
Gala terbangun pagi itu dengan wajah yang cukup lelah dan kusut. Meskipun hari itu Senin adalah hari kesukaannya ia tetap tak bersemangat. Ada yang hilang dari sisi hatinya. Kalau selama ini Vita mendiamkannya ia masih bisa bertahan karena tetap bisa melihat wajah gadis itu tetapi sekarang ia bahkan tak tahu dimana pemilik hatinya itu.
Mendung si wajahnya terlihat jelas pada pandangan Nyonya Mawar sang mama.
"Mama ingat Kemarin kamu ingin membicarakan sesuatu, Gal" Nyonya Mawar berusaha memancing putranya yang sedari tadi diam dan tidak menikmati sarapannya.
"Tidak jadi ma" jawab Gala malas. Nyonya Mawar mendelik dan semakin mencurigai sesuatu.
"Apa ini tentang Vita, mamanya Rama?"
"Iya bunda" Kali ini Deka yang menjawab karena melihat Gala mematung saja tanpa ekspresi.
"Apa mereka baik-baik saja? Mama belum sempat bermain bersama Rama eh, kita sudah dikejutkan oleh keadaan Miska"
"Sudahlah ma, jangan bahas itu" Gala berdiri dan meninggalkan sarapan yang ia belum sentuh sedikitpun. Nyonya Mawar bertanya kepada Deka apa yang terjadi melalui gerakan bibirnya.
"Vita pergi sejak kemarin dan tidak memberi kabar bunda" Deka menjelaskan dengan suara pelan ia tak mau Gala marah padanya.
"Apa Rama juga dibawa serta? oh Mama pasti akan sangat merindukan anak itu"
Di tempat lain
Gala memasuki kamar Tama abangnya. Ia ingin mencari petunjuk siapa tahu Vita meninggalkan jejak di kamar ini yang sebelumnya ia tempati sebelum pergi entah kemana.
Netranya memindai keseluruhan kamar itu yang tidak begitu rapih seperti biasanya. Rupanya pelayan di rumah ini belum sempat membersihkan dan merapikannya. Dress Vita yang ia kenakan kemarin malam masih ada di sana terlipat rapi di sisi ranjang. Dengan cepat ia meraih dress itu dan menciuminya merasai wangi tubuh Vita yang masih menempel di sana. Ia seperti orang gila menciumi dan memeluk dress itu dengan penuh rasa.
"Kamu tega Vit" bisiknya pada dress itu dengan suara beratnya seakan Vita ada di depannya. Setelah puas merasai dan memenuhi dadanya dengan wangi Vita. Ia mengalihkan pandangannya pada selembar foto di tempat yang sama dimana dress itu ia ambil.
"Ini kan foto Abang dengan gadis yang katanya ia cintai itu"
"Kenapa bisa ada disini?"
__ADS_1
"Aku sering masuk ke kamar ini kalau rindu sama Abang tetapi baru kali ini menemukan foto ini keluar dari tempatnya" benak Gala terus bertanya-tanya. Ia kemudian menyimpan kembali foto itu untuk bersiap ke Perusahaan tetapi dress Vita tetap dibawanya ke kamarnya.
Di Seberang pulau nun jauh di sana
Vita Maharani bangun dengan badan yang cukup pegal. Kemungkinannya karena tidurnya semalam kurang nyenyak. Mimpi buruk selalu menghampirinya ketika matanya terpejam. Kolase kejadian buruk yang pernah ia alami dalam hidupnya seakan-akan datang menyapanya.
Ia memukul pelan kepalanya yang sedikit pusing. Entah kenapa Seringaian Robby Todler dan senyum jahatnya selalu berkelebat dalam ingatannya. Ia merinding berharap orang itu tidak mengetahui keberadaannya di sini.
"Ma..." Panggil Rama yang juga baru bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya berusaha mengenali tempat yang terasa asing buatnya. Ia terbangun di tempat yang baru lagi.
"Iyya sayangnya mama" Vita menghampirinya dan menciumi pipi gembul itu gemas.
"Bangun yuk sayang baru kita jalan-jalan" Vita menggendong tubuh putranya ke kamar mandi kemudian memandikannya. Hari ini ia berniat berjalan-jalan santai melihat perubahan kota yang lama ia tinggalkan.
Setelah mandi dan berpakaian rapi Rama dibawa oleh mamanya naik angkot untuk berkeliling. Tidak jelas tempat mana yang mereka berdua ingin kunjungi yang jelasnya Vita ingin mengenang masa-masa ia menjadi kernet angkotnya ayah.
Hampir dua jam mereka berkeliling tak jelas. Rama sudah merengek karena lapar. Ia ingin makan. Vita juga sudah sangat lapar sebenarnya.
Wangi masakan andalan di kota ini begitu menggoda Indra penciumannya sehingga menimbulkan suara nyanyian di ususnya. Ia dan Rama masuk ke sebuah warung Coto Makassar. Tempat yang biasa ia datangi bersama almarhum Ayahnya. Untunglah Rama anak yang tidak suka pilih-pilih makanan. Yang penting bisa mengenyangkan anak itu pasti langsung tancap seperti dirinya.
"Eh, Ibu lagi belanja apa nih" tegurnya berbasa-basi. Keduanya langsung memasang senyum manis.
"Lagi cari susu untuk anak" jawab Ibu Suriya sembari memasukkan susu formula ke dalam trolley belanjaan nya.
"Maaf, ini siapa ya?" Ibu Diyah sedari tadi menatapnya. Ia merasa mengenal gadis ini dari senyum dan tatapan matanya.
"Saya Vita Maharani Bu, mantan siswanya ibu" jawab a masih dengan senyum manisnya. Seketika mereka berdua menghentikan aktifitasnya memilih barang. Mereka memindai keseluruhan penampilan Vita Maharani yang sangat cantik itu. Tubuhnya yang tinggi dan kulitnya yang putih mulus. Belum lagi wajahnya yang tampak glowing dan cerah.
"Ini beneran Vita Maharani yang gendut itu?" Ibu Dyah memandanginya dengan mata berbinar takjub. Ia seperti bertemu seorang artis yang sangat cantik tetapi sangat ramah.
"Vita yang suka bermimpi di dalam kelas itu kan" Ibu Suriya menimpali sambil tertawa. Kemudian menutup mulutnya takut Vita tersinggung.
__ADS_1
"Iya Bu. Saya Vita yang itu" jawab Vita tanpa melepaskan senyumnya. Ia gembira luar biasa ternyata gurunya juga mengingatnya walaupun dengan kesan yang lucu atau sedikit memalukan. What ever.
"Ma...Ama mau coki" Rama menarik ujung roknya sembari menunjuk deretan coklat yang ada di rak-rak.
"Eh, sudah punya punya anak juga ya" ujar Ibu Dyah yang langsung mencubit gemas pipi Rama.
"Eh, iya Bu"
"Ma...Ama mau coki" Rama terus merajuk yang akhirnya percakapan antara guru dan mantan siswa itu terputus.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gala Putra Raditya belum menyerah menemukan Vita Maharani sang gadis impian. Ia semakin penasaran tentang latar belakang Vita yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa ada pesan atau petunjuk sedikitpun.
Beberapa hari ini ia masih betah mengawasi rumah kost-annya Vita. Ia yakin Ibu Kostnya itu punya informasi dimana keberadaan gadis itu sekarang. Ibu Dewi yang merasa risih sekaligus kasihan akhirnya meminta agar Gala menunggu di dalam saja. Soalnya ia merasa mubazir membiarkan pria tampan dan kaya itu selalu berdiri di luar sampai malam tanpa bisa dinikmati. eh🤭
"Menunggunya di dalam saja ya, takutnya banyak kecelakaan terjadi kalau nak Gala di luar terus" ujar Ibu Dewi mencoba berkelakar.
"Maksudnya?"Alis tebal Gala bertaut karena bingung.
"Iyya, mata gadis-gadis kalau lewat sini gak ada yang liat jalan. Mereka pada ngeliatin nak Gala" ujar Bu Dewi sembari menahan tawanya melihat Gala yang hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Izinkan saya Bu masuk ke kamarnya Vita sebentar saja. Ada yang ingin saya pastikan Bu" Gala meraih tangan ibu Dewi kemudian memohon dengan sangat. Netranya menatap Ibu Kost itu sendu penuh harap.
Ibu Dewi langsung mengiyakan. Entah kenapa Iapun takluk akan pesona anak muda ini. Akhirnya ia mengantarkan Gala ke kamar Vita. padahal selama ini ia membuat aturan untuk tidak memasukkan tamu laki-laki ke dalam kamar.
"Ibu tinggal ya, jangan lama-lama" ujar Ibu Dewi sembari meninggalkan Gala sendirian di kamar itu. Gala mengucapkan terima kasih dan langsung menyusuri kamar yang tidak luas itu. tangannya membuka tutup apa saja yang mungkin bisa jadi petunjuk. Dibukanya lemari pakaian Vita dan terlihat masih banyak pakaian yang terlipat rapi di sana beserta baju-baju Rama. Ia mencoba membuka sebuah laci yang kuncinya masih tertempel di situ. Tiba-tiba tangannya merasa gemetar menyaksikan apa isi laci itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tetap nikmati alurnya...
__ADS_1
Like, komen, favorit kalau belum, rate 🌟 5, hadiah, vote kalau masih ada
Happy reading 😍😍😍😍😍