Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 249 Tekad Adi Nugroho


__ADS_3

Adi Nugroho menunjukkan prestasi kerja yang cukup mumpuni. Selain disiplin dan rajin ia juga sering memberikan ide-ide yang menarik untuk dikembangkan di dalam divisinya.


Rama Putra Tama sebagai managernya bahkan mengangkatnya sebagai asisten pribadi.


"Adi pelajari berkas ini ya, aku akan mengajakmu meeting bersama dengan Bapak presiden direktur 60 menit dari sekarang."


"Siap Pak!" jawab Adi bersemangat. Ia sampai mengangkat tangannya seperti memberi hormat. Ia suka dengan tantangan baru dalam setiap pekerjaannya. Rama hanya tersenyum dibuatnya.


"Okey, kamu bisa kembali ke ruanganmu sekarang." titah Rama sembari melanjutkan mempelajari beberapa dokumen penting yang akan ia paparkan di depan Presiden Direktur. Tentang satu proposal proyek bernilai milyaran rupiah yang akan membawa keuntungan besar bagi Perusahaan.


Meeting berjalan dengan baik dan lancar, Adi banyak mencatat hal-hal penting di dalam buku catatan kecilnya. Begitupun Sarah yang juga berada di dalam ruangan yang sama. Ia dengan lincah mencatat hal-hal penting sebagai hasil dari meeting tersebut.


"Deal!" ujar Gala sang Presiden Direktur sembari menjabat tangan Putranya, Rama Putra Tama.


Deka Roland ikut menjabat tangan Rama, ia begitu bangga dengan segala ide-ide cemerlang dari manager divisi itu.


"Selamat Ram, kamu hebat!" ujar Deka dengan wajah bangga.


"Terimakasih pak GM, ini tak lepas dari bantuan anda." balas Rama dengan senyum diwajahnya.


"Mohon maaf ibu dan bapak dewan direksi. Bapak Presiden Direktur yang terhormat. Sebagai rasa syukur saya atas proyek ini, saya mengundang semua yang hadir di sini untuk menghadiri makan malam di hotel milik TGR malam ini." jelas Rama dengan suara gembira.

__ADS_1


Gala tersenyum samar melihat keberhasilan putranya. Ada rasa bangga menyeliputi hatinya. Ia sudah tidak akan ragu lagi menyerahkan Perusahaan ini ditangan Rama cucu pertama Raditya jika waktunya telah tiba.


semua yang hadir menyambut dengan senang undangan makan malam itu.


"Bisa bawa anggota keluarga kan Pak Ram?" tanya salah satu manager yang paling suka membawa anak dan istrinya setiap ada kegiatan di Perusahaan.


"Bisa pak. Sangat disarankan bawa keluarga atau pasangan. Karena ini bagian dari acara keluarga TGR." jawab Rama dengan senyum di wajahnya.


🍁


Adi Nugroho memandang gadis berjilbab biru navy itu dengan pandangan kagum dan juga perasaan penuh pemujaan. Gadis cantik dan juga manis, sekretaris pribadi Gala Putra Raditya.


Adi tak melepaskan pandangannya sampai ia menabrak waiters yang sedang membawa pesanan untuk meja yang ia tempati bersama para asisten pribadi manager setiap divisi.


"Tidak apa-apa mas. Saya juga yang salah." jawab sang waiters menunduk.


"Di, kamu liatin siapa sih? sampai nabrak gitu. Bikin waitersnya stress gitu." tanya Rangga asisten manager Divisi Humas.


"Liatin yang bening-bening lah, yang bikin mata dan hati jadi tenang dan tentram." jawab Adi Nugroho dengan mata masih melirik ke arah meja Sarah yang sedang duduk di samping keluarga petinggi TGR.


"Mata kamu kayaknya selalu tertuju pada sekpri pak Presdir, Di. Atau aku yang salah ya?" tanya Rangga semakin penasaran. Ia mengikuti arah pandangan mata Adi.

__ADS_1


"Eh, tebakan kamu kok suka bener sih." jawab Adi sembari menyugar rambutnya keatas. Sejak pertama kali bertemu Sarah ia sudah mulai tertarik pada gadis itu.


Gadis cantik berhijab yang cukup tenang dan pandai menjaga dirinya. Selama bekerja di Perusahaan ini, ia belum pernah mendengar ada gosip miring tentang gadis itu dengan seorang pria. Hanya gosip murahan tentang jabatan yang diperolehnya karena mempunyai koneksi orang dalam.


"Buang jauh-jauh deh perasaanmu Di sama gadis itu." ujar Rangga saat yakin kalau gadis yang ditaksir oleh Adi Nugroho itu adalah Sarah.


"Emangnya kenapa? apa gak boleh? apa dia sudah punya kekasih atau tunangan?" tanya Adi Nugroho dengan pertanyaan beruntun dan juga disertai gas yang siap meledak.


"Yang aku tahu dia kesayangan pak Presdir dan keluarganya.Tak banyak pria yang bisa mendekatinya." jelas Rangga dengan wajah serius. Termasuk dirinya yang tak pernah bisa dekat dengan gadis itu. Setiap ia mendekat, selalu saja ada hal yang menghalanginya sehingga ia bisa menyimpulkan kalau Sarah adalah gadis yang tak tersentuh.


"Aku kan belum mencoba, pantang bagiku untuk mundur sebelum maju." ujar Adi sembari menyeruput minumannya. Matanya masih menatap Sarah dari balik gelas minumannya.


"Aku akan lihat, sejauh mana kamu bisa mendapatkannya Di." Rangga tersenyum kemudian menepuk bahu temannya itu.


"Kita lihat saja, jangan panggil aku Adi kalau aku tak bisa mendapatkan gadis itu." tekad Adi dengan seringaian di wajahnya.


Rangga hanya tersenyum miring. Karena ia tahu betul siapa Sarah sebenarnya. Gadis yang sangat dijaga dengan baik oleh papanya Gala Putra Raditya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2