
Rama mencari istrinya di seluruh ruangan di rumah itu namun tidak menemukannya di manapun. Semua pelayan juga sudah ikut mencari.
"Padahal tadi sama-sama buka kado kan, kok bisa langsung ngilang sih." gumam Rama frustasi. Eh, teringat akan kado ia langsung berlari ke ruangan yang ditempati semua kado pernikahannya itu. Dengan tak sabar ia membuka pintu dan menemukan Rara di dalam sana sedang tak sadarkan diri.
"Ra' bangun sayang, Mama...Rara Ma.." teriaknya panik memanggil semua orang yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ada apa Ram? kok teriak-teriak sih?" tanya Vita ikut panik. Ia kemudian mengikuti langkah putranya ke dalam ruangan yang mereka semua kunjungi tadi. Disana ia bisa melihat Rara sedang berbaring di lantai tak sadarkan diri. Ia segera memercikkan sedikit air ke wajah menantunya itu.
"Apa Rara kurang tidur semalam Ram?" tanya Vita dengan pandangan tajam. Ia takut putranya itu memaksa menantunya melayani hasratnya yang tak berkesudahan itu.
"Tidak Ma, Rara nyenyak sekali. sampai kupindahkan ia dari kamar Sovia ia tak bangun juga." jawab Rama membela diri.
"Lalu kenapa bisa seperti ini sih, hubungi dokter secepatnya Ram!" seru Vita panik.
"Iyya ma," jawab Rama tapi sebelumnya ia mengangkat tubuh istrinya itu terlebih dahulu ke kamarnya yang kebetulan berseberangan dengan ruangan itu.
Rama masih sibuk mondar-mandir dengan perasaan khawatir di dalam kamarnya sendiri sambil sesekali melirik apa yang dokter Sukmawati lakukan pada istrinya yang sudah tersadar beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana dokter?" tanya Rama saat dokter seumuran mamanya itu bersiap untuk pulang.
"Ia baik-baik saja. Tensi dan suhu badan normal. Hanya mungkin ia sedang shock karena melihat sesuatu yang menakutkan hingga ia kaget dan pingsan.
"Oh begitu ya dokter." ujar Rama masih dengan wajah bingung. Apa mungkin ada yang membuat istrinya takut saat membuka kado-kado itu? pikirnya dalam hari.
"Apa Rara mengatakan sesuatu dokter? sewaktu tersadar tadi?" tanya Rama lagi penasaran.
"Hum, ia hanya menangis dan katanya ada darah." jawab dokter Sukmawati sambil menatap Rama serius.
"Saya yakin istrimu ada trauma mendalam dengan darah, dekati dia baik-baik, ajak bicara jangan sampai ini mempengaruhi psikologisnya terlalu lama."
"Baik dokter." ujar Rama kemudian kembali masuk ke kamar setelah dokter keluarga mereka itu pulang.
__ADS_1
"Kak, ada apa sih?" tanya Sarah ikutan khawatir. Ia duduk di atas ranjang sembari mengelus tangan Rara lembut.
"Iyya sayang, kamu biasa pingsan ya?" tanya Vita sambil menatap wajah menantunya yang masih kelihatan pucat. Rara hanya diam kemudian menatap semua orang satu persatu dan berhenti pada sosok tinggi dan tampan suaminya. Air matanya keluar dan badannya kembali gemetar. Vita segera meraihnya dalam pelukan. Ia ingin menjadi seorang mama untuk putrinya itu
"Yang tenang sayang, kalau belum mau cerita bisa nanti aja. Sepertinya kamu juga belum sarapan kan?" ujar Vita sembari mengelus lembut punggung Rara sang menantu.
"Sarah, bawakan sarapan ke sini sayang untuk kakak iparmu."
"Iyya ma." jawab Sarah dan langsung melompat turun dari ranjang kemudian menuju dapur untuk mengambil sarapan untuk Rara sang kakak ipar.
"Ram, sini deh temani istrimu." panggil Vita kepada Rama yang masih berdiri di tempatnya tadi. Ia masih terlalu shock melihat keadaan istrinya itu. Padahal ia juga pernah melihat Rara pingsan karena kecapekan berlomba dengannya ke nirwana. Tapi ini kasusnya beda karena ada rasa takut dan gelisah di mata istrinya itu. Ia pun melangkah mendekati ranjang dimana istrinya berbaring dengan pandangan kosong.
"Mama keluar dulu ya, ingat jangan sampai Rara memikirkan yang tidak-tidak." ujar Vita kemudian keluar dari kamar putranya itu.
"Ra' gimana perasaan mu sayang?" tanya Rama lembut kepada sang istri yang masih diam saja. Ia menutup matanya seakan ingin menghilangkan bayangan -bayangan buruk yang berkelebat di kepalanya.
"Rara, lihat aku sayang." ujar Rama dan mengarahkan Wajah istrinya ke hadapannya tetapi Rara masih bertahan menutup matanya rapat.
"Ra' ada apa?" bisik Rama masih dengan posisi seperti itu. Tubuh Rara kembali gemetaran lagi karena takut. Bayangan kado yang berisi tetesan darah di atas fotonya yang sudah menghitam dan mengeluarkan bau anyir itu membuatnya histeris kembali.
"Aaaaaaaaa, aku takut Ram." ujarnya kemudian memeluk erat tubuh suaminya. Rama berusaha menenangkan dirinya dengan mengelus lembut punggungnya sampai ia kembali tenang.
"Tenanglah sayang, aku di sini dan tak akan kemana-mana." bisik Rama dikuping istrinya.
"Kak Ram ini sarapannya." ujar Sarah yang baru masuk ke kamar itu dan menyaksikan kakaknya sedang berpelukan dengan istrinya. Dengan perlahan ia simpan nampan yang berisi makanan untuk kakak iparnya dan segera keluar dari sana dengan langkah pelan. Ia tak mau mengganggu keromantisan pengantin baru itu.
Dyah dan Ilhamsyah tiba di rumah kediaman Raditya sang besan karena mendapat berita dari Vita Maharani kalau putrinya lagi sakit.
"Mas, ke khawatiran ku terbukti kan, Rara lagi ada masalah. Pantas perasaanku tidak nyaman." keluh Dyah dengan wajah khawatir. Mereka berdua memasuki rumah mewah dan luas itu dengan langkah cepat. Setelah di tunjukkan oleh pelayan dimana kamar Rara berada. Dyah langsung masuk setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Ra' ada apa sayang? kenapa bisa begini?" tanya Dyah dengan pertanyaannya yang beruntun.
__ADS_1
"Mama." panggil Rara kemudian merentangkan tangannya meminta dipeluk oleh sang mama.
"Cup cup, jangan nangis ya. Kamu gak usah terlalu ngoyo layanin suamimu akhirnya pasti begini kan jadinya, kamu sakit, Hem." ujar Dyah ngedumel. Ia pikir Rara sakit karena terlalu banyak itu. Maklum pengantin baru.
Rama langsung tidak nyaman sendiri dengan tuduhan sang mama mertua. Rasanya mama Vita juga awalnya menuduhnya seperti itu.
"Hemmm." ia menarik nafas berat.
"Mama datang sama siapa?" sapa Rama berbasa-basi.
"Sama papanya Rara. Aku kasih tahu ya Rama. Kamu itu pelan-pelan saja kasihan istrimu." lanjut Dyah masih sedikit kesal.
"Mama bikin aku malu ma," timpal Rara cepat. Ia tak mau Rama selalu disalahkan akan kondisinya sekarang.
"Ma, aku sakit karena mendapat kado misterius yang sangat menakutkan Iiiii." ujar Rara bergidik.
"Kado misterius? jadi pengirimnya gak ketahuan siapa gitu?" tanya Dyah lagi penasaran.
"Iyya ma." jawab Rara sambil menahan rasa takut yang sepertinya akan muncul lagi.
"Mama mau lihat kadonya seperti apa. Coba Rama tunjukin ke mama."
"Rama gak tahu ma, cuma aku sendiri yang melihatnya. Aku lempar ke bawah sofa di ruangan sebelah." jelas Rara.
Akhirnya mereka berdua pun keluar dan mencari kado yang dimaksud. Dan sungguh Dyah langsung shock karena ia juga menerima kado yang sama persis dengan ini. Semua saling bertatapan dengan pikiran masing-masing. Gala, Ilhamsyah, Rama, dan Dyah memutar otak mencari tahu siapa gerangan yang berani bermain-main dengan keluarga Raditya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1