
Bianglala itu terus berputar diiringi lagu yang lazimnya disukai oleh anak-anak. Beberapa pasangan yang ada dalam kotak besi itu begitu menikmati perjalanan mereka berputar di ketinggian yang cukup aman.
"Han, kamu juga ada di sini?" tanya Deka saat melihat perempuan muda yang berkostum ala-ala gadis Korea ini sudah duduk manis di hadapannya dengan senyum terkembang.
"Kenapa? emangnya gak boleh pak?" tanya Hany santai. Ia sedang berada di luar Perusahaan jadi boleh dong kurang sopan sedikit sama atasan.
"Maksud saya, " Deka mengggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa risih duduk berdua dengan perempuan lain di tempat yang cukup sempit seperti ini.
"Kenapa kamu tidak pilih tempat lain saja?" tanya Deka lagi.
"Maaf ya pak, semua tempat sudah penuh, jadi saya disaranin oleh petugasnya naik ke sini ketempat bapak. Kan bapak lagi sendiri. Mubasir tahu pak kalo cuma sendiri." jawab Hany panjang lebar.
"Lagian istri bapak memangnya kemana, kok bisa sih biarkan bapak sendiri, gak takut apa suaminya diembat sama Wewe gombel , hahahha." lanjut Hany tanpa jeda dan tarikan nafas. Deka langsung tersenyum dengan kata-kata Hany yang cukup menghiburnya saat ini.
"Bapak kelihatannya bahagia sekali sama Ibu Risma, selalu kompak gitu," ujar Hany setelah mereka lama terdiam dan hanya bunyi lagu pengiring dan besi yang saling bergesekan yang terdengar.
"Kelihatan sekali ya," jawab Deka dengan senyum dikulum.
"Iyyalah pak, soalnya dimana ada bapak disitu juga ada Ibu Risma begitupun sebaliknya." ucap Hany kemudian ia melanjutkan,
"Tapi baru kali ini saya lihat bapak sendiri. Makanya saya berniat mau godain bapak, hahaha," Hany tertawa sendiri merasa ucapannya yang tiba-tiba itu cukup lucu tetapi tidak bagi Deka. Ia langsung berpikir dimana Risma sekarang berada. Apa ia akan berpikir macam-macam kalau melihatnya duduk berdua dengan perempuan asing seperti ini.
"Jangan berani-berani membuktikan ucapanmu itu." ujar Deka tegas. Ia tak mau candaan Hany malah berakibat buruk pada hubungannya dengan Risma istrinya.
"Mohon maaf pak, saya cuma bercanda." ujar Hany sembari tersenyum malu. Ia tak menyangka candaannya justru membuat Deka jadi sangat marah seperti itu.
"Lain kali jangan bersikap seperti itu pada laki-laki." ujar Deka dengan suara yang mulai turun. Ia sepertinya ingin menjadi kakak yang baik yang sedang menasehati adik perempuannya.
"Laki-laki itu seperti kucing garong, tidak kamu beri dia umpan saja dia bisa menerkammu apalagi kalau kamu memang menawarinya dengan cuma-cuma." Hany semakin malu dibuatnya padahal ia betul-betul hanya bercanda. Ia tak pernah berniat mengganggu hubungan orang lain apatah lagi ini adalah teman dan bosnya sendiri. Itu jauh dari jalan pikirannya yang masih polos tapi suka kepo.
__ADS_1
Musikpun berhenti menandakan bianglala akan segera menurunkan penumpangnya.
"Makasih banyak pak atas nasehatnya." Hany membungkukkan badannya ala-ala gadis Korea yang sedang berbicara dengan lawan bicaranya.
"Sudah sana, sapa Rama agar ia senang. Kamu tidak lupa bawa
kado kan?" ujar Deka mencoba mencairkan suasana. Ia tak mau Hany merasa rendah diri setelah ia berikan teguran yang cukup menohok itu.
"Iyya pak, " jawab Hany sembari membungkuk lagi sampai berkali-kali. Yang ternyata sedang diperhatikan oleh seseorang yang baru juga keluar dari kotak besi bianglala. Orang itu tersenyum samar karena melihat ada gadis dengan dandanan ala gadis Korea di tengah pesta anak-anak seperti ini.
"Hem, lucu juga, kayaknya dia Klovers banget deh." ujarnya dalam hati sembari menarik ujung bibirnya tersenyum cerah.
"Om, lagi lihatin apa sih, Kok senyum-senyum gitu?" tanya Zahwa kepada Pandu omnya.
"Ah, tidak." jawab Pandu kemudian pura-pura mengarahkan pandangannya ke segala arah. Ia tak mau Zahwa memperhatikan ekspresinya yang aneh. Tetapi kakaknya yang punya ilmu telepati tingkat master chef, eh. Ia tahu betul apa yang sedang terjadi pada adiknya itu. Matanya cukup awas memperhatikan arah pandangan Pandu sedari tadi. Dan senyum adiknya itu cukup membuatnya penasaran.
"Baiklah Pandu, aku percaya kamu betul-betul sudah move on sekarang." ujar Ira dalam hati.
"Aku akan membuatmu mendapatkan Hany." tekad Ira Zerni dalam hati.
Karena tak ingin lama-lama lagi di tempat itu. Deka pun pamit pada Hany dan akan segera mencari keberadaan Risma Yanti yang harusnya ikut menikmati acara pesta ulangtahun Rama cucu pertama almarhum tuan Raditya.
"Ris, dimana kamu sayang?" tanya Deka setelah berusaha menghubungi nomor handphone istrinya itu tetapi selalu berada di luar jangkauan.
"Aku akan periksa CCTV saja siapa tahu ada petunjuk dimana kamu berada." Ia pun melangkah ke sebuah ruangan khusus di rumah itu untuk mengecek keberadaan istrinya yang tiba-tiba menghilang di tengah ramainya pesta ulangtahun itu.
"Astaga sayang, ternyata kamu malah pergi ke kamar." ujar Deka sembari menutup mulutnya lega. Ia memperhatikan kemana langkah Risma yang terakhir kalinya setelah memberikan pelayanan yang cukup baik bagi para tamu yang umumnya adalah para tetua dari keluarga besar Raditya.
"Tunggu aku di sana sayangku." ujar Deka dengan senyum samar.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Ris, aku masuk ya sayang?" ujar Deka di depan pintu kamar. Ia meminta izin kepada penghuni kamar itu terlebih dahulu. Mereka memang membuat kesepakatan seperti itu untuk saling menghargai privasi masing-masing. Meskipun mereka sebenarnya sudah saling berbagi dan saling memiliki, tetapi mereka masih sering membangun sekat-sekat tak kasat mata diantara mereka berdua.
"Aku masuk ya." ujar Deka lagi sembari mendorong pintu besar itu pelan. Ia mendapati Risma sedang tertelungkup di atas ranjang.
"Sayang," ujar Deka sembari melangkah menghampiri ranjang dimana istrinya berada. Ia kemudian mengelus punggung istrinya itu lembut.
"Ris, kamu baik-baik saja kan?" tanya Deka khawatir karena Risma tidak meresponnya. Ia pun mulai membalik tubuh istrinya itu agar ia bisa membuat istrinya nyaman sekaligus memandang wajah istrinya itu. Dan rupanya ia sedang tertidur dengan wajah sembab.
"Ris, kok bisa tidur sih, ayo bangun..."
"Ris, pestanya belum selesai lho, kok malah tidur sih." gerutu Deka sedikit kesal. Ia dan Risma dipercayakan oleh Gala Putra Raditya mengurusi pesta ini sampai selesai. Dan kalau partnernya saja tidur seperti ini bagaimana acara bisa sukses. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah bibir istrinya yang terbuka itu dan mulai mendapatkan sapuan dan gigitan kecil supaya si empunya segera terbangun. Tetapi kenyataannya tidak sama sekali ia malah melenguh pelan dan menikmati perlakuan menyenangkan darinya seperti itu.
"Apa ia malah bermimpi ya?" tanya Deka dalam hati dan melanjutkan lagi kegiatannya sambil tangan juga ikut bergerilya membuat suasana semakin panas.
Nantikan kelanjutan kegiatan Deka dan istrinya itu ya gaess...🤭
🍁🍁🍁🍁🍁
Mana nih dukungannya yang super kenceng...
Like, komentar, dan Vote...
Vote, Vote, vote, Hadiah yang banyak juga yak. Awas kalo tidak 😬
__ADS_1
Eh kenalkan nih karya barunya othor, disamperin yah, bisa bikin panas dingin lho...seru punya.