
Alif Reksadana berubah pucat ketika bertemu lagi dengan Rama sore itu di perusahaannya sendiri. Pria muda yang telah berhasil merebut Az-Zahra Aisyah itu nampak mengepalkan tangannya.
"Ada apa lagi kamu ke sini, Ram?" tanya Alif tanpa menyapa terlebih dahulu. Ia merasa tak ada lagi urusan dengan Rama sang penerus TGR group itu.
"Tidak usah khawatir seperti itu, tuan Alif. Aku hanya ingin tahu data pribadi karyawan di sini yang bernama Ahyan atau Iyan." jawab Rama tanpa melepaskan pandangannya ke wajah Alif yang tampak gelisah.
"Untuk apa? membongkar data pribadi seseorang tanpa sepengetahuannya adalah sebuah pelanggaran, tuan muda Raditya. Dan aku tetap tak akan membiarkan orang lain memasuki perusahaan ini, tidak anda maupun orang lain, paham?" Rama hanya tersenyum kemudian berujar,
"Entah kenapa aku merasa anda menutupi sesuatu yang sangat besar di sini dan ya aku jadi mencurigai anda dibalik kekacauan keluargaku, tuan muda Reksadana."
"Silahkan anda curiga. Dan segera keluar dari daerah kekuasaanku, Atau aku akan melaporkan anda ke pihak berwajib karena selalu datang kemari dan menimbulkan ketidak nyamanan bagi karyawan kami." ujar Alif dengan rahang mengetat marah.
"Baiklah aku pergi, tetapi tetaplah berhati-hati. Karena sedikit saja aku mendapatkan bukti keterlibatanmu dengan semua ini. Aku pastikan kamu akan membusuk di dalam penjara." ujar Rama kemudian meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah.
Ia segera menghubungi Ilhamsyah sang papa mertua agar mengirimkan data apa saja yang berhubungan dengan Ahyan atau Iyan, sementara ia melajukan mobilnya ke arah rumah mertuanya. Ia ingin menemui Dyah sang mama mertua, siapa tahu perempuan paruh baya itu tahu lebih banyak tentang Iyan dan latar belakangnya.
🍁
Sarah membuka matanya perlahan. Ia berkedip sebentar kemudian membuka matanya lebar-lebar saat sadar ia ada dimana. Sebuah ruangan yang sangat tak terawat ada dihadapannya. Kotor dan juga sedikit bau. Meja dan kursi yang penuh debu serta perabot yang lain yang sama tidak terurusnya.
Tak ada seorangpun di sana, hanya ia sendiri dengan sebuah lakban hitam tebal menutupi mulutnya dan juga tangan yang sudah terikat ke belakang hingga ia merasakan pegal yang teramat sangat pada tangan dan bahunya.
"Dimana aku?" pikirnya dalam hati. Ia berusaha melepaskan tali pengikat di tangannya tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia memutuskan untuk bersandar di dinding karena lelah memberontak. Untunglah kakinya masih bebas jadi ia bisa mengatur posisi dengan baik.
"Siapa sebenarnya mereka?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Ia memandang ke sekeliling ruangan berusaha mencari jalan keluar. Ia menatap Sling bag yang masih tersampir dibahunya. Sebuah ide muncul untuk mencari handphone yang berada di dalam tas kecilnya itu. Ia segera bergerak-gerak berusaha menjangkau tas dimana handphonenya itu berada. Ia harus menyalakan GPSnya agar keluarganya tahu dimana ia berada. Sekali lagi ia berusaha membuka tasnya dan mencari handphonenya itu.
"Huuuft," Sarah menarik nafas lega karena sudah berhasil mengaktifkan GPSnya bersamaan dengan seseorang membuka pintu dan melangkah masuk. Sarah buru-buru mendorong handphone itu ke bawah kursi dan berpura-pura tertidur. Ia takut membuka matanya yang mungkin saja akan melihat secara langsung siapa penculiknya.
"Hem, belum sadar juga kamu cantik." ujar orang itu yang ternyata adalah seorang pria dari suaranya. Sarah bertahan tak membuka matanya. Tetapi dari suaranya ia tahu bahwa pria itu adalah Iyan. Orang yang selama ini menguntit dan mengikutinya terus selama beberapa hari ini.
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
"Bagaimanapun Yan, udah bangun dia?" tanya seorang perempuan yang sepertinya baru masuk di ruangan itu. Dari bunyi langkah kakinya Sarah yakin perempuan itu sedang menggunakan heels.
"Sepertinya sih belum Ma." jawab Iyan sembari menatap tubuh Sarah yang sedang bersandar di dinding dengan keadaan loyo.
"Siram saja! enak saja mau numpang tidur di sini." ujar perempuan itu lagi dengan suaranya yang nyaring disertai aura yang sangat kejam.
Byur
Sarah merasakan tubuhnya basah dan juga mulutnya kemasukan air yang sangat banyak, ia terbatuk Kemudian menegakkan tubuhnya.
"Uhukkk."
"Bagus! akhirnya kamu bangun juga kucing kecil!" ujar perempuan itu dengan pandangan mata tajam ke arah Sarah yang sedang berusaha menarik nafas karena masih kaget dengan apa yang terjadi.
"Siapa anda!" teriak Sarah marah.
"Heh, kucing kecil mau menunjukkan taring ya?" tanya perempuan itu lantas melangkah mendekati Sarah dan menjambak rambut gadis itu.
"Oooh, sakit ya, kasihan." ujar perempuan itu kemudian mengelus rambut Sarah yang sudah ia Jambak tadi.
"Yan, kita akan apakan gadis ini sayang?" tanya perempuan itu lagi sembari menatap Iyan yang sedang menatap Sarah dengan pandangan tak terbaca.
"Terserah mama, aku ikut saja yang penting mama senang.. hahaha." jawab Iyan kemudian tertawa terbahak-bahak.
🍁
"Ma, siapa sebenarnya Iyan itu?" tanya Rama pada mama mertuanya yang baru saja duduk di hadapannya setelah meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Mama sudah bilang kan kalau Iyan itu teman sekolahnya Rara sewaktu SMA. Ia anak baik kok. Dan juga mama belum pernah dengar ia membuat sebuah masalah dengan siapapun selama berteman dengan Rara. Anak itu dulu sering kemari sebelum Rara ikut grannynya ke LN."
"Ada apa sih Ram? apa kamu masih mencurigai anak itu sebagai peneror Rara selama ini?" tanya Dyah penasaran.
__ADS_1
"Sarah diculik beberapa yang lalu Ma, dan aku mencurigai Iyan adalah pelakunya karena ia yang terakhir bersama Sarah sebelum insiden itu terjadi."
"Astagfirullah. Kok bisa sih?"
"Untuk itu aku ingin tahu siapa Iyan sebenarnya Ma, apa mungkin keluarga kita punya hubungan dimasa lalu." ujar Rama kemudian meminum teh hangat buatan mama mertuanya itu agar tenggorokannya lebih nyaman.
"Ia adalah putra tunggal dari seorang pengusaha sukses di kota ini, Tetapi belakangan mama baru dengar dari teman arisannya mama kalau orang tua Iyan single parent, tak ada yang tahu siapa nama ayahnya dan juga ternyata mamanya habis dirawat di Rumah Sakit Jiwa."
Deg
Rama seketika merasa hatinya tiba-tiba tidak nyaman. Pikirannya semakin melanglang jauh memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.
"Mama tahu siapa nama mamanya Iyan?" tanya Rama hati-hati.
"Kalau tidak salah namanya adalah Shasi Aurora. Ia pasti sangat cantik diwaktu mudanya karena sampai sekarang ia masih sangat cantik." ujar Dyah kemudian membuka handphonenya dan memperlihatkan foto-foto Seorang Sashi Aurora di sosial media. Rama hanya memandang gambar itu dengan pandangan dingin. Pikirannya belum bisa menemukan benang merah dari kerumitan ini.
Drrrrt
Drrrrrt
"Ya Halooo," ujar Rama saat ia menerima panggilan itu yang ternyata dari Papanya.
"Ram, posisi Sarah sudah bisa terlacak dari GPS yang ia kirimkan. Kami segera kesana bersama Polisi. Papa tunggu kamu nyusul "
Tut.
Rama segera berdiri dan pamit kepada Mama mertuanya.
"Ma, lokasi Sarah sudah ditemukan. Mohon doanya supaya ia selamat." ujar Rama kemudian pergi dari sana menuju lokasi yang dikirimkan papanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍