Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 150 Awal Pekan Generasi Raditya


__ADS_3

Sarah tiba di sekolah pas ketika gerbang akan ditutup.


"Tunggu pak!" teriaknya pada security yang akan menutup gerbang. Sambil berlari dengan kecepatan tinggi ia memegang erat tasnya dan mengangkat tinggi-tinggi rok abu-abunya agar bisa lebih bebas melangkah memburu waktu.


Fiuhh


Membuang nafas lelah ia bersandar di dinding gerbang. "Makasih pak." ujarnya dengan nafas ngos-ngosan. Seharusnya ia tak terlambat tetapi di tengah jalan tadi pak Min hampir saja menabrak seorang pengendara motor yang juga berpakaian putih abu-abu seperti dirinya.


Pengendara itu benar-benar tidak tahu cara berkendara dengan baik. Pria yang juga siswa SMA seperti dirinya itu menyalip mobil yang mereka kendarai pada saat Pak Min sedang berada pada panggilan telepon karena suatu hal penting hingga akhirnya ia terserempet dan mengakibatkan ia terluka cukup parah.


Sarah dan pak Min merasa bertanggung jawab jadi mereka mengantar pria yang bernama Ryan itu ke Rumah Sakit dengan menanggung semua perawatan pria itu memakai uang sakunya sendiri. Ia takut melaporkannya pada mama dan papanya.


"Untungnya non Sarah tidak terlambat. Karena Kepala Sekolah memberlakukan hukuman baru bagi yang terlambat hari ini." ujar Pak security itu dengan nada sopan. Ia tahu betul siapa gadis yang terlambat ini. Dia adalah putri dari Gala Putra Raditya ketua yayasan pada sekolah SMA Internasional Darma Bakti. Namun sekolah ini tidak memandang status dan latar belakang siswa-siswinya. Semuanya sama di mata peraturan sekolah, ketika melanggar tak ada pilih kasih.


"Mari pak, Saya ke kelas dulu." ucap Sarah setelah nafasnya sudah cukup normal untuk melanjutkan langkahnya ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera pada pagi itu.


"Tumben kamu terlambat." ujar Reisya teman sebangkunya ketika baru masuk setelah mengikuti upacaranya.


"Iyya nih lagi gak mood." jawab Sarah dengan wajah kuyu.


"Ini awal pekan lho, jangan sampai loyo gitu dong." lanjut Reisya lagi memberi semangat.


"Hem, " jawab Sarah singkat.


"Tuh Pak Heru udah masuk kelas." tunjuk Reisya dengan matanya. Seketika Sarah langsung bersemangat. Ia sangat mengidolakan guru Bahasa Inggris itu. Ia langsung memeriksa tampilannya di kaca kecil yang selalu ada di dalam tasnya.


"Oke fix!" ujarnya pelan.


"Good morning students!" sapa pak Heru dengan penampilan yang sangat fresh dan keren. Kemeja putih dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam serta sebuah dasi merah melilit rapi di lehernya.


"Good morning Sir!" Jawab semua murid kompak.


"How are you this morning Sarah?" tanya Pak Heru dengan suara baritonnya. Ia selalu menanyakan kabar siswa setiap mengecek kehadiran murid-muridnya.


"I'm fine sir!" jawab Sarah mantap.


"How about you Reisya?"


"Very well thanks, Sir."


"Good. Are you Okey Adam?" kali ini Pak Heru memanggil nama Adam yang sedang meringkuk di atas mejanya.

__ADS_1


"I am not okey, Sir." jawab Adam dengan suara pelan. Sepertinya ia benar-benar tidak sehat sekarang.


"Hey, what's wrong with you?" tanya Pak Heru heran. Pasalnya sebelum masuk kelas anak itu baik-baik saja.


"My heart Will go on Sir."


Grrrrrr


Seketika ruang kelas langsung ramai. Sarah langsung menatap Adam yang duduk tidak jauh darinya dengan tatapan tajam tetapi pria muda hanya mengedipkan matanya sebelah.


"Oh my God!" gumam Sarah kesal dan mulai meremas udara.


🍁


Andika hari ini kesal tak terkira. Dosen pembimbing skripsinya sedang tidak bisa ditemui padahal mereka berdua sudah membuat janji. Jadinya ia mengunjungi perpustakaan digital yang ada di kampusnya untuk menghilangkan rasa kesalnya. Ia termasuk mahasiswa teladan dan disiplin sehingga kegiatan yang sudah ia atur haruslah tepat dan akurat.


"Dika!" teriak Sovia saat melihat sepupunya itu memasuki perpustakaan. Dika sempat menoleh sebentar kemudian melanjutkan langkahnya mengisi daftar pengunjung lewat mesin pemindai dengan melambaikan kartu keanggotaannya.


"Dika!" panggil Sovia lagi. Kali ini gadis itu sudah berada disampingnya dengan nafas memburu.


"Sudah mau pulang? tanya pria itu pada Sovia yang ia lihat tadi sudah berada di pintu keluar tapi kemudiannya kembali masuk saat melihatnya ada di sana.


"Gak jadi." jawab Sovia sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat rambut rambut ekor kudanya ikut bergoyang-goyang.


"Kamu mengikutiku?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Jangan Ge er ya. Aku cuma mau mencari buku tentang ini." jawab Sovia kemudian langsung menarik asal sebuah buku yang ada di dekatnya.


"Oh ya sudah.' ujar Andika santai kemudian melanjutkan langkahnya mencari daftar katalog buku elektronik yang terdapat di dinding perpustakaan itu.


Sovia menghentakkan kakinya dengan kesal apalagi saat menatap buku yang ia ambil tanpa perencanaan sebelumnya.


"CARA BERCOCOK TANAM DI TANAH KERING DAN TANDUS." bacanya dengan suara pelan. Matanya mendelik kesal. Dengan menghentakkan kakinya ia menyimpan buku itu di atas meja kemudian keluar dari sana. Andika yang sempat merekam kejadian itu tanpa sadar tersenyum samar.


🍁


Rama Putra Tama melangkahkan kakinya pagi itu keruang kerjanya di divisi Riset dan Pengembangan dengan wajah datar dan dingin. Ia tak suka berbasa-basi dengan karyawan lainnya karena menurutnya hanya akan menghabiskan waktunya.

__ADS_1


Banyak yang menilai dirinya sombong dan dingin. Apalagi posisinya sekarang hanya sebagai karyawan biasa.


Gala Putra Raditya yang sekarang menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur TGR Global Company setelah Nyonya Mawar sering mengalami drop akan penyakit jantungnya lebih memilih untuk istirahat total di rumah. Sedangkan yang mengisi jabatan General Manager adalah Deka Roland sang sepupu.


"Ram, minta tolong kerjakan file ini ya?" ujar seorang karyawan senior sambil menyerahkan sebuah file ke depan Rama.


"Iyya Bu." jawab Rama singkat kemudian langsung mengerjakan file tersebut. Winda tersenyum penuh arti menatap wajah Rama yang cukup menyegarkan matanya itu tanpa berkedip. Ia yang mempunyai hobi memerintah setiap ada karyawan baru itu merasa sangat senang karena mendapat ajudan yang sangat tampan.


"Ini Bu." Rama menyerahkan kembali file itu kepada Winda dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Terlalu cepat untuk seorang karyawan baru.


"Sudah selesai?" tanya Winda dengan wajah melongo tidak percaya.


"Ya," jawab Rama singkat kemudian melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda karena gangguan Winda tadi.


"Wah hebat. Kamu mengetik pakai sepuluh jari ya?" tanya Winda lagi masih tidak percaya akan kemampuan karyawan baru ini.


"Tidak Bu. Normal aja." jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya.


"Makasih ya Ram." ujar Winda kemudian kembali ke kubikelnya dengan seringaian licik.


"Bisa dimanfaatkan nih bocah." ujarnya dalam hati. "Tampan banget lagi. Dimana sih HRD menemukan cowok cool dan cerdas kayak gitu, pengen gigit deh." lanjutnya dalam hati. Wajahnya tiba-tiba merona merah karena membayangkan yang tidak-tidak.


*Good morning : Selamat pagi


*I'm fine, Sir. : Saya Baik, Pak


*How about you Reisya? : Bagaimana denganmu Reisya?


*Very well thanks, Sir." Sangat baik, Pak.


*Good. Are you Okey Adam : Bagus. Apakah kamu baik-baik saja Adam?


*I am not Okey : Saya sedang tidak baik.


*My heart Will go on : Kekasihku akan pergi


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Mana nih dukungannya untuk karya ini, mohon like dan komentar ya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2