Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 176 Malu-malu Kucing


__ADS_3

Reno Sebastian memandang Andika dari jauh, putranya itu nampak sangat kacau akhir-akhir ini. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia selesaikan dengan baik. Ia jadi curiga putranya itu sedang ada masalah besar. Di kantor pun ia seperti itu, mudah emosi dan marah pada semua orang.


"Kalau kamu suntuk di rumah, coba ajak adikmu jalan."ujar Reno sambil melangkah ke tempat Andika sedang menonton televisi tetapi tidak pernah betah pada satu Chanel, di pindah terus sampai Andira yang sedang menonton di sampingnya jadi bingung. Antika Adik keduanya yang lebih aktif langsung merebut remot itu dari tangan kakaknya.


"Bikin pusing tahu gak kak." ujar Antika kesal. Ia melempar remot itu ketika channel pas di Trans Tv yang menayangkan drama Korea kesayangannya.


"Aku setuju sama Papa, kak Dika tuh tak pernah ngajak kita jalan. Traktir kek."ujar Andira membalas ucapan papanya tadi. Andika tidak menjawab ia hanya membaringkan tubuhnya di atas karpet dan memandang langit-langit ruangan itu.


"Kakak, denger gak tuh papa bilang apa, ajak kita keluar dong Ngemol gitu." timpal Antika dengan pandangan tak lepas dari layar televisi.


"Okey, kalian siap-siap." putus Andika kemudian bangun dari posisi berbaringnya dan meninggalkan papanya yang tersenyum samar.


"Anak itu perlu suasana baru" gumam Reno dalam hati.


Mall X


"Kak aku mau ini dong." ujar Antika sembari menunjuk beberapa gantungan kunci yang lucu-lucu di dalam etalase.


"Pilih apa saja yang kalian mau." ujar Andika masih dengan tampang malas.


"Kalau mau traktir orang wajah harus iklas dong kak, nanti dikiranya kita ini nodong." lanjut Andira sambil memilih-milih lagi barang-barang yang menarik perhatiannya.


"Heh kita berdua memang nodong kok xixixi." jawab Antika sambil cekikikan. Mereka sengaja membuat kakaknya itu tambah kesal.


"Ngomong macam-macam aku tinggal nih." ujar Andika kesal di kerjain sama adik-adiknya.


"Iya deh kakak tampan, kami diam." jawab mereka bersamaan. Andika hanya melengos kemudian berjalan ke arah kasir dan memberikan kartu debetnya.


"Untuk dua cewek itu ya mba." ujarnya kemudian keluar dari toko itu. Ia ingin mencari tempat lain untuk menghilangkan rasa kesal, rindu, dan rasa lainnya yang tidak bisa ia ungkapkan untuk Sovia. Beberapa hari ini ia tidak bisa bertemu dengan gadis itu dan membuatnya hampir gila. Tidak ada pekerjaan yang berjalan dengan baik. Sampai papanya sering menegurnya di kantor.


Dan ternyata sesampainya di luar toko langkahnya tiba-tiba terhenti. Sakit hatinya semakin bertambah melihat Sovia dan Arya sedang memasuki mini market dengan sangat bahagia. Mereka bercanda sepanjang langkah mereka. Dan sepertinya tidak memperdulikan keberadaannya di sana.

__ADS_1


Tangannya mengepal marah. Ia ingin menghampiri mereka berdua tetapi ia ingat kata-kata Rama kalau gadis itu sangat membencinya. Dan memintanya untuk tidak datang lagi ke rumah kediaman Raditya.


Akhirnya ia kembali ke dalam toko dengan wajah menggelap karena marah.


"Aku hitung sampai tiga kalau kalian belum selesai belanja, aku tinggal!" ujar Andika bagai suara petir menyambar kedua kuping adiknya itu.


"Iya kak, ini udah selesai kok." jawab Andira sembari membawa sekeranjang penuh belanjaannya begitu pun Antika, Ia malah membawa dua keranjang penuh dan membuat Andika melotot tak percaya.


"Hah, kalian mau buat aku bangkrut?" tanya Andika tidak percaya pada penglihatannya. Masak cuma ditinggal beberapa menit belanjaan mereka sudah setinggi menara Eiffel. Kedua gadis putri dari Reno Sebastian itu cekikikan di depan kasir.


"Rasain kak, biar kejengkelan mu teralihkan dari kak Sovia xixixi." ujar Antika merasa lucu.


"Ho oh, betul. lagian dulu dia sok jual mahal nah sekarang baru tahu rasanya kan kalau udah ditinggal." timpal Andira lagi.


"Heh, ngomong apa kalian!" seru Andika yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Gak kak, cuma gibahin cowok tampan di sana tuh." jawab Antika sembari menunjuk sembarang arah yang penting ada sosok cowok disana.


🍁


Setelah mengantar Antika dan Andira ke rumah papa mamanya. Andika lalu melajukan mobilnya ke rumah eyang Ninick. Ia ingin menginap di sana malam ini mumpung lagi weekend. Sabtu ini adalah hari yang sangat kelabu baginya yang tak punya pasangan maupun gebetan. Dalam hati ia berdoa semoga malam ini hujan turun deras agar bukan ia sendiri yang merasa galau tetapi yang punya pasangan pun sama dengan dirinya.


Dengan langkah ringan ia masuk ke rumah yang nampak sepi.


"Assalamualaikum!" ujarnya dengan suara keras. Biasanya di jam-jam seperti ini Ninick sang eyang sibuk di taman Belakang bersama suaminya. Mereka berdua suka berkebun sejak pensiun dari perusahaan dan menyerahkannya pada Reno dan dirinya.


Langkahnya menuju kamarnya terhenti karena sebuah percakapan seru di dapur. Ia perlahan menghampiri sumber suara.


"Eh, Dika sini deh cobain masakannya Sovi." panggil Ninick sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Deg

__ADS_1


Tubuhnya membeku. Ada rasa senang, kesal, dan rindu bersamaan di dalam hatinya. Ia belum bergerak dari sana dan hanya memperhatikan Sovia dengan cekatan memasukkan semua potongan sayuran ke dalam panci kemudian mengaduknya.


"Dika, kamu gak sopan ya. Masak cuma berdiri di situ aja, gak nyapa Sovia." ujar Ninick lagi.


"Halo, Sovi. Udah lama?" sapa Andika setelah lama terdiam mencari kata-kata yang pas untuk menyapa gadis pujaannya itu.


"Hem, sudah." jawab Sovia singkat. Ia berusaha mengabaikan kehadiran Andika di sana. Ia terus sibuk membuat masakan lainnya sampai semuanya siap.


"Eyang, mari kita makan." ujar Sovia saat semua menu sudah tertata cantik di atas meja.


"Andhika, panggil Mbah Kung kemari sayang. Kita cicipi masakan calon cucu mantu."


"Uhukkk." tanpa sadar Sovia dan Andika tersedak ludah mereka sendiri.


"Duh kok kompak sih tersedaknya." ujar Ninick santai sambil tersenyum senang. Ia segera mengangsurkan segelas air putih ke arah Sovia.


"Makasih eyang." jawab Sovia kemudian meminum habis air itu. Andika juga segera mengambil air dan meminumnya.


"Eh kompak lagi." goda Ninick lagi yang membuat kedua orang itu saling berpandangan. Sedetik dua detik sampai 1 menit.


"Ehm." Ninick pura-pura berdehem agar pandangan mereka berdua segera terputus. Andika dan Sovia pun kembali salah tingkah. Debaran jantung keduanya sepertinya terdengar sampai ke kuping Ninick sang eyang.


"Makanan sebanyak ini sepertinya tak akan habis kalau kalian cuma saling tatap-tatapan begitu." ujar Ninick Kemudian beranjak ke kamarnya untuk memanggil suaminya makan bersama.


Andika dan Sovia hanya diam. Tak ada diantara mereka yang ingin memulai pembicaraan. Andika tersenyum dalam hati merasa bangga punya eyang yang sangat mengerti dirinya.


----Bersambung---


Mana nih dukungannya untuk yang lagi malu-malu kucing hehehe


Like dan komentar ya gaess...

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2