
Deka kembali dari Rumah Sakit Sayang Ibu dan Anak setelah dini hari. Ia baru bisa pulang setelah urusan Gala dan istrinya ditangani oleh mbok Jum Kepala ART dari rumah kediaman Raditya.
Nyonya Mawar Raditya sendiri belum di beri kabar tentang kelahiran cucu keduanya pada dini hari itu takut mengganggu istirahatnya karena baru saja keluar dari rumah sakit sehabis dipasangi ring pada jantungnya.
Waktu sudah hampir menunjukkan sholat subuh ketika Deka tiba di depan kamar presidential suite yang mereka tempati untuk merayakan sahnya hubungan mereka berdua di mata agama dan hukum.
Perlahan Deka membuka pintu itu setelah menempelkan kunci elektronik di depan mesin pemindai. Ia melangkah dengan pelan dibawah cahaya remang-remang lampu tidur dari head board ranjang yang di tempati istrinya.
Ia tersenyum tipis melihat nyamannya Risma tidur bergelung selimut tebal. Rambutnya yang kecoklatan bertaburan di atas bantal dan sedikit menutupi wajahnya. Perlahan jemarinya ia gerakkan ke sana untuk merapikan anak-anak rambut itu agar ia bisa bebas memandang wajah Risma Yanti yang polos tanpa sapuan make up.
Rasa lelahnya tiba-tiba hilang begitu pun hatinya yang mengantarkan kehangatan. Ia sekarang jadi punya alasan untuk pulang. Karena ada seseorang yang akan menemaninya melewati malam-malam yang dingin.
"Makasih sayang," bisiknya sembari mencium kening istrinya lembut. Ia kemudian mengganti pakaiannya dan naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya cepat terlelap.
Risma menggeliat pelan dan merasakan sebuah tangan besar sedang memeluknya bagai bantal guling. Ia mengambil handphonenya yang terletak diatas nakas dekat kepalanya setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.
"Sudah subuh," gumamnya saat melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ia kemudian melirik sosok besar yang begitu dekat dengannya. Bahkan nafasnya saja terasa sangat dekat di tengkuknya.
Ia baru sadar kalau ia ternyata sudah menjadi istri dari seseorang. Dan kini lumrah saja kalau pria besar ini menyentuh bahkan memeluknya seperti ini. Ia hanya merasa risih karena belum terbiasa sedekat ini dengan pria yang tidak asing lagi baginya.
"Kak, " ujar Risma pelan sembari menggeliat agar bisa lepas dari pelukan suaminya ini. Ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat subuh. Tidak ada pergerakan hingga ia pelan-pelan melepaskan tangan besar yang sedang berada di atas perutnya itu.
"Kak, bangun..." Ia menggoyang-goyangkan bahu Deka agar segera bangun untuk sholat bersama, tetapi sepertinya Deka sangat nyenyak dan tak sedikitpun bergerak apalagi bangun.
"Aku sholat sendiri aja deh, " ujar Risma pada akhirnya setelah ia berusaha membangunkan suaminya untuk sholat berjamaah.
"Aaaah, gini amat yak jadi pengantin baru..." gumamnya pelan.
"Gak sesuai sama cerita-cerita di dunia Halu, Hem," ia bermonolog sendiri sembari melipat sajadah kecil yang memang selalu ia bawa kemana-mana.
"Ah sudahlah, sekarang aku mau ngapain ya?" tanyanya dalam hati setelah lama terdiam. Apa aku keluar aja dari kamar ini cari makan? tapi ini masih gelap..." Ia terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai sebuah tangan besar memeluknya dari belakang membuatnya berjingkat kaget.
__ADS_1
"Aaaaa,"
"Ngomong apa kamu, Hem?" ujar Deka dari balik punggungnya. Ia bisa merasakan begitu dekatnya ia dengan suaminya itu.
"Kakak, " jawabnya dengan suara sedikit bergetar karena gelisah dengan posisi mereka sekarang yang sangat rapat.
"Kakak," sekali lagi ia menyebut kata itu karena tak tahan dengan kecupan basah di kupingnya. Bulu kuduknya meremang dan mengantarkan sebuah aliran listrik berkekuatan ribuan volt.
"Ris, maaf ya aku lambat pulang semalam." bisik Deka disela kecupannya. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Risma Yanti kecuali suara-suara yang ia sendiri tidak mengenalinya.
"Kakak, sholat dulu gih." akhirnya ada juga kalimat normal yang keluar dari mulutnya setelah lama ia terbuai dengan sentuhan-sentuhan indah dari suaminya. Ia berusaha melepaskan diri mengingat waktu subuh sudah hampir lewat.
"Okey," jawab Deka akhirnya setelah ia berusaha mengendalikan hasratnya yang siap meledak. Ia melepaskan pelukannya kemudian ke kamar mandi untuk berwudhu. Risma tersenyum penuh arti. Ia ingin hubungan ini dimulai dengan hal-hal yang baik. Niat yang baik agar nanti hasilnya juga baik dan berkah.
Risma tak berhenti mengucap syukur karena suaminya mau menahan diri dan melaksanakan sholat terlebih dahulu. Ia kini memperhatikan suaminya khusuk dalam beribadah.
"Kak, gimana kabarnya Bu Vita?" tanyanya kepada Deka sesaat setelah Deka selesai dengan ibadahnya.
"Laki apa perempuan kak?"
"Perempuan,"
"Cantik pastinya, mamanya aja cantik,"
"Kamu juga cantik, sayang." ujar Deka menatap Risma penuh makna. Hati Risma langsung berdesir lembut dipanggil sayang oleh atasannya di Perusahaan ini.
"Pak GM pasti senang sekali," ujarnya lagi berusaha mengalihkan perhatian Deka yang terus menatapnya dengan pandangan tak biasa.
"Aku juga senang, bisa membuatmu ada di sini bersamaku," Deka mulai meraih jemarinya yang sedang saling meremas karena gugup.
Cup
__ADS_1
Deka mengecup lembut jemarinya yang langsung membuatnya semakin gugup. Ia yang selama ini menjaga dirinya dari bersentuhan dengan lawan jenis bagai kesetrum hanya dengan sentuhan ringan seperti itu.
Cup
Kali ini Deka berpindah ke arah wajah. Pipinya dikecup lembut hingga membuatnya menahan nafas. Oksigen di paru-parunya seakan berhenti di dada takut ia keluarkan karena semakin gugup.
"Santai sayang, " bisik Deka di kupingnya yang bagaikan gelitikan manja dan berhasil membuatnya semakin menegang dan menutup matanya.
"Ris, lihat aku," ujar Deka dengan suara berat dan agak parau. Ia mulai membuka matanya dan balas menatap netra suaminya yang semakin menggelap.
"Kita sama-sama baru sayang, kita akan belajar bersama, okey?" ujar Deka lembut, Risma mengangguk pelan dan mulai menikmati apa yang diberikan oleh suaminya.
Ia hanya jadi pemain pasif di sini, dan hanya mengikuti arahan suaminya. Begitupun Deka ia mengikuti instingnya saja hingga terjadilah yang seharusnya terjadi. Kegiatan menyenangkan sekaligus menyakitkan eh terbalik menyakitkan tetapi menyenangkan bagi setiap pasangan yang baru melakukannya untuk yang pertama kalinya.
"Makasih sayang," ujar Deka kemudian mencium kening istrinya yang dipenuhi peluh setelah saling berkejaran menuju nirwana.
"Hem," Ia hanya mengangguk lemah. Badannya terasa remuk karena lelah apalagi bagian intinya yang kini terasa perih.
"Istirahat ya, aku pesankan makanan." Sekali lagi ia mengangguk kemudian jatuh tertidur di bawah balutan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Deka segera bangun dan menghubungi layanan kamar agar segera mengantarkan menu sarapan yang komplit. Mereka harus mengisi energi baru setelah menguras banyak tenaga tadi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor jumpa lagi kite di kamar pengantinnya Deka dan Risma. UPS jangan ribut ada ujian !!!
Dukung terus karya ini dengan cara klik like ketik komentar, dan kirim hadiahnya yang banyak dong.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍 😍😍😍
Yuks mampir di karya teman othor nih, dijamin bagus.
__ADS_1