
"Kamu karyawan baru ya?" tanya Sarah pada Adi Nugroho yang menjadi sopir mengantar mereka ke Rumah Sakit.
"Iya, baru satu pekan ini. Kalau kamu?" Adi Nugroho balas bertanya pada Sarah yang ia perhatikan dari tadi sangat khawatir akan Nyonya manager Rama Putra Tama.
"Oh, aku udah lama di sini. Perkenalkan aku Sarah sekretaris pribadi pak Presiden Direktur." ujar Sarah sembari tersenyum.
"Oh jadi kamu yang gantikan ayahku jadi sekretaris pak Presdir?" ujar Adi Nugroho dengan tatapan serius pada sosok Sarah dihadapannya. Sosok cantik berhijab yang punya daya tarik tersendiri.
Manis
"Oh, jadi kamu putra pak Syam yang pernah diceritakan olehnya waktu itu. Hebat ya bisa kuliah di Harvard."
Deg
Mendadak jantung Sarah berdebar saat menyebut kata Harvard, sosok Adam yang sangat dirindukannya tiba-tiba terbayang.
"Ah biasa saja, aku beruntung bisa lulus di sana. Otak aku sebenarnya pas-pasan." jawab Adi Nugroho sembari tersenyum.
"Maaf Adi, kamu bisa kembali ke Perusahaan sekarang, sedangkan Sarah bisa tinggal aja dulu di sini." ujar Rama yang baru keluar dari ruang persalinan sang istri.
"Oh iya Pak, kalau begitu saya kembali dulu ke Perusahaan." jawab Adi dengan membungkuk sopan. Ia sepertinya akan kembali naik bus karena mobil yang dipakai tadi adalah mobil pak Manager.
"Aku yang akan mengantarmu Adi, sekalian aku pulang ke rumah. Ada Sarah di sini yang akan menemani istriku."
"Oh iya pak.Terima kasih."
"Aku yang harus berterima kasih padamu." ujar Rama kemudian melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit itu dengan langkah ringan dan bahagia. Istrinya sudah melahirkan dengan lancar dan mudah dengan seorang putra yang sangat tampan dan juga sehat.
🍁
"Kak Rara selamat ya, udah punya sepasang Putra dan putri." ujar Sarah sembari mencium pipi kiri dan kanan kakak iparnya.
"Makasih lho Ra', aku seneng banget tadi itu kok aku lahiran cepat banget ya? kata mas Rama jangan-jangan karena habis makan tape dari Heru."
__ADS_1
"Heru? kak Heru ngirim tape ke sini ke kakak?" tanya Sarah dengan ekspresi tak percaya.
"Iyya kok kaget gitu sih," jawab Rara tersenyum.
"Heru tuh tahu betul kami berdua suka makan tape selama ada di sana. Dan katanya tape itu buatan mamanya Reisya, sengaja dikirim kesini karena gadis itu akan menikah."
"Wahhhh berita baik ini pastinya. Ih kak Reisya pasti sangat senang sekarang." ujar Sarah tersenyum bahagia.
"Jadi pengen nikah juga kak." lanjut Sarah dengan mata berkedip-kedip lucu.
"Hush malu Napa? disimpan dulu di dalam hati saja. hihihi." Rara tertawa melihat ekspresi adik iparnya yang langsung manyun.
"Perempuan kayak kita ya bisanya cuma nunggu dilamar SAR, masih tabu aja kalau kita yang nembak atau ngelamar duluan." lanjut Rara sembari menggenggam tangan gadis yang sangat cantik setelah berhijab itu.
"Kalau cowoknya gak nembak-nembak sampai sekarang gimana kak? kan bikin kita gimana gitu." ujar Sarah memberi alasan.
"Berasa digantung tahu gak kak." Sarah memanyunkan bibirnya semakin kedepan.
"Kalau udah lama sih mending tinggalkan aja, atau disimpan didalam sebuah peti antik trus digeser ke sudut hati yang paling dalam, biar ia awet di sana hihihihi." sekali lagi Rara tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Wah pada seneng-seneng nih semua. Assalamu'alaikum." ujar Vita dan Risma Yanti yang datang bersamaan untuk menjenguk ibu yang baru melahirkan itu.
"Waalaikumussalam Mama, Tante Ris. Mari silahkan masuk." ujar Sarah kemudian menyalami mama Vita dan juga Tante Risma Yanti mamanya Adam.
"Sehat Sar?" sapa Risma pada putri kedua dari Vita Maharani itu.
"Alhamdulillah sehat Tante, gimana kabarnya Bilqis, udah besar ya pastinya. Lama tak ketemu sih."
"Iya, Bilqis suka nanyain kamu, tapi tante bilang kamu lagi sibuk kerja," ujar Risma sambil memandang intens gadis yang sangat dicintai putranya itu.
"Adam gimana kabarnya tante?" tanya Sarah lagi setelah lama berpikir apa ia harus menanyakan kabar pria itu yang tak pernah berkabar sedikitpun padanya.
"Baik, sehat. Sebentar lagi katanya lulus."
__ADS_1
"Oh, Alhamdulillah kalau begitu." jawab Sarah dengan hati berdebar. Itu artinya Adam akan segera kembali ke negara ini.
Apa ia tidak pernah menanyakan kabarku tante?
bisiknya membatin tapi tak ia utarakan takut jawaban yang ia nanti tidak seperti kenyataannya.
"Duh selamat lho Ra' udah lahiran, katanya cepat banget ya?" Risma mengalihkan pembicaraan ketika ia melihat Sarah tidak lagi menemaninya ngobrol.
"Iyya Tante, Alhamdulillah, aku diberi kemudahan sama Allah."
"Iyya nih, Rama tadi nelpon itu mama gak percaya lho. Wong kamu itu baru saja pergi dari rumah dan tidak ada keluhan apa-apa, eh malah kebelet lahiran di Perusahaan."
"Iyya Ma, gak nyangka banget."
"Kalian gak ngapa-ngapain disana kan?" tanya Vita dengan pandangan curiga. Rara langsung menutup wajahnya malu.
"Ya ampun pantesan." jawab Vita dan Risma bersamaan dan hanya membuat Sarah cengengesan tidak mengerti.
"Apalagi plus tape yang membawa hawa panas itu, lengkaplah sudah." lanjut Vita sembari tertawa. Rama yang baru muncul dan sempat mendengar percakapan mereka ikut nimbrung.
"Iyya ma, tapi bagus juga sih, lancar lahirannya. Aku sudah kirim Bonus besar untuk Heru."
"Nah, itu mama setuju, sekarang mana sisa tapenya. Papamu juga udah lama pengen tape buatan kampung kita."
"Itu Ma, aku tadi ngantar Adi ke Perusahaan dan ambil tape bersejarah itu, hehehehe."
"Jangan biarkan Papa banyak makan tapenya Ma nanti malah gak kasih waktu untuk Mama istirahat, hahaha."
"Ih kamu ya!" Semua orang tertawa kembali dan sekali lagi Sarah hanya ikut tertawa tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang dewasa di hadapannya ini.
Risma Yanti melirik Sarah dan tersenyum penuh arti.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍