga Papa, kado apa ini?" tanya Sarah sembari menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Adam tersenyum tetapi langsung berwajah cemberut.


"Papa Gala kok bisa sih ngasih ide kayak gini, emangnya aku ini tidak kuat apa?" ujar Adam sembari meraih kado dari papa mertuanya itu dari tangan Sarah. Ia langsung melemparnya ke dalam tempat sampah.


"Ih kok dibuang?" tanya Sarah penasaran. Ia ingin berdiri dan mengambil benda yang dibuang Adam itu di tempat sampah.


"Itu apa Dam?" Sarah masih sangat kepo dan ingin tahu benda apa itu.


"Itu obat kuat sayang, Aku ingin membuktikan padamu sekali lagi, kalau aku sangat kuat tidak seperti persangkaan papa Gala," ujar Adam yang kembali tersulut hasratnya.


Ia lalu mengangkat tubuh istrinya ke ranjang dan memulai melakukan ritual ibadah yang diberkahi itu. Sepanjang malam mereka melakukannya dengan sangat nikmat. Adam ingin membuktikan pada Sarah kalau ia tak perlu obat itu untuk membuat istrinya mengerang nikmat dibawah kungkungannya.

__ADS_1


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentarnya dong 😍😍😍😍😍


__ADS_2