Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 211 Tokyo Love Story


__ADS_3

Andhika semakin merapatkan tubuhnya pada Sovia. Getaran multi power itu semakin kuat menyerangnya. Ini pertama kalinya ia dalam posisi seperti ini dengan gadis yang sudah ia peristrikan beberapa jam yang lalu.


Andika tak punya pengalaman menyentuh perempuan sampai sedekat ini. Ia hanya mengikuti instingnya saja. Tangannya mulai bergerak ke pinggang ramping Sovia yang sedang memakai pakaian kasual setelah melepaskan mantelnya di atas ranjang.


"Sovi, aku mencintaimu." bisik Andika kemudian mengecup lembut bibir istrinya yang agak tebal dan seksih itu. tangannya yang satu lagi menekan tengkuk Sovia agar ia bisa lebih menyentuhnya lebih dalam dan mengeksplorasi nya lebih bebas.


Sovia masih sangat kaku karena ini juga pertama kalinya ia diperlakukan sangat lembut seperti ini oleh seorang pria. Ia hanya membuka mulutnya sedikit dan membiarkan suaminya memimpin.


"Balas aku Sov." bisik Andika dengan suara parau. Gadis itu hanya meremas rambut suaminya dengan kuat, tak mampu membalas karena sudah kehabisan oksigen. Perlahan Andika melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap wajah istrinya yang kemerahan karena malu.


"Sovia, kamu cantik sekali, aku sangat mencintaimu." sekali lagi Andika mengucapkan kalimat indah itu di depan perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu. Tangannya bergerak ingin menyentuh kembali istrinya itu tetapi Sovia menjauhkan tubuhnya.


"Astagfirullah. kIta bahkan belum sholat magrib dan isya." ujar Sovia yang baru sadar kalau sejak tiba di bandara Haneda Tokyo pada pukul 18.40 yang lalu mereka belum melakukan sholat magrib.


Ia melihat jam tangannya kemudian melanjutkan, "Sekarang waktu isya juga sudah masuk."


Andika menyentuh bibir Istrinya itu dengan ibu jarinya, menghapus sisa salivanya di sana sambil tersenyum,


"Kalau begitu kita sholat dulu. dijamak ya." ujarnya kemudian bersiap ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Sementara menunggu suaminya bersuci, Sovia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Rama yang kebetulan posisinya hanya bersisian.


Tok


Tok


Tok


Lama ia mengetuk pintu itu hingga Rama membukanya dengan wajah siap marah. Ia pasti mengira kalau yang datang adalah layanan kamar.


"Sovi?" ujarnya dengan suara penuh tanya. Ia sungguh merasa terganggu dengan kedatangan adik perempuannya itu, yang ternyata telah membuatnya menghentikan kegiatan menyenangkan bersama Rara di dalam sana.


Sovia menatap pakaian kakaknya yang cukup berantakan dan terbuka di bagian dada dengan rambut yang sudah tidak rapi lagi seperti biasanya. Otaknya membayangkan apa yang baru saja dilakukannya bersama Andika pasti sedang dilakukan juga oleh Rama bersama istrinya itu.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu kak?" tanya Sovia pura-pura polos. Bibirnya tersenyum samar.


"Sangat! kamu sangat menggangu." jawab Rama sedikit kesal. Ia bahkan tidak mempersilahkan adiknya itu masuk ke kamarnya takut Sovia melihat penampilan Rara yang sedang kacau.


"Ada apa?" tanya nya lagi masih dengan suara ketus.


"Kakak udah sholat magrib dan isya?" tanya Sovia pelan sembari menatap wajah kakaknya yang sepertinya masih kesal akan kedatangannya.


"Astagfirullah!" seru Rama sambil menepuk jidatnya. Ia dan Rara lupa melakukan kewajibannya itu saking senang dan semangatnya berbulan madu di tempat baru ini.


Ia jadi teringat pesan mamanya, bahwasanya apapun yang terjadi dan dimanapun kamu berada jangan tinggalkan sholatmu.


"Kami sholat dulu ya Sov. Makasih sudah mengingatkan." ujar Rama kemudian mengacak rambut adiknya.


"Iyya kak. Aku dan Andika juga baru mau sholat."


"Baiklah, kamu kembali ke kamarmu."


Rama menutup pintu kamarnya kemudian mengajak Rara untuk sholat bersama.


🍁


Malam itu mereka menikmati makan malam di restoran hotel dan memesan makanan halal untuk mereka makan.


Meningkatnya jumlah wisatawan Muslim ke Jepang setiap tahun dan standar tinggi sertifikasi halal di Brunei menyuguhkan banyak peluang investasi bagi kedua negara tersebut.


Hal itu membuat Jepang tertarik untuk mengadopsi Standarisasi Halal dari Brunei. Pasalnya, dari laporan Japan National Tourism Organization, sebagian besar dari sekitar 19,7 juta wisatawan yang berkunjung ke Jepang adalah mayoritas Muslim.


"Mas, aku mau beef teriyaki dan Nikujaga plus nasi putih." ujar Rara saat Rama menanyakan makanan yang ia ingin pesan.


"Aku juga kak." timpal Sovia mengikuti pilihan kakak ipar sekaligus sahabatnya.


"Okey kami pesan itu saja, empat porsi." ujar Rama pada seorang waiters yang sedang mencatat pesanan mereka.

__ADS_1


Setelah makan malam selesai, kedua pasangan bulan madu itu kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan kegiatan menyenangkan yang sempat tertunda tadi.


"Ra' kok malah tidur sih?" tegur Rama sedikit kesal karena sesampainya mereka di kamar. Rara malah siap untuk tidur. Perempuan berambut kriwil itu sudah masuk ke dalam selimut tebal tanpa mengganti pakaiannya.


"Lho, ini sudah tengah malam. Kita mau tidur kan." jawab Rara sembari menguap. Perutnya yang sudah kenyang membuatnya langsung mengantuk.


"Aku mau melanjutkan yang tadi, ayo jangan tidur dulu." ujar Rama kemudian menarik selimut yang.dpakai oleh istrinya.


"Mas, ngantuk. Besok saja ya, plis." ujar Rara sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya kemudian menguap lagi. Ia berharap suaminya mau mengerti kalau ia benar-benar lelah dan belum bisa melayaninya malam ini.


"Baiklah. Tidurlah." ujar Rama singkat. Ia menyimpan kembali selimut itu ke atas ranjang. Dan meninggalkan Rara yang terdiam.


"Ikhlas gak nih? aku takut dikutuk malaikat lho mas." ujar Rara yang akhirnya lompat dari tempat tidur dan menghampiri suaminya.


"Iyya, ikhlas. Sana tidur katanya ngantuk."


"Makasih mas. Aku tidur ya. Jangan kemana-mana." ujar Rara kemudian mengecup singkat bibir suaminya. Ia dengan langkah ringan menuju ke tempat tidur untuk segera menjemput mimpinya. Sementara itu Rama hanya bisa menarik nafas panjang, berharap ia bisa tidur malam ini meskipun belum mendapatkan yang ia mau.


Waktu yang sama di kamar berbeda. Sovia sudah mulai tak sadar kalau Andika, suaminya sudah berhasil melucuti semua kain yang ia pakai sebagai pelindung tubuhnya.


Sentuhan-sentuhan yang Andika berikan pada istrinya itu membuatnya seakan melayang dan lupa segalanya.


Rupanya meskipun tak berpengalaman pria berstatus sebagai sauminya itu lihai juga membuat Sovia mendeesah dan mengerang nikmat dibawah kungkungannya.


Andika semakin bersemangat melaju dan menghentak setelah berhasil merobek pertahanan yang dimiliki istrinya itu. Hingga mereka berdua tumbang dengan lelah yang sangat terasa.


"Terima kasih banyak Sovia, Aku mencintaimu." ujar Andika dengan senyum di wajahnya. Ia mengecup lembut kening istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2