Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 123 Masa Lalu Hany


__ADS_3

Hany betul-betul pintar berakting sebagai pacar bohongan Pandu Gemilang. Ia selalu menebar senyum kepada semua teman-teman pria itu seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat berbahagia. Tangannya pun tak pernah lepas dari genggaman Pandu meskipun sebenarnya ia ingin sekali lepas karena risih dipegang oleh seseorang yang belum begitu ia kenal.


"Hai, Han?" sapa seseorang dari arah jam 9. Ia kaget bukan main ketika netranya bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah sangat dekat dengannya tetapi menyakitinya dengan sangat kejam.


"Lama ya kita tidak berjumpa, dan sekarang kamu tambah cantik." ujar pria itu dengan senyum yang masih sama. Senyum teduh tetapi menyimpan banyak kelicikan.


"Iyya, sudah lama sekali." jawab Hany yang tiba-tiba merasa gugup.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya pria yang bernama Arman itu sambil melangkah mendekati Hany.


"Ini acara reuni mahasiswa tehnik bangunan, dan kamu kan bukan bagian dari mereka." Arman mulai ingin tahu apa sebabnya gadis yang pernah dipacarinya ini berada di lingkungan teman-temannya.


"Oh itu, aku menemani seorang teman." jawab Hany cepat. Ia ingin sekali cepat kabur dari tempat itu agar tidak bertemu lagi dengan pria brengsek ini.


"Teman atau teman?," tanya Arman lagi dengan pandangan menyelidik. "Semua anak tehnik datang kemari membawa pasangan atau kekasihnya jadi aku yakin kamu kesini bukan hanya menemani teman." Arman semakin mendesak Hany dengan pertanyaan dan juga jarak. Ia semakin mengikis jarak diantara mereka. Hany semakin panik tapi tak tahu ia bisa kemana sedang posisinya sekarang sangat mengkhawatirkan.


"Ehem, kalian sudah saling kenal ya?" tanya Pandu yang tiba-tiba ada diantara mereka. Hany langsung menarik nafas lega. Ia selamat dari predator brengsek ini. "Tentu saja, iyyakan Han?" Arman tersenyum menyeringai ke arah Hany. gadis itu hanya mengangguk pelan.


"Kenal dimana nih, supaya aku lebih tahu banyak tentang kekasihku ini." ujar Pandu yang kemudian menarik tangan Hany agar lebih dekat dengannya. Ia tahu betul siapa Arman. Buaya buntung cap kakap.


"Oh, kekasih toh padahal tadi hanya bilang dia menemani seorang teman." ujar Arman dengan pandangan tak lepas dari Hany hingga Pandu merasa jengah, ia tak suka gadis yang ia sukai dipandang seperti itu oleh pria lain.


"Kami baru jadian, jadi mungkin ia belum terlalu nyaman dengan kata itu, iyyakan sayang?" jawab Pandu sambil menarik pinggang ramping gadis itu dan mencium pipinya lembut. Ia sengaja ingin menandai miliknya di depan Arman agar pria itu tidak macam-macam. Hany yang diperlakukan seperti itu langsung menegang. Ia belum pernah di cium oleh lawan jenis meskipun cuma dipipi, ingin rasanya ia menyentuh pipinya yang semakin memanas karena malu.


Arman mengepalkan tangannya marah. Ia yang selama ini suka sama Hany sama sekali tak pernah diizinkan untuk menyentuhnya hingga ia berselingkuh dengan sahabat gadis itu, dan sekarang ia bahkan berani dicium di depan orang lain dengan Pandu. Laki-laki yang tak sebanding dengannya.

__ADS_1


"Oh selamat ya." akhirnya cuma kata itu yang bisa ia ucapkan. " Hany itu gadis yang suci lho Pandu. Ia sangat menjaga dirinya dari sentuhan orang lain. Jadi kalau sekarang ia mau disentuh olehmu. Berhati-hatilah ia pasti punya niat lain. Mungkin ia sekarang sudah jadi wanita bayaran." lanjutnya dengan pandangan menghina.


"Brengsek kau Arman! jaga mulutmu ya." Pandu langsung melompat ke arah Arman. Ia mencengkram kelopak jas pria itu marah. Kupingnya sakit mendengar penghinaan pria itu kepada gadis yang ia akui sebagai kekasihnya itu.


"Kenapa kamu marah, asal kamu tahu ya, saya adalah mantan kekasihnya. Saya cinta pertamanya yang tak mungkin bisa ia lupakan." Arman menyeringai. Pandu rasanya ingin menonjok pria di hadapannya ini dengan tangannya sendiri yang sedari tadi sudah gatal tetapi ia mencoba menahan karena tidak mau membuat keributan. Pandu melepaskan cengkraman tangannya perlahan. Ia menatap Hany yang sedang menunduk.


"Yang sopanlah sama perempuan." geram Pandu, ia berusaha menurunkan suaranya.


"Jangan membelanya kalau kamu belum tahu latar belakangnya." Arman menepuk jas bagian depannya akibat cengkraman Pandu tadi. " Hany sayang, kita tidak pernah putus ya, jadi kuanggap kamu masih milikku." ujar Arman santai dan langsung mendapat tinju di perutnya dari Pandu. Kali ini pria muda sudah tidak bisa lagi menahan diri, hatinya mendidih dengan ucapan Arman.


"Hei, kau memukul ku brengsek," teriak Arman tak terima. Ia ingin membalas tetapi seorang gadis tiba-tiba datang memeluknya dengan posesif.


"Sayang, dari tadi aku tungguin. Ngapain sih di sini?" rajuk gadis itu manja.


"Hey, Han. Kamu ada disini juga?" lanjut gadis itu saat melihat Hany ada di tempat yang sama dengan mereka berdua. Hany hanya tersenyum tipis pada gadis yang ternyata adalah sahabatnya sewaktu masih jadi mahasiswa dulu. Sahabat yang merebut Arman darinya.


"Sebentar lagi ia akan menikah denganku." jawab Pandu, ia mendekati Hany yang masih berwajah sedih itu karena telah mendapat hinaan dari Arman si buaya buntung.


"Wah selamat ya, akhirnya kamu laku juga, hahahhaha." ternyata pasangan itu mempunyai kesamaan. Sama-sama bermulut pedas.


"Kita belum selesai Han!" ujar Arman yang sedari tadi menyimak sambil memegang perutnya yang kena tinju Pandu.


"Hey, selesai apa sayang?" tanya gadis bernama Natasya itu. Matanya mendelik ke arah Hany. Ia mencium aroma tidak menyenangkan di sini.


"Ayok kita pulang!" ujar Arman sembari menarik tangan Natasya kasar. Tetapi kemudian ia berbalik sebelum langkahnya belum terlalu jauh.

__ADS_1


"Aku akan buat perhitungan dengan kalian berdua!" teriaknya keras sampai semua tamu yang merupakan teman-teman almamaternya menaruh perhatian besar kepada mereka berempat. Pandangan mata mereka seolah meminta jawaban atas apa yang telah terjadi hingga Arman selaku penyumbang dana terbesar pada reuni itu pulang dengan marah dan meninggalkan acara yang belum selesai.


"Kita pulang." ujar Pandu sembari menautkan jari-jarinya ke jari-jari lentik Hany. Ia tak menyangka akan mengalami kejadian tak menyenangkan seperti ini yang bahkan membuat Hany pulang dengan wajah masih ditekuk sedih.


"Maafkan aku ya Han, seharusnya aku tidak memaksamu untuk datang ke acaraku." Pandu menatap Hany sendu.


"Gak papa. Aku kan dibayar ya kan, jadi gak sia-sia lah aku datang." jawab Hany berusaha tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri.


"Astaga Han," Pandu menghela nafasnya dalam. Ia tak menyangka kata-katanya tadi yang diniatkan bercanda malah akan berakibat seperti ini.


"Kamu dengar kan, aku wanita bayaran. Jadi santai aja." Hany membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Ia berharap air matanya tidak menetes sekarang.


"Han, lihat aku." pinta Pandu yang mulai menghentikan laju mobilnya.


"Tidak!" jawab Hany singkat, padat, dan jelas. Ia tak mau Pandu melihat dirinya yang sangat menyedihkan.


"Aku mau pulang sekarang! atau aku pulang naik Taksi." suaranya dibuat sesantai mungkin menahan gejolak di dadanya.


"Okey, baiklah." Pandu mengalah. Ia kembali menghidupkan mesin mobil dan melajukannya cepat. Sepanjang perjalanan pulang tak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Hanya suara musik melakolis yang mengisi keheningan di dalam mobil.Sampai mereka tiba di Perusahaan TGR, Hany masih saja diam.


"Ingat! aku tunggu bayaranku hari ini, terima kasih." ujar Hany sambil membanting pintu mobil. Pandu meraup wajahnya kasar.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Dukung terus karya receh ini ya gaess, Like, komen, dan kirim hadiahnya yang banyak. Yang masih punya jatah Vote...kirim ke sini dong...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2