
"Rama!" sekali lagi bentakan Gala membuat semua orang di sana terpaku dan terdiam. Hanya keluhan kesakitan dari Sovia yang kedengaran di udara.
"Jaga ucapanmu! Kamu sangat tidak sopan!" lanjut Gala dengan emosi di wajahnya. Rama hanya menunduk dengan tangan terkepal marah. Emosinya tersulit karena Andika malah ingin menantangnya.
"Sudah, ayo cepat bawa Sovia ke Rumah Sakit." ujar Vita mencoba menenangkan situasi yang semakin memanas.
"Mama...sakit ma..hiks." keluh Sovia meringis meremas pinggang belakangnya. Andika segera mengangkat tubuh istrinya dibantu oleh Gala sang papa mertua.
"Sabar sayang, insyaallah kamu dan bayimu akan baik-baik saja." ujar Vita menciumi wajah putrinya dengan sayang. Ia membisikkan kalimat-kalimat penghiburan di telinga putrinya yang masih merasakan kesakitan yang sangat.
"Aku ambil mobil." ujar Reno dan segera mendahului orang-orang ke arah pintu yang menuju keluar rumah.
"Mas, aku yang salah, hiks." ujar Rara yang masih berdiri di sana bersama suaminya. Ia menangis dan bahkan berjongkok mengambil kain untuk membersihkan noda darah di lantai dari tubuh Sovia sahabatnya tadi.
"Maaf nyonya muda. Biarkan kami yang membersihkan." ujar salah seorang pelayan yang segera membawa alat pel untuk membersihkan noda-noda darah yang sedang dibersihkan Rara istri dari tuan muda Rama.
"Berdirilah." ujar Rama dengan wajah datar. Ia merengkuh tubuh istrinya yang masih menangis dan terus menerus merasa bersalah.
"Sudah, Sovia pasti kuat. Ia dan bayinya akan baik-baik saja." ujarnya memberi hiburan pada istrinya dan dirinya sendiri.
"Tapi mas..."
"Sssst!" Rama menyentuh bibir Rara dengan jari telunjuknya.
"Kita doakan sama-sama. Ayok ke kita ke kamar."
"Iyya mas, tapi ada baiknya kita ikut ke rumah sakit, melihat keadaan Sovia."
"Tidak perlu. Kita tunggu saja kabarnya dari Sarah atau yang lainnya." Rara pun tidak ingin membantah. Ia mengikuti langkah suaminya memasuki kamar pribadi mereka berdua.
"Lho mas, kok bawa koper?" tanya Rara pada suaminya ketika melihat pria tampan itu mengambil beberapa potong pakaian dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam sebuah koper berukuran besar.
"Mau kemana mas?" tanya Rara hati-hati.
"Siapkan pakaianmu. Kita keluar dari rumah ini." jawab Rama tanpa mau melihat wajah istrinya. Ia terus sibuk memasukkan apa saja ke dalam koper itu.
__ADS_1
Sedangkan Rara setelah lama terdiam akhirnya mengambil juga kopernya dan memasukkan barang-barangnya. Ia yakin suaminya mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukan ini. Dan meskipun hati kecilnya menolak ia akan tetap mengikuti apapun perintah suaminya.
π
Di Rumah Sakit.
Sovia segera ditangani oleh dokter terbaik di ruang tindakan. Semua orang yang mengantar ke sana tak henti-hentinya melafazkan doa dan pengharapan agar kondisi Sovia yang sedang hamil tua itu baik-baik saja.
Semua orang menghambur ke arah pintu ruangan tindakan ketika dokter yang menangani Sovia muncul di ambang pintu.
"Suami pasien?" tanya dokter mencari orang yang paling bertanggung jawab pada ibu hamil yang masih terbaring di dalam sana.
"Saya dokter." jawab Andika cepat.
"Istri anda sudah melewati masa kritisnya."
"Alhamdulillah ya Allah." ujar Andika penuh syukur.
"Kondisi bayi baik-baik saja, Dan juga karena usia kehamilan sudah sangat matang. Maka kami menyarankan agar keluarga menyetujui untuk operasi Caesar saja." ujar sang dokter meminta pendapat semua anggota keluarga yang ada di sana.
"Iya dokter. Kami semua setuju, yang penting ibu dan anak selamat." lanjut Andika menyetujui ucapan mama mertuanya.
"Baiklah, silahkan isi administrasinya di bagian sana ya, Dan kami akan segera mempersiapkan proses operasinya."
"Baik, terima kasih banyak dokter." ucap semuanya kompak. Dokter itupun berlalu dari hadapan para anggota keluarga pasien. Ia menutup pintu ruangan itu dan segera mempersiapkan pasien yang akan ditindak.
"Semoga Sovia bisa melalui semua ini." ujar Vita pelan.
"Iyya sayang, tante berdoa mereka berdua selamat." jawab Ninick sembari menyentuh tangan Vita lembut.
"Terima kasih tante." Vita membalas dendam meremas tangan Ninick lembut.
"Menantumu itu perlu dikasih pelajaran etika Vit. Suka berbuat semaunya, eh ini malah didukung oleh suaminya, gak nyangka aku kalau Rama bisa sangat kurang ajar seperti itu." Miska mondar-mandir di depan semua orang tak berhenti menyalahkan Rara dan Rama.
"Miska!" tegur Gala dengan pandangan mata tajam. Ia tak rela putranya dijelek-jelekkan di depan hidungnya sendiri.
__ADS_1
"Lah emang benar kan? untunglah kakak tadi negur dia, coba kalau tidak? hari ini kita semua menunggui 2 pasien di depan sini." lanjut Miska tak berhenti mengomel. Ia membayangkan Rama benar-benar mematahkan tangan Andika sesuai perkataannya.
"Miska! sekali lagi kamu bicara terus seperti itu. Aku akan menyuruh suamimu membawamu pulang saja." geram Gala dengan berusaha bersabar.
Miska terdiam. Ia tahu bagaimana sifat Gala yang sangat tegas, kalau ia melanjutkan marah-marahnya maka bisa dipastikan ia sudah tidak berada di sana meskipun ada Reno sang suami yang akan membelanya.
"Mas, sepertinya kamu harus ke kantin mencari yang segar-segar." ujar Vita merelai perdebatan dua sepupu dan juga besan itu. Gala tersenyum lembut pada istrinya. Vita memang selalu bisa membuatnya tenang dan adem.
"Ada yang mau minuman dingin gak?" tanya Vita menatap semua orang yang masih dalam keadaan tegang. Tak ada yang menjawab. Akhirnya ia menyeret suaminya agar segera menjauh dari tempat yang masih dipenuhi aura panas dan gampang tersulut emosi itu.
"Doa kita semua akan memudahkan Sovia melalui ini semua." ujar Ninick dengan senyum teduhnya.
"Aamiin eyang." jawab Andika kemudian duduk di samping sang eyang kesayangan yang bisa lebih sabar dan menenangkan daripada mamanya sendiri.
"Miska, duduklah!" tegur Reno karena mulai pusing dan jengah dengan tingkah Miska yang sibuk mondar-mandir di depannya bagai setrikaan.
"Sebaiknya kamu tenang dan berdoa. Jangan cuma marah tidak jelas seperti itu." lanjut Reno yang mulai tidak sabar. Ia memaksa Miska untuk duduk di sampingnya menunggu operasi Caesar Sovia selesai.
Tak lama kemudian Vita dan Gala muncul dan ikut bergabung dengan mereka. Sarah dan Adam mengikut di belakang mereka dengan membawa berbagai macam minuman dingin berisotonik agar mereka semua bisa segera segar dan adem.
Drrrrrt
Drrrrrt
Sarah membuka layar handphone dan melihat sebuah pesan masuk dari Rara sang kakak ipar.
Bagaimana keadaan Sovia, Sar?
Dengan lincah jari-jarinya membalas kalau Sovia sedang menjalani operasi Caesar. Tak lama kemudian datang lagi balasan dari Rara.
Semoga Sovia dan bayinya selamat. Dan sampaikan permohonan maaf kami. Love You allπππ
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ